Tautan-tautan Akses

AS

Beberapa Masjid di Houston Jadi Tempat Penampungan bagi Korban Harvey

  • Elizabeth Lee

Relawan Islamic Society of Greater Houston menyerahkan paket bantuan di sebuah masjid yang digunakan sebagai tempat berteduh bagi para korban badai Harvey, Kamis, 31 Agustus 2017. Komunitas Muslim Houston, yang diperkirakan 200.000 orang, telah membuka banyak pusat komunitasnya dan mengirim ratusan relawan untuk menyalurkan dana dan bantuan pangan.

Banjir mulai surut di Houston, tetapi banyak jalan raya dan pemukiman yang terletak di dekat bendungan dan waduk masih terendam air. Banyak pengungsi tinggal di tempat-tempat penampungan.

Beberapa masjid di kota Houston, Texas ikut menyediakan tempat penampungan bagi masyarakat luas. Para sukarelawan dan penghuni sementara di salah satu masjid di Houston barat belajar sesuatu yang mereka tidak perkirakan sebelumnya.

Melewatkan waktu di tempat penampungan tidak mudah bagi korban banjir yang tidak tahu pasti kapan mereka bisa pulang ke rumah. Sara Al Azaat yang berusia 19 tahun asal Arab Saudi, baru berada di Houston selama empat bulan.

“Di tempat saya berasal kami tidak pernah mengalami badai seperti ini. Kami tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Ketika banjir datang, ini merupakan pengalaman yang mengubah kehidupan kami,” ungkap Sara.

Sara Al Azaat, yang ibunya berasal dari Indonesia dan ayahnya dari Suriah, berada di Houston bersama keluarga dan sepupunya. Meskipun anak-anak bermain di sana, tetapi semua orang dewasa ingin segera bisa kembali ke rumah dan belum tahu kapan perintah wajib evakuasi akan dicabut. Tetapi mereka merasa aman dan dikelilingi oleh kebaikan.

“Kami sangat takjub. Begitu banyak orang datang untuk tinggal di tempat penampungan sementara ini. Faktanya, ada orang datang dan mengajak mereka yang berada di tempat penampungan ini untuk tinggal bersama mereka. Kami sangat tersentuh dengan hal ini,” kata Ilyan Choudry.

Warga di Houston barat yang tidak dilanda banjir, telah datang ke tempat penampungan ini untuk menyumbangkan barang-barang seperti selimut dan alas tidur, juga mainan anak-anak. Bagi sebagian orang yang datang, ini pertama kali mereka masuk ke masjid.

“Saya tidak pernah masuk ke masjid sebelumnya. Saya sedikit khawatir pintu mana yang harus diketuk. Seorang perempuan muda menemui saya di tempat parkir dan menunjukkan kepada saya pintu masuk ke masjid,” ujar Gina Mandell.

“Orang-orang dari semua agama, datang bersama-sama. Mereka hanya bekerja karena kemanusiaan. Bukan karena hal lain. Hanya manusia yang saling bantu membantu. Dan kemudian kita belajar dari orang yang berbeda karena setiap orang memiliki latar belakang berbeda, proses pemikiran berbeda dan kami banyak belajar dari hal-hal ini,” tambah Ilyas.

Bagi Gina Mandell, datang ke mesjid ini menghilangkan prasangka tertentu. Ia menambahkan, “Laki-laki Muslim jauh lebih hangat dari yang saya bayangkan. Saya selalu menilai kaum perempuan Muslim baik dan hangat, tetapi saya cenderung menjauhi laki-laki Muslim karena saya tidak tahu tradisi dan apa yang harus saya lakukan dengan benar.”

Ilyas Choudry juga banyak belajar dari hal ini.

‘’Mereka manusia. Mereka teman kita dan mereka ingin membantu kemanusiaan tanpa diskriminasi apapun, tanpa rasa takut, tanpa apapun. Mereka hanya ingin membantu orang-orang,” katanya.

Sara Al Azaat mengatakan pengalamannya di tempat penampungan ini tidak seperti retorika anti-Muslim yang dilihatnya di media.

“Orang-orang yang bukan berasal dari agama Islam datang dan memberi sumbangan. Hal ini memberi saya perspektif berbeda tentang Amerika,” imbuh Sara,

“Anda benar-benar sangat baik, sebagai warga non-Muslim datang kesini dan memberi sumbangan bagi kami. Saya sangat berterima kasih,” kata Joud Al Azaat.

Para sukarelawan mengatakan menyingkirkan hambatan dan bekerjasama akan membuat komunitas itu jauh lebih kuat ketika mereka membangun kembali kota itu pasca banjir. [em/jm]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG