Tautan-tautan Akses

Maraknya Politisasi Isu SARA, NU dan Gusdurian Serukan Politik Beretika


Ketua PBNU KH Imam Aziz (Kiri) berbicara mengenai persoalan kebhinnekaan di Indonesia pada pertemuan dan jambore Gusdurian Jawa Timur di Pura Segara, Kenjeran, Surabaya Minggu (15/4). (Foto: VOA/Petrus Riski)

Suhu politik di Indonesia pada tahun 2018 ini semakin menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi, dilihat dari semakin maraknya pernyataan-pernyataan dari politisi yang menampilkan isu agama, kesukuan, dan keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia sebagai alat kepentingan sesaat.

Sejumlah organisasi kemasyarakatan menyerukan agar para politisi tidak bermain isu perbedaan hanya untuk memperoleh kekuasaan, namun mencederai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Aziz, mengajak masyarakat semakin bijak dan cerdas dalam menyikapi tahun politik Pilkada 2018 dan Pilpres Pileg 2019. Hal ini terkait maraknya pemakaian isu agama, suku, ras, dan keberagaman yang ada di Indonesia, untuk kepentingan politik kekuasaan.

Imam Aziz mengajak masyarakat pemilik hak suara dalam Pemilu, untuk lebih mempertimbangkan program dan komitmen para calon, tanpa harus memperhatikan latar belakang agama maupun kesukuan.

“Ini kan program politik regular ya, biasakan kita melakukan kegiatan politik ini dengan biasa-biasa saja, lebih pada menonjolkan program-program dari pada isu-isu agama, kesukuan dan lain-lain, karena ini menyangkut program. Jadi lihat programnya, jangan lihat pada agama atau suku-sukunya. Kita harus semakin hari semakin pintar, semakin cerdas dalam memilih,” kata Imam Aziz.

Suhu politik beberapa hari terakhir semakin memanas dengan munculnya sejumlah pernyataan dari para tokoh politik di Indonesia, yang menyinggung persoalan agama dan keyakinan, maupun suku atau etnis.

Koordinator Jaringan Gusdurian Nasional, Alissa Wahid mengatakan, dipakainya isu sentimen agama oleh sejumlah politisi untuk memperoleh kekuasaan, menunjukkan rendahnya etika moral yang dimiliki para politisi itu. Hal ini karena para politisi yang hanya memikirkan kekuasaan dan kepentingannya, tidak menyadari bahwa apa yang diperbuat justru melukai bangsa Indonesia hingga waktu yang panjang.

Maraknya Politisasi Isu SARA, NU dan Gusdurian Serukan Politik Beretika
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:03 0:00

“Tentu yang kita harapkan adalah para politisi tidak menggunakan sentimen agama untuk perebutan kekuasaan, karena kita tahu sentimen antar kelompok pada dasarnya sesuatu yang sangat alamiah, tetapi dia akan menjadi bahan bakar yang sangat mudah meledak, ketika dikaitkan dengan perebutan kekuasaan. Bahwa perbedaan sikap, perbedaan keyakinan itu hal yang lumrah dan tidak akan menjadi persoalan kecuali kalau ada perebutan kekuasaan. Jadi yang kita harapkan tentu saja para politisi untuk punya etika moral, sehingga mereka tidak menggunakan sentimen-sentimen yang akan melukai jangka panjangnya bangsa ini, hanya untuk kepentingan lima tahunan. Jangan sampai yang lima tahun itu melukai bangsa Indonesia sampai seumur hayatnya,” papar Alissa.

Pernyataan yang dilontarkan politisi Amien Rais yang menyebut adanya kelompok pendukung partai Allah dan partai setan, merupakan contoh penggunaan sentimen agama untuk kepentingan kekuasaan sesaat.

Koordinator Jaringan Gusdurian Nasional, Alissa Wahid berbicara pada pertemuan dan jambore Gusdurian di Pura Segara, Surabaya Minggu 15/4 (Foto: VOA/Petrus Riski).
Koordinator Jaringan Gusdurian Nasional, Alissa Wahid berbicara pada pertemuan dan jambore Gusdurian di Pura Segara, Surabaya Minggu 15/4 (Foto: VOA/Petrus Riski).

Menurut Alissa Wahid, penyataan politisi Amien Rais itu dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Seharusnya setiap elemen bangsa bersatu dalam keberagaman, untuk membangun dan memajukan Indonesia.

“Bagi saya mengkhawatirkan, karena tokoh sekaliber pak Amien Rais tentu kita berharap beliau bisa mengayomi seluruh rakyat, justru tidak kemudian membuat sekat-sekat yang semakin mempertegas itu. Tetapi, sikap beliau itu juga refleksi apa yang terjadi di masyarakat, sikap bermusuhan, prasangka, kebencian kepada kelompok yang berbeda. Nah ini yang kita harus berkompetisi dengan kondisi Indonesia yang seperti ini sekarang. Jadi mereka-mereka yang menginginkan Indonesia itu tetap berada pada nilai atau nafas keberagaman dalam persatuan, itu sekarang juga harus bekerja ekstra kuat,” imbuhnya. [pr/em]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG