Tautan-tautan Akses

Pancasila untuk Tangkal Perpecahan Bangsa


Diskusi Warkop Anak Bangsa di Balai Paroki St. Aloysous Gonzaga, Surabaya membahas peran kaum muda dalam merawat kebhinnekaan dan kerukunan. (Foto: VOA/Petrus Riski).

Maraknya berita bohong atau hoax (hoaks) telah sering membuat masyarakat keliru memperoleh informasi. Yang memprihatinkan, kaum muda yang akrab dengan peralatan teknologi informasi, sering ikut menjadi penyebar informasi yang tidak benar itu. Bagaimana kaum muda menyikapinya?

Warkop Anak Bangsa di Surabaya mengajak orang-orang muda berdialog dalam diskusi yang menghadirkan tokoh lintas agama.

Timbulnya benih perpecahan dalam masyarakat sering berawal dari rangkaian informasi yang beredar, yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan namun telah menyebar luas. Fakta ini sering mencuat menjelang Pilkada, sewaktu isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dijadikan dagangan politik.

Baca juga: Penggunaan Isu SARA dalam Politik Perlu Ditindak Tegas

Menurut Muhamad Nursalim, aktivis lintas agama dan Ketua LSM Jamal Lamongan, mengungkapkan, kaum muda dapat mengatasi persoalan berita bohong yang beredar, bila memahami hakekat bangsa Indonesia yang kaya dengan perbedaan atau keberagaman, yang tidak perlu dipertentangkan.

“Kita harus menyakinkan kepada anak muda bahwa perbedaan itu rahmat, perbedaan itu menjadikan kita menjadi besar, karena kenapa anak muda gampang terkena hoax-hoax seperti itu, kita tidak pernah flashback terhadap sejarah, karena semua kehidupan itu selalu berulang. Sejarah nusantara kita punya peradaban tertinggi karena 500 agama hidup, keyakinan di rawat, walaupun waktu itu agama Hindu-Siwa yang mayoritas tapi mereka tidak merasa mayoritas, semuanya diakui,” kata Muhamad Nursalim.

Kaum muda lintas agama mengikuti diskusi merawat kebhinnekaan dan kerukunan di Balai Paroki St. Aloysius Gonzaga, Surabaya. (Foto: VOA/Petrus Riski).
Kaum muda lintas agama mengikuti diskusi merawat kebhinnekaan dan kerukunan di Balai Paroki St. Aloysius Gonzaga, Surabaya. (Foto: VOA/Petrus Riski).

Menghadapi masifnya informasi yang salah melalui media siber, menurut Nursalim, kaum muda tidak berdiam diri. Kaum muda harus berani mengatakan kebenaran melalui media apa pun.

“Anak muda sekarang harus bergerak, karena yang benar diam, itu bukan berarti istilahnya orang Jawa, ‘yang waras itu ngalah’, tapi yang dimaksud yang waras ngalah itu tidak berbuat seperti mereka, tetapi melakukan sesuai keyakinannya untuk apa yang benar. Jadi selama ini saya melihat anak muda itu kan defensive, kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan, mereka lebih baik diam daripada ribut,” lanjutnya.

Romo Aloysius Budi Purnomo, dari Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Keuskupan Agung Semarang mengatakan, peran kaum muda sangat penting dalam melawan peredaran kabar bohong. Kaum muda harus bisa melihat kebaikan-kebaikan yang muncul di tengah masyarakat , dan tidak mudah terprovokasi oleh kabar bohong dan ujaran kebencian yang beredar di masyarakat.

“Anak muda harus membuka mata pada realitas yang obyektif, pada kebenaran. Yang kedua, jangan mudah terprovokasi oleh peristiwa-peristiwa negatif, tapi d iantara bentangan begitu banyak kebaikan, jangan mau dirusak oleh itu. Yang ketiga, jangan takut untuk terus maju mewartakan kebaikan, kerukunan, kebersamaan bersama dengan siapa saja,” pesan Romo Aloysius Budi Purnomo.

Pancasila untuk Tangkal Perpecahan Bangsa
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:41 0:00

Praktisi hukum serta pengajar mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Kristen Petra Surabaya, John Thamrun mengatakan, kaum muda harus terus diberikan pemahaman mengenai nilai-nilai Pancasila, yang disesuaikan dengan bahasa komunikasi anak muda dan perkembangan zaman. Hal ini penting dilakukan agar generasi penerus bangsa tidak melupakan dan meninggalkan falsafah hidup berbangsa dan bernegara yang selama ini menjadi dasar negara.

Baca juga: 195 Tokoh Luncurkan Seruan Moral Kebhinnekaan

“Mengikuti perkembangan teknologi yang ada, Pancasila itu harus ditingkatkan relevansinya, penjabarannya kepada anak muda dengan bahasa anak muda, bukan dengan zaman seperti dahulu kala. Harus ada suatu perubahan komunikasi, di dalam penjabaran apa yang dimaksud di dalam sila-sila Pancasila itu sendiri. Bahasa anak muda yang bisa menyerap dan menerima, oh yang dimaksud di dalam sila-sila Pancasila itu seperti itu,” kata John Thamrun. [pr/ab]

XS
SM
MD
LG