Tautan-tautan Akses

Mantan Pelapor Khusus PBB Luncurkan Buku soal Palestina

  • Fathiyah Wardah

Mantan Pelapor Khusus PBB mengenai situasi HAM di Palestina, Makarim Wibisono (tengah) meluncurkan buku mengenai pengalamannya ketika menduduki jabatan tersebut di Kementerian Luar Negeri, di Jakarta, Selasa 23/5. (VOA/Fathiyah)

Makarim Wibisono, mantan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai situasi hak asasi manusia di Palestina, meluncurkan buku mengenai pengalamannya ketika menduduki jabatan tersebut. Peluncuran sekaligus diskusi buku ini berlangsung di kantor Kementerian Luar Negeri.

Mantan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Makarim Wibisono hari Selasa (23/5) menjelaskan bahwa ia menulis buku setebal 221 halaman ini karena ia merasa prihatin dengan kondisi negara Palestina. Buku ini, kata Makarim, ditulisnya berdasarkan pengalamannya sebagai pelapor khusus PBB soal Palestina.

Menurutnya, saat ini hanya Palestina adalah satu-satunya negara peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang belum merdeka. Sementara negara-negara lain sudah berhasil melepaskan diri dari penjajahan.

Makarim menekankan Palestina memerlukan solidaritas dan dukungan masyarakat internasional dalam perjuangan mereka untuk merdeka dari Israel. Lebih lanjut Makarim menjelaskan buku ini ditulis untuk memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa konflik Palestina versus Israel bukan konflik antara Islam dan Yudaisme.

Dalam buku berjudul "Diplomasi untuk Palestina: Catatan Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa" itu, Makarim menceritakan pengalamannya selama dua tahun menjadi pelapor khusus PBB mengenai Palestina. Juga berisi laporan tugasnya sebagai pelapor khusus PBB mengenai penderitaan rakyat Palestina.

"Yerusalem adalah nafas daripada kemungkinan bangsa (negara) Palestina itu lahir. Jadi bangsa Palestina lahir dengan ibukotanya Yerusalem. Kalau terjadi apa yang disebut dePalestinianisasi dari Yerusalem Timur, akan menjadi almarhum cita-cita mendirikan bangsa Palestina," papar Makarim.

Buku ini juga menceritakan tentang bagaimana Israel membatasi pergerakan rakyat Palestina dan bahkan sengaja memecah belah rakyat Palestina, termasuk memisahkan Jalur Gaza dengan Tepi Barat. Israel ujar Makarim juga membatasi warga Palestina yang ingin shalat di Masjid al-Aqsa, di mana hanya lelaki dan perempuan sudah tua boleh salat di sana. Sementara anak-anak mudanya hanya diperkenankan salat di luar.

Makarim juga mengeluhkan bagaimana pemerintah Israel menolak mengizinkannya mengunjungi Tepi Barat dan Jalur Gaza untuk mengumpulkan fakta tentang pelanggaran HAM yang dilakukan Israel, dengan alasan Makarim tidak akan bisa bersikap objektif karena berasal dari Indonesia yang selama ini konsisten mendukung perjuangan Palestina.

Memang selama ini Israel tidak pernah memberi izin masuk bagi Pelapor Khusus PBB mengenai situasi HAM di Palestina.

Mantan Rektor Univeristas Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra menilai buku karya Makarim Wibisono itu amat penting karena berisi pengalaman dari mantan pejabat penting PBB yang melihat secara jeli pelanggaran-pelanggaran HAM yang terus dilakukan oleh Israel.

"Jadi, saya kira buku ini memberikan kontribusi sangat penting bagaimana pelanggaran-pelanggaran HAM (terhadap rakyat Palestina) ini berlangsung terus. Kalau kita lihat perkembangan sekarang, ini sangat tidak kondusif. Karena itu, saya melihat ke depan mungkin pelanggaran-pelanggaran HAM ini akan meningkat," kata Azyumardi.

Azyumardi menambahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhir bulan lalu secara tegas menyatakan mendukung kebijakan apapun yang diambil oleh pemerintah Israel. Diperkirakan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Israel sangat agresif, termasuk terus membangun permukiman-permukiman Yahudi di Tepi Barat, termasuk Yerusalem, yang berstatus ilegal menurut hukum internasional.

Azyumardi mengakui tidak solidnya negara-negara Arab menyulitkan upaya Palestina meraih kemerdekaan karena negara-negara Arab yang menjadi tetangga mereka juga tidak solid memberi dukungan. Dua negara Arab - Mesir dan Yordania sudah membina hubungan diplomatik dengan Israel. Sementara sejumlah negara Arab lainnya diam-diam menjalin hubungan dagang dengan negara itu.

Posisi Palestina juga kian sulit karena dua faksi terbesar di Palestina, Hamas dan Fatah, tidak akur.

Sementara itu, Ketua Umum Indonesian Conference on Religion for Peace (ICRP) Musdah Mulia memandang buku yang ditulis Makarim Wibisono merupakan koreksi atas pemahaman sebagian besar kaum muslim di Indonesia bahwa konflik Palestina-Israel adalah konflik agama. Padahal, kata Musdah, konflik Palestina-Israel adalah konflik kemanusiaan, cerita soal penindasan Israel terhadap bangsa Palestina.

Musdah menegaskan perjuangan bangsa Palestina mesti disokong semua negara karena ini merupakan isu kemanusiaan.

"Kita melihat betapa banyak korban perempuan dan anak-anak. Karena konflik dan perang selalu membawa agenda kriminalisasi dan viktimisasi terhadap perempuan dan anak. Para aktor yang berkonflik seringkali menggunakan bentuk-bentuk pelecehan seksual, perkosaan, kekerasan, sebagai alat penundukan dan korban perempuan dan anak itu luar biasa," ujarnya.

Musdah menegaskan bila dunia internasional tidak membantu Palestina mencapai kemerdekaannya, ada jutaan anak Palestina mengalami trauma, jutaan perempuan mengalami kekerasan. [fw/em]

XS
SM
MD
LG