Tautan-tautan Akses

AS

Mantan Kepala Propaganda Al-Qaida di AS Luncurkan Majalah Anti Jihadis


Jesse Morton alias Yunus Abdullah Mohammad (foto: dok).

Jesse Morton, yang pernah menjadi kepala bagian propaganda al Qaida di Amerika, kini meluncurkan sebuah majalah anti-jihadis yang baru.

Tahun 2009 Morton, yang ketika itu menggunakan nama Yunus Abdullah Muhammad di kota New York, ikut membantu menerbitkan majalah bernama Jihad Recollections, atau Kenangan Jihad, sebuah majalah yang menarik perhatian banyak pejuang jihad muda.

Jihad Recollections yang mengutamakan foto-foto, pernah diberi julukan majalah Vanity Fair-nya al-Qaida dan mendorong terbitnya beberapa majalah serupa.

Salah satu artikel yang dimuat majalah Inspire menjelaskan “bagaimana membuat bom di dapur.” Dalam edisi keduanya, ada artikel yang mengajarkan orang bagaimana mengubah sebuah mobil pickup biasa menjadi “mesin pembunuh yang hebat” untuk membunuh banyak warga sipil.

Tetapi Jesse Morton kini berubah. Menggunakan strategi dan pendekatan yang dipelajarinya ketika menerbitkan media online itu, ia kini meluncurkan majalah baru untuk melawan propaganda jihad di dunia maya. Morton menerbitkan majalah baru dan memberikan nasihat “bagaimana mengubah kebencian dan interpretasi ekstremis yang penuh kekerasan.”

Dua majalah eksklusif, dengan dua sisi berbeda. Yang satu memuja kekhalifahan, yang lainnya memaparkan kekerasan yang dilakukan.

Jesse Morton, 39 tahun, mantan jihadis yang masuk Islam saat berusia 20 tahun dan mengganti namanya menjadi Yunus Abdullah Muhammad. (courtesy: Jesse Morton)
Jesse Morton, 39 tahun, mantan jihadis yang masuk Islam saat berusia 20 tahun dan mengganti namanya menjadi Yunus Abdullah Muhammad. (courtesy: Jesse Morton)

Mantan jihadis, Jesse Morton, mengatakan, “Kami menggunakan contoh publikasi dan media yang sangat sukses di kalangan jihadis. Dengan merebut kembali hal ini, kita dapat menyudahi warisan mereka.”

Sejak meninggalkan aksi kekerasan, Morton kini mempromosikan pesan berbeda lewat majalah barunya yang diberi nama “Ahul Taqwa.” Ia berbicara pada VOA melalui telepon dari sebuah lokasi yang dirahasiakan.

“Jadi dibanding menunjukkan foto-foto pembunuhan seakan-akan ini hal yang baik, kini kami menampilkan foto orang yang meninggal di jalan raya, foto di mana ada boneka bayi disamping kantong mayat. Ini yang kami lakukan sekarang.’’

Majalah setebal 39 halaman yang menyaingi majalah jihad itu menawarkan visi yang sangat berbeda tentang ISIS. Di bagian pengantar editorial, Jesse Morton menulis ‘’Ahul Taqwa mencari, bukan untuk membunuh individu-individu ini, tetapi untuk membunuh gagasan dan cita-cita palsu mereka.

Jesse Morton bermitra dengan Mitch Silber, yang juga mantan direktur intelijen di Departemen Kepolisian New York (NYPD).

“Pesannya sangat jelas karena meskipun sebagai organisasi kita sudah berhasil mengalahkan ISIS, tetapi gerakan dan pemikiriannya masih ada,” ujar Mitch Silber.

Kini Jesse Morton dan Mitch Silber mengelola “Parallel Networks” yaitu satu kelompok yang berupaya menderadikalisasi para mantan jihadis dan ekstremis. ‘’Ahul Taqwa” adalah bagian dari hal itu.

“Kami pikir untuk menantang pesan-pesan mereka, kini tidak saja perlu merancang pesan baru, tetapi juga mengirim atau memasangnya di medium atau wadah di mana orang-orang yang tertarik pada ideologi ISIS mungkin juga akan membacanya,” tambah Mitch.

Meskipun majalah baru itu memicu diskusi publik, mereka yang menggagas majalah ini juga menerima ancaman pembunuhan. (ii/em)

XS
SM
MD
LG