Tautan-tautan Akses

Malaysia: Kim Jong-nam Dibunuh dengan Senjata Kimia Terlarang

  • Associated Press

Kepala Polisi Diraja Malaysia, Khalid Abu Bakar (tengah), berbicara dalam konferensi pers tentang pembunuhan kakak tiri Kim Jong-un, Kim Jong-nam, di Kuala Lumpur (22/2). (Reuters/Athit Perawongmetha)

Senjata bahan kimia terlarang, VX nerve agent, digunakan untuk membunuh Kim Jong-nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara yang diracun minggu lalu di bandar udara di Kuala Lumpur, menurut polisi hari Jumat (24/2). Pengumuman itu memicu pertanyaan-pertanyaan serius mengenai keamanan publik di sebuah bangunan yang tidak pernah mendapatkan desinfeksi.

Bahan kimia tersebut, yang mematikan meskipun dalam jumlah yang sangat minim, terdeteksi di mata dan wajah Kim Jong-nam, ujar inspektur jenderal polisi Malaysia dalam pernyataan tertulis, yang mengutip analisis awal dari Departemen Kimia negara tersebut.

"Penemuan awal kami mengenai bahan kimia yang menyebabkan kematian Kim Chol adalah VX nerve," ujar Inspektur Jenderal Polisi Khalid Abu Bakar. Kim Chol adalah nama di paspor korban, namun pejabat Malaysia sebelumnya mengukuhkan bahwa ia adalah abang tiri Kim Jong-un.

Khalid mengatakan polisi masih menyelidiki bagaimana bahan kimia mematikan itu bisa masuk ke Malaysia.

Potongan gambar CCTV menunjukkan pria yang diduga Kim Jong-nam (dilingkari merah) berbicara dengan petugas bandara setelah dihadang perempuan berkaos putih, di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (13/2).
Potongan gambar CCTV menunjukkan pria yang diduga Kim Jong-nam (dilingkari merah) berbicara dengan petugas bandara setelah dihadang perempuan berkaos putih, di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (13/2).

Pertanyaan dan Krisis Diplomatik

Kematian Kim Jong-nam, yang pembunuhannya pada siang bolong di sebuah bandara yang padat terdengar seperti cerita novel mata-mata, telah memicu krisis diplomatik yang terus meningkat. Setiap perkembangan baru dalam kasusnya memunculkan spekulasi internasional bahwa Pyongyang mengirim sekelompok pembunuh bayaran ke Malaysia untuk membunuh abang tiri Kim Jong-un yang terasing itu.

Korea Utara telah menyebut penyelidikan Malaysia "penuh lubang dan kontradiksi" dan menuduh pihak berwenang di sana bersekongkol dengan musuh-musuh Pyongyang.

Kim Jong-nam yang berusia 45 tahun didekati dan diyakini telah diracun oleh dua orang perempuan, salah satunya dari Indonesia, di Bandara Internasional Kuala Lumpur ketika menunggu untuk naik ke pesawat yang menuju Makau, China.

Kamera video dari bandara internasional Kuala Lumpur minggu lalu menunjukkan salah seorang perempuan tersebut menarik Kim Jong Nam dari belakang dan memaksa mengusapkan sesuatu ke wajahnya.

Namun, salah seorang dari kedua perempuan itu mengaku bahwa ia telah diperdaya untuk menyerang Kim. Menurutnya, ia meyakini bahwa dirinya ikut dalam "pertunjukan gurauan" untuk acara televisi.

Kasus ini telah membingungkan ahli-ahli toksikologi, yang mempertanyakan bagaimana dua perempuan yang diduga meracuni Kim Jong-nam dapat melenggang pergi tanpa luka setelah memegang racun yang sangat dahsyat itu, bahkan jika, seperti yang dikatakan polisi Malaysia, perempuan-perempuan itu diperintahkan mencuci tangannya segera setelah serangan itu.

Bruce Goldberger, ahli toksikologi dari University of Florida. (Foto: Dok)
Bruce Goldberger, ahli toksikologi dari University of Florida. (Foto: Dok)

Dr. Bruce Goldberger, ahli toksikologi terkemuka yang memimpin divisi pengobatan forensik di University Florida, AS, mengatakan bahkan sejumlah kecil VX nerve agent, setara dengan beberapa butir garam, mampu membunuh. Bahan kimia ini dapat bekerja lewat kulit, dan ada penawarnya yang dapat diberikan lewat suntikan. Petugas medis dan tentara AS membawa alat-alat bersama mereka di medan perang Irak kalau-kalau mereka terpapar senjata kimia tersebut.

VX nerve agent adalah senjata bahan kimia yang diklasifikasikan sebagai senjata pembunuh massal oleh PBB.

"Ini bahan kimia yang sangat, sangat beracun," ujarnya. "Saya penasaran mengapa kedua tersangka pembunuh ini tidak terkena dampak negatif dari pemaparan terhadap VX. Kemungkinannya, kedua perempuan ini telah diberi penangkalnya."

Ia mengatakan gejala-gejala akibat VX biasanya terjadi dalam beberapa detik atau menit dan dapat berlangsung berjam-jam, dimulai dengan kebingungan, rasa kantuk, pusing, mual, muntah, keluar ingus dari hidung dan mata berair. Sebelum meninggal, biasanya ada gangguan hebat, kejang-kejang, kehilangan kesadaran dan kelumpuhan.

Polisi Malaysia sebelumnya mengatakan bandara tersebut tidak mendapat desinfeksi dan tidak ada orang lain selain Kim Jong-nam yang sakit. Namun jika VX yang digunakan seperti dikatakan para pejabat Malaysia, bahan kimia itu bisa mengkontaminasi tidak hanya bandara tapi tempat-tempat di mana Kim berada, termasuk fasilitas medis dan ambulans yang mengangkutnya. Bahan kimia tersebut, yang memiliki konsistensi seperti minyak motor, memerlukan waktu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk menguap.

Dilarang oleh Konvensi Senjata Kimia

VX dilarang oleh Konvensi Senjata-senjata Kimia yang tidak pernah ditandatangani oleh Korea Utara. Negara itu diyakini oleh para ahli luar memiliki kapasitas untuk memproduksi sampai 4.500 metrik ton senjata kimia dalam setahun, yang dapat meningkat menjadi 12.000 ton per tahun dalam masa krisis. Inventaris saat ini diperkirakan ada 2.500 sampai 5.000 ton.

Joseph Bermudez, analis Korea Utara terkemuka, menulis artikel untuk laman 38 North yang dihormati, bahwa Korea Utara mampu untuk tidak hanya menggunakan "jumlah dan variasi signifikan senjata kimia" di seluruh Semenanjung Korea, namun juga menggunakan senjata-senjata ini di seluruh dunia "menggunakan metode yang tidak biasa."

Ia juga mengatakan ada "peningkatan bukti" yang mengindikasikan bahwa Korea Utara berbagi kemampuan senjata kimia dengan Suriah, Iran dan lainnya.

Gambar dari Star TV menunjukkan potongan video CCTV dari tanggal 13 Februari 2017 yang memperlihatkan seorang perempuan (kiri) di Bandara Kuala Lumpur di Sepang, Malaysia, yang menurut polisi telah ditahan terkait pembunuhan Kim Jong-nam.
Gambar dari Star TV menunjukkan potongan video CCTV dari tanggal 13 Februari 2017 yang memperlihatkan seorang perempuan (kiri) di Bandara Kuala Lumpur di Sepang, Malaysia, yang menurut polisi telah ditahan terkait pembunuhan Kim Jong-nam.

Malaysia telah menangkap tiga orang terkait kematian Kim Jong-nam, termasuk dua tersangka penyerang. Pihak berwenang sedang mencari beberapa orang lagi, termasuk sekretaris kedua kedutaan besar Korea Utara di Kuala Lumpur dan seorang petugas maskapai negara Korea Utara, Air Koryo.

Kasus ini menandai perubahan serius dalam hubungan Malaysia dan Korea Utara. Meskipun Malaysia bukan salah satu dari mitra diplomatik utama Pyongyang, negara ini termasuk dalam sedikit tempat di dunia dimana warga Korea Utara bisa pergi tanpa visa. Akibatnya, selama bertahun-tahun, banyak warga Korea Utara diam-diam mencari pekerjaan, sekolah dan kontrak bisnis. [hd]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG