Tautan-tautan Akses

5 Polisi dan 5 Tentara Tewas dalam Kekerasan di Kamerun


Militer Kamerun melakukan upacara pemakaman militer bagi 4 tentara yang tewas dalam aksi kekerasan oleh kelompok separatis, pada pertengahan bulan ini, 17 November lalu (foto: dok).
Militer Kamerun melakukan upacara pemakaman militer bagi 4 tentara yang tewas dalam aksi kekerasan oleh kelompok separatis, pada pertengahan bulan ini, 17 November lalu (foto: dok).

Lima polisi dan lima tentara tewas dalam 24 jam di dua kawasan berbahasa Inggris di Kamerun. Separatis telah mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

Menteri Komunikasi Kamerun Issa Tchiroma mengatakan kawanan bersenjata menyerang sebuah konvoi militer yang dikerahkan dari Yaounde dalam misi pemeliharaan perdamaian di kota Mamfe pada Rabu pagi hari (29/11), dan membunuh empat orang tentara.

Seorang tentara yang luka parah berhasil meloloskan diri dan para penyerang mencuri sejumlah besar senjata.

Serangan kedua terjadi di Eyoumojock, tidak jauh dari Mamfe Kamis (30/11) dini hari, menewaskan lima polisi dan seorang tentara.

Tchiroma mengukuhkan bahwa kelompok bersenjata yang memperjuangkan kemerdekaan wilayah-wilayah berbahasa Inggris dari Kamerun telah mengaku bertanggung jawab atas serangan-serangan itu.

"Penyerang mengaku dari sayap bersenjata gerakan separatis yang disebut Front Persatuan Konsorsium Ambazonia Kamerun Selatan. Bagaimana kami dapat berunding dengan pihak yang satu-satunya ideologinya adalah pemecahan sebuah negara yang sah dan diakui oleh semua badan internasional?,” tanyanya.

Selanjutnya, Tchiroma mengatakan presiden Kamerun Paul Biya telah mengerahkan pasukan tambahan ke kawasan untuk menjaga perdamaian dan melacak para pelaku serangan. Ditambahkan, pemerintah minta agar warga menyampaikan informasi apapun yang dapat membuahkan penahanan para tersangka.

Sekolah-sekolah telah ditutup di kawasan berbahasa Inggris di barat laut dan barat daya sejak November tahun lalu setelah guru dan pengacara menyerukan pemogokan menuntut dihentikannya penggunaan bahasa Perancis di kedua kawasan.

Kekerasan merebak ketika kaum separatis ikut bergabung dan mulai menuntut kemerdekaan penuh.

Pada 1 Oktober, mereka mendeklarasikan yang mereka sebut kemerdekaan Republik Ambazonia dan menyerukan agar tentara menyerahkan diri dan bergabung dengan mereka atau pergi dari kedua kawasan. Sebegitu jauh mereka telah membunuh 16 tentara dan polisi di kedua wilayah berbahasa Inggris itu.

Presiden Biya telah mengatakan ia tidak akan mau berunding mengenai bentuk negara dan bahwa Kamerun adalah satu dan tidak dapat dipecah-pecah.

Kelompok-kelompok separatis telah mengatakan melalui media sosial bahwa mereka mau berunding dengan Biya hanya mengenai ketentuan-ketentuan terkait pemisahan Ambazonia dari Kamerun. [ds]

Recommended

XS
SM
MD
LG