Tautan-tautan Akses

AS

Sekolah Muslim di AS Masukkan Aktivisme Politik dalam Kurikulum


Murid-murid Sekolah Al-Rahmah dan para tamu lainnya setelah bertemu Presiden saat itu, Brack Obama, di Islamic Society of Baltimore, Februari 2016. (AP/Pablo Martinez Monsivais)

Pelajaran itu bertujuan untuk mendorong aktivisme politik di antara 3,3 juta warga Muslim yang mencakup 1 persen dari populasi AS.

Murid-murid di Al-Noor Academy, sebuah sekolah Muslim di luar kota Boston, AS, membombardir pembicara dalam mata pelajaran pemerintahan dengan pertanyaan-pertanyaan: Bagaimana memulai sebuah diskusi politik? Bagaimana menggunakan media sosial dalam politik? Bagaimana mempengaruhi para pemimpin yang dipilih?

Murid-murid yang sebagian besar berusia 16 tahun itu terlalu muda untuk memberikan suara dalam pemilihan umum tapi mereka tampak bersemangat untuk mencari cara untuk melawan retorika Presiden Donald Trump, yang minggu lalu mengeluarkan larangan perjalanan ke Amerika Serikat untuk warga tujuh negara dengan mayoritas penduduknya Muslim.

"Sebelum pemilu ini, saya betul-betul hanya tahu sedikit tentang politik," ujar Sarah Sendian, murid kelas 2 SMA di sekolah itu di Mansfield, Massachusetts. "Dengan presiden baru dan semua hal yang terjadi, hal itu membuat banyak anak muda sangat tertarik."

Pelajaran itu adalah salah satu dari aktivitas pertama organisasi politik Muslim yang baru terbentuk, Jetpac -- singkatan dari Pusat Advokasi Keadilan, Pendidikan, Teknologi, Kebijakan -- untuk mendorong aktivisme politik di antara 3,3 juta warga Muslim yang mencakup 1 persen dari populasi AS.

"Ini waktunya para warga Muslim maju," ujar Nadeem Mazen, pendiri kelompok itu dan seorang anggota DPRD di Cambridge, Massachusetts. "Apa yang terjadi di tingkat nasional hanya mengukuhkan apa yang telah kita ketahui sebelum Trump terpilih, bahwa kita perlu para pemimpin yang betul-betul bagus."

Pelajaran hari Kamis (2/2) di SMP dan SMA yang muridnya berjumlah 116 orang itu menekankan pada bagaimana membangun jaringan dengan orang-orang yang seide dan memunculkannya pada pertemuan-pertemuan publik, demonstrasi dan pemilihan umum untuk mengeraskan suara warga Muslim AS.

Sekitar 824.000 dari mereka terdaftar sebagai pemilih pada pilpres 2016, jumlah yang telah meningkat sekitar 60 persen dalam empat tahun terakhir, menurut kelompok advokasi Muslim nasional Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR).

'Tahu Apa yang Dilakukan'

Guru pelajaran tersebut, Joe Florencio, mengingatkan murid-muridnya bahwa bergenerasi-generasi populasi imigran telah mengalami proses yang sama untuk aktif dalam politik.

"Untuk berpolitik secara efektif, kamu harus tahu apa yang kamu lakukan," ujar Florencio, satu-satunya anggota fakultas yang non-Muslim di gedung yang dulunya merupakan gereja Katolik Roma tempat orangtuanya menikah.

Para murid di sekolah itu, yang didirikan pada tahun 2000, belajar pelajaran akademik standar Amerika Serikat termasuk sains dan matematika, juga Bahasa Arab dan al-Quran, sebuah model yang mirip banyak sekolah-sekolah parokial di bagian timur laut AS.

Jetpac, yang berharap pada akhirnya menawarkan versi-versi pelajaran itu ke sekolah-sekolah swasta dan negeri di Amerika Serikat, menghadapi perjuangan besar. Jumlah serangan anti-Muslim yang dilaporkan ke FBI tahun lalu melonjak ke tingkat tertinggi sejak 2001, tahun serangan al-Qaida ke New York.

Meskipun kelompok itu menyodori bahwa perlu waktu untuk pendatang baru dalam dunia politik untuk memenangkan pemilu, bahkan aksi kampanye dapat membantu warga Muslim, hanya dengan membuat orang-orang lebih paham politik, ujar Faiza Patel, dari Brennan Center for Justice di fakultas hukum NYU.

"Hal itu memungkinkan mereka untuk bertemu banyak orang, orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak akan pernah mereka temui dan yang memiliki efek mengurangi prasangka," ujar Patel, yang mempelajari interaksi antara Muslim dan sistem peradilan AS. "Anda mulai melihat orang-orang sebagai manusia."

Hampir setengah responden jajak pendapat Pew Research Center tahun 2016 mengatakan mereka yakin setidaknya beberapa Muslim di AS memiliki sikap anti-Amerika, namun para responden yang kenal Muslim secara pribadi tidak begitu memiliki keyakinan tersebut.

Yousef Abouallaban, anggota komite sekolah Al-Noor yang dua putra tertuanya bersekolah di situ, mengatakan ia berharap pelajaran itu dapat membangu anak-anak imigran Muslim mengatasi bias yang dimiliki para orangtuanya yang tidak suka mereka terlibat dalam politik.

"Kami dibesarkan dalam budaya yang berbeda, dimana ada keyakinan bahwa orang-orang yang terlibat dalam pemerintahan adalah orang-orang yang korup. Di semua tingkatan. Jadi jika kamu orang baik, jangan pernah terlibat dalam politik," ujar Abouallaban, yang berimigrasi dari Suriah tahun 1989. "Tapi tidak demikian dengan Amerika Serikat dan mentalitas ini harus diubah." [hd]

XS
SM
MD
LG