Tautan-tautan Akses

Pemerintah menjadikan Kampung Sawah sebagai salah satu kawasan percontohan kerukunan umat beragama karena di wilayah itu, puluhan ribu umat Islam dan Kristiani serta agama lain hidup berdampingan, rukun dan saling menghargai satu sama lain. Warga yang berada di Kampung Sawah selalu menganggap satu dengan lainnya adalah saudara sehingga tidak perlu memandang apa agamanya karena agama menurut mereka merupakan urusan pribadi.

Kumandang azan Dzuhur di Masjid Agung Al Jauhar Yasfi mengiringi suara lonceng dari Gereja Santos Servatius Kampung Sawah, Jati Murni, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat. Di kampung ini, puluhan ribu umat Islam dan Kristiani serta agama lain hidup berdampingan, rukun dan saling menghargai satu sama lainnya.

Di kampung Sawah, Gereja Katolik Servatius, Gereja Kristen Pasundan dan Masjid Agung Al Jauhar Yasfi berdiri berdampingan membentuk segitiga emas. Letak tempat ibadah yang saling berdekatan itu tidak hanya menjadi bukti keberagaman tetapi juga bentuk toleransi yang tinggi.

Tidak pernah ada gesekan antar umat beragama di tempat ini. Mereka sangat menghargai, menghormati satu sama lain termasuk ketika menjalankan ibadah. Salah satu contohnya ketika hari Minggu (24/12) di mana umat Kristiani beribadah, kegiatan seperti pengajian yang ada di Masjid Agung Al Jauhar Yasfi dilakukan tanpa menggunakan pengeras suara. Hal itu menurut Wakil Ketua Dewan Paroki Mathius Nalih Ungin dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada umat Kristiani untuk beribadah.

Ketika perayaan Natal tiba, umat Muslim di kampung yang mayoritas bersuku Betawi ini, berkunjung ke rumah umat Kristiani untuk mengucapkan selamat Natal. Begitu juga sebaliknya ketika umat Muslim merayakan Idul Fitri. Mereka turut serta dalam menjaga keamanan ketika umat agama lain di wilayah tesebut merayakan hari besar keagamaannya.

Pada perayaan Natal, gereja kata Mathius menggunakan pengeras suara sehingga kegiatan di gereja tersebut terdengar keluar dengan jelas dan itu tidak masalah bagi umat non Kristiani di wilayah itu.

"Mengadakan kegiatan misa itu jam setengah sembilan. Tiba-tiba di Masjid itu terdengar suara pengajian atau lantunan ayat-ayat Al Quran. Nanti itu akan terukur nanti jam setengah sembilan akan berhenti dan memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan ibadah, itu kalau hari Minggu. Itu secara otomatis yang sudah terjadi dan teratur seperti itu. Bahkan kemarin kami misalnya merayakan Natal, kebetulan Natal kami lakukan jam 6 sore , sementara di Masjid adzan magrib. Ya silakan saja adzan dilakukan kemudian kami menjalankan dan ini bukan suatu halangan tetapi itu adalah keharmonisan nada yang kita lakukan bersama-sama," papar Mathius.

Wakil Ketua Dewan Paroki Mathius Nalih Ungin. (VOA/Fathiyah)
Wakil Ketua Dewan Paroki Mathius Nalih Ungin. (VOA/Fathiyah)

Berbeda agama dalam suatu keluarga bukan hal yang baru bagi warga kampung ini. Salah satunya adalah Munawaroh, warga Kampung Sawah. Ia seorang Muslim yang menikah dengan seorang lelaki beragama Kristen. Meski berbeda mereka tetap saling menghargai satu sama lainnya.

"Anak saya ada 10, meninggal satu. Ngikut bapak 5, ikut saya 5. Soal agama saya tidak paksa, ikut ke bapak atau ke ibu. Kalaupun saya berbeda agama. Bapak kan Natalan, anak yang Muslim pada datang ke bapak, pada minta maaf ke bapak. Saya puasa walaupun anak saya ke gereja tetap hormati saya," tutur Munawaroh.

Warga yang berada di Kampung Sawah selalu menganggap satu dengan lainnya adalah saudara sehingga tidak perlu memandang apa agamanya karena agama menurut mereka merupakan urusan pribadi.

Tidak ada pembahasan mengenai agama di kampung ini ketika bersilaturahmi maupun berdialog. Pertemuan antar tokoh lintas agama di Kampung Sawah secara rutin dilakukan tetapi hal ini pun juga tidak membahas mengenai persoalan agama. Mereka hanya membahas mengenai soal kehidupan masyarakat di wilayah itu dan juga budaya setempat Seperti diungkapkan tokoh agama Islam di Kampung Sawah, Rahmaddin Afif.

"Kita jaga terus kerukunan, saling menghormati dan menghargai. Ramai sekarang Natalan ya silahkan, memang mereka sedang merayakan keyakinannya. Kalau masalah sifatnya umum kita sifatnya kerjasama. Bagaimana mengamankan kampung. Kalau dibutuhkan tenaga, pikiran, dana kan kita siap bersama-sama. Kalau ada misalnya ada yang merendahkan , menghina, menyinggung orang Kristen, saya sendiri yang akan berhadapan. Hidup ini harus rukun, harus damai," kata Rahmaddin.

Saat toleransi menjadi bahan perdebatan antarkelompok di Indonesia, warga Kampung Sawah, Jati Murni, Pondok Melati, Bekasi, Jawa Barat justru menunjukkan wajah toleransi dan keberagaman. Tak heran, jika Pemerintah menjadikan Kampung Sawah sebagai salah satu kawasan percontohan kerukunan umat beragama. [fw/al]

Kerukunan Umat Beragama di Kampung Sawah
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:35 0:00

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG