Tautan-tautan Akses

Kemenlu Minta Penjelasan dan Akses Konsuler kepada Pemerintah Filipina

  • Fathiyah Wardah

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir (kanan) dalam jumpa pers di kantornya di Jakarta. (Foto:VOA/Fathiyah)

Kementerian Luar Negeri Indonesia meminta penjelasan dan akses kekonsuleran kepada pemerintah Filipina terkait penangkapan Muhammad Ilham Syahputra yang ikut bertempur bersama milisi ISIS di Marawi, Filipina Selatan. Ilham disebut tentara Filipina sebagai warga negara Indonesia.

Tentara Filipina mengklaim telah menangkap seorang warga Indonesia yang ikut bertempur bersama milisi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah di Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Filipina selatan. Lelaki asal Medan tersebut bernama Muhammad Ilham Syahputra, 22 tahun.

Dalam jumpa pers, Kepala Kepolisian Lanao del Sur Senior Superintendent John Guyguyon menjelaskan militer menangkap Ilham saat pasukan Filipina melanjutkan operasi pembebasan Marawi, seperti dilansir stasiun televisi CNN.

Menanggapi kabar itu, dalam jumpa pers mingguan di kantornya, Kamis (2/11), juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menjelaskan setelah mendengar informasi tersebut dari media, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Davao dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Manila langsung meminta penjelasan resmi dari pemerintah dan pihak terkait di Filipina, serta menuntut akses kekonsuleran buat menemui Ilham yang diklaim sebagai warga negara Indonesia.

Arrmanatha menekankan akses kekonsuleran itu diperlukan untuk memastikan apakah benar Ilham merupakan warga Indonesia.

"Namun tidak ada pihak Filipina yang bisa memberikan konfirmasi resmi. Jadi informasi yang diterima, baik dari pihak kepolisian Filipina maupun tentara, mereka menyatakan informasi informal bahwa ada yang mereka duga WNi ditangkap," kata Arrmanatha.

Dia menambahkan Kementerian Luar Negeri, Senin pagi (2/11) telah memanggil kuasa usaha sementara Kedutaan Besar Filipina di Jakarta. Namun Kedutaan Filipina di Jakarta belum bisa memberikan informasi resmi mengenai kabar penangkapan warga Indonesia di Marawi itu.

Lebih lanjut Arrmanatha mengatakan KJRI Davao dan KBRI Manila terus meminta konfirmasi resmi dan akses kekonsuleran untuk memverifikasi berita di media tersebut.

Sesuai hukum internasional yang berlaku, pemerintah Filipina wajib memberitahu kantor perwakilan diplomatik Indonesia, KJRI Davao atau KBRI Manila, bila ada warga Indonesia yang ditangkap. Setelah itu, perwakilan Indonesia akan meminta akses kekonsuleran untuk memastikan apakah orang yang dibekuk itu benar merupakan warga Indonesia. Verifikasi ini dilakukan melalui wawancara dengan yang ditangkap dan pengecekan dokumen perjalanan atau paspor mereka, asli atau palsu.

Setelah itu, pihak KJRI atau KBRI akan bisa memastikan yang bersangkutan benar atau bukan warga negara Indonesia.

Menurut Arrmanatha, sampai saat ini KJRI Davao atau KBRI Manila belum sampai pada tahap itu. Dia menegaskan kembali pemerintah belum bisa memastikan lelaki yang ditangkap itu adalah warga Indonesia karena KJRI atau KBRI belum mendapat notifikasi resmi dan akses kekonsuleran.

Arrmantha menyatakan militer Filipina April lalu menyebutkan telah menemukan paspor Indonesia, juga atas nama Muhammad Ilham Syahputra. Namun ketika KJRI dan KBRI meminta paspor tersebut untuk proses verifikasi, sampai sekarang kini belum diberikan.

"Pihak Filipina juga menyampaikan bahwa nama orang yang di paspor tersebut diduga meninggal dalam peperangan di Marawi. KJRI Davao mencoba memverifikasi apakah benar ada jenazah atas nama orang tersebut, namun tidak didapatkan. Itu statusnya," jelasnya.

Guyguyon menjelaskan Ilham mengaku kepada penyidik bahwa dia masuk ke Filipina pada November tahun lalu. Ilham mengatakan datang ke Filipina atas undangan pemimpin Abu Sayyaf Isnilon Hapilon untuk membantu perjuangan ISIS di Filipina Selatan.

Militer Filipina bulan lalu berhasil menewaskan Hapilon dan Abdullah Maute dalam pertempuran di Marawi.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridwan Habib mengatakan jika benar Ilham WNI maka Indonesia saat ini menghadapi momentum cukup krusial karena ada jaringan Marawi di Filipina Selatan yang terkoneksi dengan kelompok-kelompok pro-ISIS di Indonesia.

"Ini membuktikan bahwa koneksi lama yang dulu di era Jamaah Islamiyah diaktifkan lagi tetapi dengan bendera yang baru, yaitu bendera ISIS dan dalam hal ini ISIS Filipina," kata Ridwan.

Ridwan menambahkan ketika perang di Marawi terjadi, jihadis ISIS di Indonesia menghadapi dua pilihan: berangkat ke Suriah dengan ketidakpastian atau berangkat ke Filipina yang derajatnya sama-sama jihad. "Dari sisi biaya, jarak, dan akses, lebih mudah ke Filipina, sehingga banyak jihadis ISIS dari Indonesia memilih pergi ke Marawi dibanding terbang ke Suriah," lanjutnya. [fw/lt]

XS
SM
MD
LG