Tautan-tautan Akses

Peneliti Temukan Kelemahan Parasit Malaria, Bisa Hentikan Penularan

  • Jessica Berman

Penemuan kelemahan parasit malaria, bukan saja membuka kemungkinan penyembuhan tetapi juga cara menghentikan penularan (foto: ilustrasi).

Tim peneliti telah menemukan kelemahan parasit malaria yang dapat menghentikan infeksi yang ditularkan nyamuk, bukan saja membuka kemungkinan penyembuhan tetapi juga cara menghentikan penularan.

Kelemahan dalam parasit malaria ini adalah protein yang digunakan parasit ‘’plasmodium falciparum’’ untuk menyhusup ke dalam sel-sel darah merah.

Dengan memblokir protein yang disebut PfAP2-I ini, parasit malaria itu tidak bisa memasuki sel-sel dimana ia berkembang biak dalam jumlah besar dan masuk kedalam aliran darah.

Gejala khas malaria yang mencakup demam tinggi dan menggigil, datang bergelombang setiap 48 jam sekali, tiap kali parasit itu berkembang biak.

Menurut peneliti utama Manuel Llinas, dengan menghentikan apa yang disebut sebagai tahap invasi, para pakar mungkin bisa menghentikan infeksi dan mendorong penyembuhan.

“Sejak lama telah diketahui bahwa tahap invasi ini merupakan proses yang apabila bisa dicegah, akan menghentikan infeksi besar-besaran yang biasanya terjadi,” papar Llinas.

Llinas dan mitra-mitranya di Pennsylvania State University telah mengidentifikasi dan memilah parasit PfAP2-I, yang mengatur lebih dari 150 gen parasit dimana hampir 20% diketahui terlibat dalam serangan terhadap sel-sel darah merah.Temuan ini dilaporkan di jurnal Cell Host and Microbe.

Llinas mengatakan dalam 50 tahun terakhir ini para periset berupaya menemukan cara untuk menyerang fase invasi, biasanya dengan vaksin yang memanfaatkan sistem kekebalan tubuh.

Karena parasit memiliki puluhan mekanisme untuk menyusup ke dalam sel-sel darah merah setelah menempel di permukaannya, Llinas mengatakan sangat sulit meningkatkan respon kekebalan untuk memblokir mereka semua.

Llinas mengatakan senyawa yang mengganggu protein parasit PfAP2-I itu berpotensi menghentikan invasi dengan sekali pukul saja.

“Kita nantinya akan bisa melumpuhkan sejumlah besar gen yang terlibat dalam invasi, tetapi hanya perlu menarget satu protein secara khusus, dan itu adalah protein AP2-I. jika protein ini tidak berfungsi dengan baik, protein itu tidak akan bisa memperbanyak diri secara besar-besaran untuk menulari manusia dengan penyakit malaria itu,” tambahnya.

Llinas mengatakan langkah selanjutnya adalah mengembangkan obat yang bisa menarget protein parasit tersebut.

Selain prosedur yang mungkin menyembuhkan serangan malaria, salah satu gen yang memblokir PfAA2-I itu berpotensi menghentikan siklus transmisi karena hanya sedikit parasit turunan yang ada di aliran darah untuk menginfeksi nyamuk yang menggigit.

Diperkirakan ada 212 juta penderita malaria setiap tahun, dan penyakit ini membunuh 429.000 orang, kebanyakan anak-anak muda di sub-Sahara Afrika. [em/ii]

XS
SM
MD
LG