Tautan-tautan Akses

Kelaparan di Dunia Melonjak akibat Pandemi Virus Corona 


Seorang balita Yaman yang menderita malnutrisi dirawat di sebuah rumah sakit di provinsi Hajjah (foto: ilustrasi).
Seorang balita Yaman yang menderita malnutrisi dirawat di sebuah rumah sakit di provinsi Hajjah (foto: ilustrasi).

Sebuah laporan baru memperingatkan lebih dari seperempat miliar orang di dunia bisa menghadapi kelaparan akut karena dampak ekonomi pandemi virus corona. Koresponden VOA Lisa Schlein melaporkan dari Jenewa mengenai Laporan Global 2020 tentang Krisis Makanan yang diterbitkan oleh Program Pangan Dunia (WFP), Organisasi Pangan dan Pertanian (FPO) dan 14 lembaga lainnya.

Sebelum pandemi virus corona, laporan itu mengatakan 135 juta orang di dunia menderita kelaparan parah. Tetapi, para penulis laporan itu memperingatkan pandemi yang kini berlangsung akan membuat jumlah itu dua kali lebih besar pada akhir tahun ini jika tidak dilakukan tindakan cepat dan kuat.

Laporan itu menyatakan penyebab utama kelaparan di dunia adalah konflik, perubahan iklim, dan krisis ekonomi. Dikatakan bahwa Afrika adalah benua yang terkena dampak terburuk, diikuti oleh Asia dan Amerika Latin. Laporan itu menambahkan mayoritas orang yang menderita kerawanan pangan akut, sekitar 77 persen, berada di negara-negara yang mengalami konflik.

Kepala Ekonom Program Pangan Dunia Arif Husain mengatakan kepada VOA, orang-orang di Yaman, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Suriah, dan Sudan Selatan berisiko terbesar.

"Jika kita tidak membantu, nyawa mereka terancam. Jadi, jika kita tidak membantu, mereka akan meninggal. Setiap hari dalam keadaan normal ada sekitar 21.000 orang yang meninggal karena kelaparan. Setiap hari – bukan karena COVID – setiap hari, seorang anak meninggal setiap 10 detik karena kurang gizi.”

Husain mengatakan tindakan cepat harus diambil untuk membantu penduduk di negara-negara itu dan negara lain yang berisiko. Dia mengatakan rantai perdagangan dan pasokan harus bertindak dan makanan serta persediaan lain yang diperlukan harus disiapkan di muka. Dia mengatakan lembaga-lembaga bantuan dapat dan harus membantu pemerintah yang memiliki jejaring pengaman dan perlindungan meningkatkan program-program itu.

“Kita tidak boleh melupakan sektor pertanian. Kita memiliki cadangan yang baik sekarang, tetapi jika rantai pasokan berhenti dan benih, pupuk dan lain-lain tidak sampai ke petani atau petani tidak bisa pergi ke ladang mereka, apa yang akan terjadi tahun depan? Tahun depan, kita benar-benar akan kekurangan pangan, dan itu harus kita hindari,” tambahnya.

Badan-badan bantuan PBB mengantisipasi bahwa mereka akan membutuhkan antara $10 hingga $12 miliar tahun ini untuk mengatasi perkiraan krisis pangan itu. Tetapi, mereka mengatakan, dibutuhkan $1,9 miliar segera untuk memastikan makanan cukup tersedia untuk membantu orang selama tiga bulan ke depan, terutama orang-orang yang terjebak di zona-zona perang. [lt/ii]

XS
SM
MD
LG