Tautan-tautan Akses

Kelangkaan Alat Pelindung Diri Hambat Layanan Medis 


Seorang perawat di RSUP dr Sardjito mengenakan satu set alat pelindung diri (APD) lengkap. (Foto Nurhadi Sucahyo/VOA)

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menambah jumlah rumah sakit untuk menangani virus corona menjadi 22, dari sebelumnya hanya 4 rumah sakit rujukan. Langkah itu untuk mengantisipasi kondisi yang tidak menentu.

Kepala Dinas Kesehatan Yogyakarta, Pembayun Setyaning Astutie menjelaskan, penambahan rumah sakit itu diharapkan mampu meningkatkan kapasitas perawatan bagi Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus corona.

Dinkes Yogyakarta akan memberikan penguatan kapasitas bagi seluruh 22 rumah sakit itu – milik pemerintah dan swasta -- yang menyatakan siap menjalankan tugas itu.

Namun, kata Pembayun, rumah sakit yang sudah ditunjuk itu menghadapi masalah kekurangan Alat Pelindung Diri (APD). APD adalah alat-alat yang digunakan untuk melindungi petugas kesehatan dan pasien dari risiko penularan, misalnya sarung tangan steril, kacamata, dan masker medis.

“Temen-temen tahu ya, APD itu yang punya masalahnya. Teman-teman rumah sakit ini, kalau kemauannya, komitmennya itu besar. Tapi begitu kita terbentur dengan APD, ini yang jadi masalah,” kata Pembayun.

Seorang perawat di RSUP dr Sardjito mengenakan satu set alat pelindung diri (APD) lengkap. (Foto: Nurhadi Sucahyo/VOA)
Seorang perawat di RSUP dr Sardjito mengenakan satu set alat pelindung diri (APD) lengkap. (Foto: Nurhadi Sucahyo/VOA)

Kekurangan APD di Yogyakarta karena lonjakan kebutuhan dari seluruh rumah sakit dan puskesmas di Indonesia secara bersamaan mengakibatkan kelangkaan alat-alat penting tersebut. Pembayun secara terbuka mengharap pertolongan semua pihak untuk memenuhi kebutuhan APD ini.

Sedangkan untuk stok alat pendukung lainnya, seperti Virus Transport Media (VTM), Pembayun memastikan masih tersedia.

Di Yogyakarta, kata Pembayun, ada tenaga kesehatan yang kini masuk daftar Orang Dalam Pemantauan (ODP). Dia menambahkan, tenaga medis tersebut kini mengisolasi diri di rumah dengan baik dan terus dalam dipantau. Kasus ini menguatkan pentingnya APD bagi tenaga medis dalam melayani pasien.

“Saya juga tidak bisa membiarkan teman-teman tenaga medis untuk bekerja tanpa perlindungan diri yang baik,” tambah Pembayun.

Kelangkaan Alat Pelindung Diri Hambat Layanan Medis
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:28 0:00

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) telah mengingatkan akan kemungkinan kekurangan pasokan APD. Dalam keterangan resmi pada 3 Maret 2020, WHO menyebut sarung tangan, masker medis, respirator, kacamata, pelindung wajah, baju, dan celemek sebagai barang-barang yang harus diperhatikan stoknya.

Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom mengimbau para pemerintah negara untuk meningkatkan pasokan dengan melonggarkan pembatasan ekspor, menghentikan spekulasi dan penimbunan.

“Kita tidak bisa menghentikan virus corona tanpa melindungi petugas kesehatan terlebih dahulu,” ujar Ghebreyesus.

WHO mencatat, sejak virus corona merebak, harga masker meningkat enam kali lipat dan respirator N95 naik tiga kali lipat.

Berdasarkan perhitungan WHO, dunia diperkirakan membutuhkan 89 juta masker medis, 76 juta sarung tangan dan di 1,6 juta kacamata periksa setiap bulan untuk penanganan virus corona. WHO menyarankan industri meningkatkan produksi hingga 40 persen untuk memenuhi permintaan dunia.

Seorang anggota staf mencatat data KTP pembeli masker di sebuah apotek di Yogyakarta, Sabtu, 14 Maret 2020. (Foto: Nurhadi Sucahyo/VOA)
Seorang anggota staf mencatat data KTP pembeli masker di sebuah apotek di Yogyakarta, Sabtu, 14 Maret 2020. (Foto: Nurhadi Sucahyo/VOA)

Pemerintah Indonesia sendiri sudah melarang ekspor masker, APD dan antiseptik mulai 18 Maret 2020. Sebaliknya, pemerintah juga mempermudah proses impor untuk barang-barang tersebut.

Humas RSUP dr Sarjito, Banu Hermawan mengakui bahwa APD kini menjadi barang langka, sementara hampir setiap rumah sakit membutuhkannya. Kelangkaan itu terutama pada masker, karena juga diburu oleh masyarakat.

“APD ini ada yang sekali pakai, seperti masker, handscrub, dan tutup kepala. Tetapi ada juga yang bisa dipakai berulang, seperti baju, google atau kacamata dan sepatu. Ada juga, model baju itu yang hanya sekali pakai,” ujar Banu kepada VOA.

Harga APD sekali pakai berkisar Rp 200 ribu per unitnya. Bisa dibayangkan berapa jumlah yang harus dibelanjakan untuk mengawasi satu pasien saja, karena dokter dan perawat harus berkali-kali berinteraksi dengan pasien.

Beberapa selebritas, seperti artis Maia Estianty dan selegram Rachel Vennya berinisiatif menggalang dana untuk penyediaan alat-alat pendukung tenaga medis, termasuk APD. Dari platform pengumpulan dana kitabisa.com pada Jumat (20/3) pagi tercatat Rachel Vennya telah menggalang dana lebih dari Rp 4,6 miliar dalam empat hari, Maia mengumpulkan lebih dari Rp 346 juta, dan kitabisa.com mencatatkan sumbangan Rp 2,9 miliar.

Masker dan sabun cuci tangan menjadi belanjaan wajib masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. (Foto: Nurhadi Sucahyo/VOA)
Masker dan sabun cuci tangan menjadi belanjaan wajib masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. (Foto: Nurhadi Sucahyo/VOA)

Yogyakarta sudah menganggarkan dana Rp 14,8 miliar untuk penanganan Virus Corona. Jika dana tersebut kurang, pemerintah dan DPRD telah sepakat membuka kemungkinan merancang ulang Anggaran Pendapatan dan Belanda Daerah (APBD). Dana itu, sementara ini akan digunakan untuk pembelian alat kesehatan, disinfektan, dana sosialisasi serta edukasi masyarakat, dan upaya penyediaan tempat atau ruangan ruangan khusus.

Sejauh ini, rumah sakit yang diminta untuk bersiap menanganai kasus virus corona belum ada yang menyampaikan keberatan.

“Cuma kemudian, protokolnya harus dilakukan, supaya teman-teman paramedis dan medis itu bisa terlindungi. Protokol itu salah satunya membutuhkan alat kesehatan, misalnya Alat Pelindung Diri. Itu juga harus kita pikirkan,” kata Baskara Aji. [ns/ft]

Lihat komentar (2)

Recommended

XS
SM
MD
LG