Tautan-tautan Akses

Jokowi Instruksikan Gelar Tes Cepat Corona Secara Massal


Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, 18 Maret 2020. (Foto: Twitter/@jokowi)

Bukannya "lockdown", Presiden Joko Widodo memilih untuk menggelar tes cepat virus corona secara massal. Apakah cara tersebut akan berhasil mencegah penyebaran virus ini?

Di saat berbagai negara mulai memberlakukan "lockdown", Presiden Joko Widodo masih bergeming untuk tidak mengambil opsi tersebut. Ia menginstruksikan untuk menggelar tes cepat (rapid test) virus corona secara massal. Cara tersebut kurang lebih mirip dengan apa yang dilakukan oleh Korea Selatan. Dengan cara tersebut, Korsel bisa menekan angka orang yang terjangkit virus ini.

“Segera lakukan rapid test dengan cakupan yang lebih besar agar deteksi dini kemungkinan indikasi awal seseorang terpapar COVID-19 bisa kita lakukan. Saya minta alat rapid test terus diperbanyak juga memperbanyak tempat-tempat untuk melakukan tes yang melibatkan RS baik pemerintah, milik BUMN, Pemda, RS milik TNI, Polri dan swasta dan lembaga riset yang pendidikan tinggi yang mendapatkan rekomendasi dari kemenkes,” ujar Jokowi dalam rapat terbatas melalui telekonferensi, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/3).

Lanjutnya, pihak terkait harus menyediakan rapid test massal tersebut dengan protokol kesehatan yang alurnya jelas, sederhana dan mudah dipahami oleh masyarakat.

“Ini penting sekali terkait dengan hasil rapid test ini apakah dengan karantina mandiri, self isolation atau pun memerlukan layanan rumah sakit, protokol kesehatan dijelaskan,” jelasnya.

Dengan rencana rapid test massal tersebut, kata Jokowi pemerintah akan menyiapkan rencana kontingensi layanan berbagai RS rujukan dan RS darurat agar mampu menghadapi lonjakan pasien dalam jumlah yang besar setelah dilakukan rapid tes massal ini. Bahkan pemerintah akan memanfaatkan wisma atlet bekas perhelatan Asian Games dan berbagai hotel BUMN untuk menampung pasien-pasien yang terjangkit virus corona.

Jokowi juga meminta perlindungan maksimal kepada garda terdepan dalam menghadapi penanganan virus corona yang tidak lain adalah tenaga kesehatan dengan cara pemberian insentif, namun tidak jelas insentif apa yang akan diberikan oleh negara.

Mantan Walikota Solo ini pun meminta untuk menunda ekspor masker, dalam keadaan darurat virus corona seperti saat sekarang ini.

“Saya minta kebutuhan alat-alat kesehatan seperti masker, hand sanitizer dipastikan tersedia. Kita untuk eskpor masker dan alat-alat kesehatan yang diperlukan untuk ini lebih baik distop terlebih dahulu, pastikan terlebih dulu stok dalam negeri cukup, kemudian juga ketersediaan bahan baku untuk produksi alat-alat kesehatan yang diperlukan dalam menghadapi situasi ini,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga meminta kepada masyarakat agar tetap bekerja, sekolah, dan beribadah di rumah, guna memutus mata rantai virus yang telah merenggut banyak nyawa tersebut.

Doni Monardo: Tidak Semua Bisa Melakukan Rapid Tes

Sementara itu, Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengatakan, adapun target yang akan melakukan rapid test tersebut diutamakan hanya kepada orang yang melakukan kontak dekat dengan pasien positif corona. Menurutnya, akan sangat sulit apabila seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) melakukan tes tersebut.

“Tentunya targetnya adalah masyarakat secara luas, terutama mereka yang secara fisik telah mengalami kontak dengan pasien positif. Tentunya ini menjadi prioritas utama. Kalau seluruh masyarakat harus mendapat rapid test ini, mungkin akan sangat sulit. Karena akan sangat banyak, penduduk kita jumlahnya 270 juta jiwa. Jadi mungkin hasil koordinasi dengan tim medis di lapangan, dengan mereka yang tergabung dalam tim deteksi yang terdiri dari tim gabungan, ada unsur TNI, unsur Polri, ada juga unsur dari intelejen yaitu BIN, untuk bisa memberikan masukan. Sehingga siapa kira-kira yang wajib melakukan rapid test,” jelas Doni.

Tambahnya, untuk saat ini alat rapid test tersebut belum tersedia di Tanah Air, karena harus memesan dari berbagai negara Seperti Tiongkok, Korea Selatan , dan Jepang. Pihaknya nanti akan meminta izin kepada lembaga terkait untuk mempermudah masuknya alat rapid tes tersebut.

Doni mengatakan bahwa pemerintah sudah mendapatkan beberapa tawaran dari para pengusaha agar bisa memanfaatkan hotel-hotel milik pengusaha tersebut untuk menampung pasien-pasien positif corona. Selain itu bantuan dari instansi masyarakat pun berdatangan untuk bisa meminjamkan tempatnya masing-masing.

Untuk wisma atlet pun, kata Doni akan segera bisa dipakai. Dijelaskannya, wisma tersebut berkapasitas 2000 tempat tidur.

Hasil Tes Corona Presiden Jokowi dan Ibu Iriana Negatif

Sementara itu, Presiden Joko Widodo beserta Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengumumkan hasil tes deteksi COVID-19 Kamis pagi di Istana Bogor, (19/3) 2020. Dari hasil yang diterima, keduanya dinyatakan negatif COVID-19.

“Saya dan Ibu Iriana sudah melaksanakan tes deteksi COVID-19 empat hari yang lalu, dan sudah keluar hasil tesnya. Alhamdulillah dinyatakan negatif,” ujar Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada tenaga medis yang sedang bekerja dan merawat para pasien yang terinfeksi virus corona.

“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada para dokter, para perawat dan seluruh jajaran rumah sakit, yang sedang bekerja keras penuh dedikasi dalam melayani dan merawat para pasien yang terinfeksi COVID-19,” jelasnya. [gi/ab]

Lihat komentar (1)

XS
SM
MD
LG