Tautan-tautan Akses

Kekurangan Reagen, Sejumlah Laboratorium Tidak Bisa Tes Covid-19


Seorang petugas kesehatan membawa sampel darah saat tes cepat virus corona di sebuah rumah sakit di Jakarta, 28 April 2020. (Foto: AP))
Seorang petugas kesehatan membawa sampel darah saat tes cepat virus corona di sebuah rumah sakit di Jakarta, 28 April 2020. (Foto: AP))

Target pemerintah untuk bisa melakukan tes deteksi virus corona dengan menggunakan metode real time PCR sebanyak 10.000 per hari tampaknya akan terhambat karena langkanya reagen PCR untuk menunjang tes ini.

Juru bicara penanganan kasus virus corona dr. Achmad Yurianto mengatakan dari 89 laboratorium yang digunakan untuk melakukan tes PCR Covid-19, beberapa di antaranya tidak bisa beroperasi karena masih kurangnya alat penunjang untuk melakukan tes PCR, yaitu reagen.

Reagen adalah sejenis bahan dasar yang diperlukan dalam PCR. Yurianto tidak merinci berapa jumlah laboratorium yang berhenti beroperasi.

Hingga saat ini pemerintah Indonesia masih mengandalkan reagen impor untuk melakukan tes Covid-19 ini. Hal ini sulit didapatkan pada masa pandemi ini karena banyak negara lain yang juga membutuhkannya.

Data distribusi alkes untuk penangangan Covid-19 di Indonesia per 2 Mei 2020. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Data distribusi alkes untuk penangangan Covid-19 di Indonesia per 2 Mei 2020. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)

“Sampai saat ini dari laboratorium yang ada, ada beberapa yang saat ini tidak bisa melakukan pemeriksaan lagi, reagennya masih belum sampai. Namun, sebagian besar sudah bisa melaksanakan, dan hari ini pun sudah kita bantu tambahan reagennya,” ujarnya dalam telekonferensi pers di Gedung BNPB Jakarta, Sabtu (2/5).

Adapun jumlah penduduk yang sudah dilakukan tes real time PCR Covid-19 sebanyak 79.868 orang.

"Kita sudah menyelesaikan pemeriksaan spesimen sebanyak 107.944 dari sekitar 79.868 orang,” kata Yuri.

Lanjutnya, pada Sabtu (2/5) jumlah kasus corona di Indonesia menjadi 10.843 setelah ada penambahan kasus baru sebanyak 292 orang.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Dr. Achmad Yurianto, saat memberi keterangan pers, Sabtu, 2 Mei 2020. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Dr. Achmad Yurianto, saat memberi keterangan pers, Sabtu, 2 Mei 2020. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)

Sebanyak 74 pasien sudah diperbolehkan pulang, sehingga total pasien yang telah pulih sampai detik ini mencapai 1.665 orang.

Apabila melihat sebaran kasus sembuh dari 34 Provinsi di Tanah Air, DKI Jakarta menjadi wilayah dengan sebaran pasien sembuh terbanyak yakni 513, disusul Jawa Timur sebanyak 165, Jawa Barat 147, Sulawesi Selatan 145, Bali 129 dan wilayah lain di Indonesia.

Sayangnya, angka kematian masih terus bergerak naik. Tercatat, sebanyak 31 orang meninggal dunia. Total penderita yang meninggal pun menjadi 831.

Kemudian untuk jumlah orang dalam pemantauan (ODP) menjadi 235.035 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) menjadi 22.545 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 321 kabupaten/kota di Tanah Air.

Strategi Baru

Dalam kesempatan yang berbeda Ketua Gugus Tugas Penanganan Percepatan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan pihaknya akan melakukan strategi baru dalam mengatasi pandemi ini di Indonesia. Selain pendekatan secara medis, penanganan Covid-19 juga harus dilakukan melalui pendekatan secara psikologis yang mengarah ke upaya pencegahan.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Percepatan Covid-19 Doni Monardo. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Ketua Gugus Tugas Penanganan Percepatan Covid-19 Doni Monardo. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)

Hal itu menjadi sangat penting, sebab jumlah tenaga medis beserta infrasktruktur yang dimiliki pemerintah saat ini terbatas. Sehingga, ia menginginkan agar keseimbangan antara medis dan psikologis dapat berjalan beriringan.

"Keseimbangan itu harus kita jaga," jelas Doni lewat siaran persnya di Jakarta.

Lanjutnya, Doni juga berpendapat bahwa semestinya dokter tidak menjadi garda terdepan dalam upaya penanganan, tetapi harus menjadi kekuatan terakhir. Pengertian tersebut dijelaskan Doni dengan maksud bahwa masyarakat harus bisa disehatkan sehingga dokter dapat diselamatkan.

"Dokter bukan jadi benteng utama, tapi benteng terakhir," kata Doni.

Data penyebaran Covid-19 di Indonesia per 2 Mei 2020. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Data penyebaran Covid-19 di Indonesia per 2 Mei 2020. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)

Oleh sebab itu, strategi selanjutnya yang perlu dijalankan adalah mendorong terpenuhinya gizi masyarakat untuk meningkatkan imunitas, kemudian juga sekaligus menggerakkan roda perekonomian. Ia berprinsip dalam menyelesaikan bencana, tidak boleh memunculkan bencana baru. Sehingga pantang bagi dia untuk menyelesaikan masalah namun dengan membuat masalah baru.

"Hungry man becomes angry man. Kita tidak ingin arahnya ke sana," ujar Doni.

Bantu Petani

Berkaitan dengan sektor perekonomian, pihaknya telah mengantongi data bahwa ada 2,5 juta petani yang kesulitan menjual hasil pertanian dan perkebunan sebagai dampak dari pandemi Covid-19 ini. Untuk itu, Doni mendorong kolaborasi kementerian/lembaga terkait, khususnya Kementerian Perindustrian dan seluruh kepala daerah untuk mengatasi masalah tersebut dengan inovasi yang tetap menerapkan protokol kesehatan.

Data harian kasus Covid-19 di Indonesia per 2 Mei 2020. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Data harian kasus Covid-19 di Indonesia per 2 Mei 2020. (Foto: Badan Nasional Penanggulangan Bencana)

Ia mencontohkan apa yang sudah dijalankan dengan baik di Jawa Tengah, Salatiga dan Sumatera Barat, di mana pasar tradisional tetap berjalan dengan penerapan yang berbeda dari biasanya.

Para pedagang diberikan jarak aman sesuai protokol kesehatan dan berjualan di luar ruangan yang telah diatur oleh pemerintah daerah setempat. Penjual juga diwajibkan untuk melaksanakan anjuran pemerintah dengan tetap memakai masker dan tetap menjaga jarak aman. [gi/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG