Tautan-tautan Akses

Jokowi: Wabah Corona Ungkap Banyak Kekurangan di Sektor Kesehatan


Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, 18 Maret 2020. (Foto: Twitter/@jokowi)
Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, 18 Maret 2020. (Foto: Twitter/@jokowi)

Pemerintah mengakui Indonesia masih banyak memiliki kekurangan di sektor kesehatan. Fakta itu tergambar jelas saat Indonesia menghadapi COVID-19.

Presiden Joko Widodo menjelaskan berbagai kekurangan pada sektor kesehatan itu terlihat dari pemenuhan kebutuhan bahan baku obat dan alat kesehatan yang mayoritasnya masih diperoleh dari negara lain alias impor.

Hal tersebut diutarakannya dalam pembukaan membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) melalui konferensi video, di Jakarta, Kamis (30/4).

“Sebagai contoh, apa yang terjadi di sektor kesehatan, industri farmasi, bahan baku obat. Kita saat ini masih impor. 95 persen masih impor. Alat-alat kesehatan, ada tidak? Apa yang bisa kita produksi sendiri dan apa saja yang kita beli dari negara lain? Sekarang kelihatan semuanya. Lalu bagaimana dengan tenaga medis, rasio dokter, rasio dokter spesialis, perawat, apa cukup menghadapi situasi seperti saat ini?,” ungkap Jokowi.

Jokowi juga mengatakan, sampai kini Indonesia masih menghadapi penyakit menular lainnya seperti TBC. Indonesia masih menjadi satu dari tiga negara yang mempunyai jumlah terbesar penderita penyakit ini setelah India dan China.

Mantan Wali Kota Solo ini juga menambahkan berdasarkan jumlah penduduk, rasio ketersediaan jumlah tempat tidur di rumah sakit masih sangat kurang.

“Kemudian, rasio jumlah tempat tidur, berdasarkan jumlah penduduk, Indonesia juga memiliki rasio masih kecil, 1,2 per 1.000. Artinya hanya tersedia 1,2 tempat tidur untuk 1.000 penduduk. Dibandingkan negara lain, Indonesia juga masih kalah. India 2,7 per 1.000, China 4,3 per 1.000, dan tertinggi Jepang 13 per 1.000. Kemudian bagaimana dengan laboratorium? Berapa kita punya? Bagaimana peralatannya? SDM-nya? “ tambahnya.

Menurutnya, wabah COVID-19 ini mengingatkan semua pihak untuk melakukan reformasi besar-besaran di sektor kesehatan di Tanah Air. Ia meminta agar Indonesia bisa memaksimalkan semua potensi untuk memperkuat sektor kesehatan, seperti memproduksi sendiri bahan baku obat dan alat kesehatan.

“Semuanya harus kita hitung karena melihat betapa pentingnya health security di masa-masa yang akan datang,” paparnya.

Dalam kesempatan ini, Jokowi juga optimis Indonesia bisa bangkit dan pulih dari pandemi COVID-19 pada tahun depan.

“Saya optimis, tahun 2021 adalah tahun recovery, tahun pemulihan, dan tahun rebound. Untuk itu, selain kecepatan dalam mengatasi COVID-19, kita juga perlu kecepatan untuk pulih, kecepatan untuk recovery. Saya melihat negara yang akan menjadi pemenang, bukan hanya negara yang berhasil cepat mengatasi COVID-19, tetapi juga negara yang cepat melakukan pemulihan, cepat melakukan recovery,” tegasnya.

Pada Musrenbangnas kali ini, Jokowi menekankan perencanaan tahun 2021 harus bisa mengadaptasi perkembangan situasi. Dengan adanya pandemi ini, kata Jokowi, pemerintah sudah melakukan berbagai realokasi dan refocusing anggaran belanja negara secara besar-besaran. Pergeseran prioritas tersebut difokuskan kepada tiga hal yaitu kesehatan, jaring pengaman sosial bagi warga miskin dan stimulus ekonomi bagi para pelaku usaha untuk mencegah terjadinya PHK secara besar-besaran.

Akibat COVID-19, Target Pembangunan Nasional Meleset

Sementara itu, Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan wabah COVID-19 cukup menghambat target pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024.

“Koreksi terhadap sasaran ekonomi yang turun cukup tajam pada tahun 2020 dan berpengaruh pada tahun 2021. Dampak lainnya yaitu berkurang pembiayaan pembangunan pada tahun 2020 akibat pengalihan pembiayaan pembangunan penanganan COVID-19 dengan mempertimbangkan asumsi bahwa pandemi COVID-19 Insya Allah bisa berakhir dalam waktu tidak lama lagi pada tahun 2020 ini,” ungkap Suharso.

Pihaknya menegaskan bahwa rencana kerja anggaran pemerintah (RKAP) 2021 akan diarahkan kepada pemulihan sosial ekonomi. Langkah itu diambil untuk mengejar target RPJMN 2020-2024 yang terancam meleset akibat Pandemi COVID-19.

“Untuk itu tema RKP 2021 adalah mempercepat pemulihan ekonomi dan reformasi sosial dengan fokus pada pemulihan industri pariwisata dan investasi. Reformasi sistem kesehatan nasional, reformasi sistem jaringan pengaman sosial dan reformasi sistem ketahanan negara,” jelasnya.

Kasus Corona di Indonesia Capai 10.118

Juru bicara penanganan kasus virus Corona Dr Achmad Yurianto melaporkan masih adanya penambahan kasus baru COVID-19. Pada hari Kamis (30/4) tercatat ada 347 kasus baru sehingga total kasus menjadi 10.118.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, dr. Achmad Yurianto. (Foto: Satgas Penanganan Covid-19)
Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, dr. Achmad Yurianto. (Foto: Satgas Penanganan Covid-19)

Dari jumlah kasus itu, ia menjelaskan mayoritas yang terinfeksi virus ini adalah kelompok usia produktif yaitu antara 30-59 tahun. Ia menduga hal ini dikarenakan kelompok usia tersebut mempunyai mobilitas yang tinggi. Menurutnya, hal itu juga yang menyebabkan angka kesembuhan pasien COVID-19 terus bertambah setiap harinya, dikarenakan mempunyai imunitas yang baik.

“Sebaran umur, 54 persen kelompok umur 30 sampai 59 tahun. Inilah kelompok terbanyak," ujar Yuri.

Kemudian rentang usia 60 hingga 79 tahun sebanyak 16 persen. Sementara rentang usia 15 - 29 tahun sebanyak 15 persen dan balita 0,6 persen. Lanjutnya, sebanyak 131 pasien juga dilaporkan sembuh hari ini. Total pasien yang telah pulih dari COVID-19 mencapai 1522 orang.

Namun delapan orang meninggal dunia sehingga menambah jumlah total korban tewas menjadi 792 orang.

Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) terus bertambah menjadi 230.411 sementara jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) menjadi 21.829. [gi/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG