Tautan-tautan Akses

Kecerdasan Buatan Bantu Atasi Kelaparan Global


Seorang petani Joice Chimedza memanen jagung di lahan pertaniannya di Norton, kawasan pertanian di luar Ibu Kota Zimbabwe, Harare, 10 Mei 2016.

Meski makanan berlimpah di seluruh dunia, PBB melaporkan 815 juta orang atau setara dengan 11 persen dari penduduk dunia, mengalami kelaparan pada 2016. Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan bisa membantu, tapi ada tantangan yang menyulitkan teknologi dari dunia maju mencapai negara berkembang.

Kelaparan melanda satu dari sembilan orang di seluruh dunia, dan angkanya meningkat. Kemiskinan bukan penyebab satu-satunya, kata Robert Opp, Program Pangan Dunia PBB.

“Kami melihat semakin banyak kelaparan karena kehilangan tempat tinggal terkait konflik dan bencana alam,” kata Opp.

Organisasi-organisasi kemanusiaan memanfaatkan teknologi-teknologi baru seperti kecerdasan buatan atau AI untuk mengatasi kelangkaan pangan global.

“AI membantu meningkatkan kapasitas manusia. Jadi, ini bukan soal menggantikan peran manusia dan hal-hal lain. Tapi kita bisa melakukan lebih banyak hal dan melakukannya dengan lebih baik dibandingkan manusia saja,” kata Opp menambahkan.

Kecerdasan buatan bisa menganalisa data dalam jumlah besar untuk membantu para petani di negara-negara berkembang dan menemukan wilayah yang terkena dampak konflik dan bencana alam. Data itu kemudian bisa diakses oleh para petani dari ponsel mereka.

“Misalnya, apabila Anda menggunakan data khusus dan pemetaan dan menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisanya, Anda bisa mengirim informasinya kepada saya. Intinya, Anda bisa membantu memberitahu saya kapan waktu yang tepat untuk bercocok tanam. Apa yang harus ditanam. Bagaimana menanamnya,” kata Uyi Stewart dari Yayasan Bill dan Melinda Gates.

Zenia Tata dari Xprize mengatakan “ketika kita mulai memadukan teknologi, kecerdasan buatan, robotik, sensor – kita melihat hasil positifnya pada kebun-kebun untuk produksi, untuk meningkatkan hasil panen.”

Tetapi negara-negara berkembang seringkali merupakan yang terakhir menerima teknologi baru ini.

“Ada 815 juta orang kelaparan dan saya yakin bahwa hampir 814 juta dari 815 juta itu tidak punya ponsel,” kata Uyi Stewart dari Yayasan Bill dan Melinda Gates.

Dan meskipun teknologi tersedia, tantangan lain masih ada.

“Banyak dari orang yang kelaparan itu tidak bisa berbahasa Inggris, jadi ketika dia kita memiliki teknologi ini, bagaimana kita bisa meneruskannya kepada mereka?” ujar Uyi Stewart dari Yayasan Bill dan Melinda Gates.

Meskipun perlu waktu bagi teknologi baru untuk mencapai negara-negara berkembang, banyak orang berharap kemajuan semacam itu pada akhirnya akan mencapai para petani dikawasan yang mengalami kelangkaan pangan. [vm/al]

XS
SM
MD
LG