Tautan-tautan Akses

Kasus Pencurian Identitas Saat Tes Masuk Universitas Kejutkan China


Ilustrasi. Siswa menghadiri orientasi siswa baru di University of Texas di Dallas di Richardson, Texas, 22 Agustus 2015. (Foto: AP)

Chunxiu Chen adalah putri petani miskin di China, namun dia bertekad untuk meraih pendidikan di universitas karena dia bercita-cita masuk ke dalam masyarakat elit di negerinya. Dia giat belajar serta berkinerja bagus dalam semua ujian masuk, tetapi meskipun demikian, dia gagal diterima di universitas.

Tahun ini, setelah 16 tahun bekerja sebagai pekerja pabrik, pelayan restoran, dan guru taman kanak-kanak, Chunxiu Chen akhirnya tahu mengapa ia tidak diterima di universitas. Apa yang ditemukannya mengejutkan.

Dia diberi tahu bahwa seorang mahasiswa lain dengan nilai jauh lebih rendah, tetapi orang tuanya yang memiliki koneksi telah mencuri identitasnya, dan mengambil tempat kuliahnya di sebuah universitas di provinsi Shandong. Penyamar itu kemudian memperoleh pekerjaan di pemerintahan daerah dan masih tetap menggunakan identitas Chen.

Kasus ini menarik perhatian luas di China, dimana kantor berita pemerintah Xinhua minggu lalu menyerukan kepada penguasa agar menyelidiki secara menyeluruh orang-orang yang bertanggung jawab atas penipuan ini.

Sejak kisah Chen menjadi berita, korban-korban lain juga menceritakan pengalaman yang mirip.

“Kasus-kasus tragis yang telah dipaparkan ini baru puncak gunung es. Kebanyakan kasus masih belum terbongkar,” kata Hu Jia, seorang aktivis hak-hak asasi terkenal di Beijing. “Faktanya, meskipun ada pemaparan oleh media di era modern dilengkapi dengan internet dan perhatian dari dunia luar, hanya sedikit kasus yang berhasil dibongkar," lanjutnya.

Ilustrasi. Kendaraan terlihat di depan gedung nomor 1 Rumah Sakit Pertama Universitas Kedokteran China di Shenyang, 13 Juli 2017. (Foto: Reuters)
Ilustrasi. Kendaraan terlihat di depan gedung nomor 1 Rumah Sakit Pertama Universitas Kedokteran China di Shenyang, 13 Juli 2017. (Foto: Reuters)

Menurut sebuah laporan investigasi yang dilakukan oleh Harian Southern Metropolis, 14 universitas di provinsi Shandong berhasil mengidentifikasi 242 orang yang dicurigai menggunakan nama orang lain untuk masuk ke Pendidikan tinggi antara 2018 dan 2019.

Pengamat politik China mengatakan, perilaku seperti itu mencerminkan sebuah kenyataan lebih luas di China, yakni kelas bawah yang rentan acapkali dikorbankan atau ditipu oleh orang-orang kaya dan memiliki pengaruh.

Pola itu khususnya terlihat pada ujian masuk universitas, satu-satunya peluang untuk warga Tionghoa kelas bawah untuk menaiki jenjang lebih tinggi di dalam masyarakat. Tetapi persaingan untuk sejumlah bangku kuliah yang terbatas sangat berat; dalam bahasa kiasnya, orang Tionghoa menggambarkannya sebagai “ribuan tentara yang berusaha menyeberangi sebuah jembatan papan tunggal.”

Hu Jia mengatakan pencurian identitas terutama paling sering terjadi di tempat yang persaingannya paling sengit, seperti provinsi berpenduduk padat, Shandong, Henan, dan Sichuan. Juga kebanyakan korbannya adalah perempuan.

Katanya, orang tua yang berpengaruh dan kaya akan menyuap atau berkolusi dengan petugas penerimaan mahasiswa di universitas untuk membantu anak-anak mereka yang nilainnya rendah. Hal ini berdampak pada calon mahasiswa dengan nilai bagus terjungkal dalam seleksi di universitas.

Menurut Hu Jia, ketika penipuan seperti ini terbongkar, keluarga mahasiswa penyamar ini sering menggunakan uang atau koneksinya untuk memecahkan “masalahnya.” Keluarga penyamar yang mencuri identitas Chen juga menawarkan hal seperti itu, tetapi Chen telah menyewa seorang pengacara dan merencanakan untuk mengajukan kasusnya ke pengadilan.

Hu Ping, seorang komentator politik yang tinggal di New York, mengatakan, penyalah gunaan sistem ujian masuk universitas ini bisa bertahan selama ini karena pelanggarnya tidak menghadapi ancaman hukuman yang serius.

“Sistem ujian penerimaan universitas” China harus menjatuhkan sanksi dan hukuman yang berat dalam kasus pencurian identitas, karena ini merupakan satu-satunya peluang untuk puluhan ribu warga muda dari keluarga miskin untuk mengubah nasib mereka,” katanya.

“Ini juga mencerminkan kurangnya pengawasan efektif terhadap sistem pendidikan di China, memudahkan seorang penyamar muncul. Selain itu, diluar sistem pendidikan, tidak ada mekanisme pemantauan yang luas, khususnya, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers. [jm/ii]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG