Tautan-tautan Akses

Jokowi Lakukan Kunjungan Nostalgia ke Almamaternya Fakultas Kehutanan UGM


Presiden Jokowi memberikan kuliah umum pada raat terbuka memperingati dies natalis ke-68 UGM, Selasa (19/12). (Foto Humas UGM)

Presiden Joko Widodo hari Selasa (19/12/17) melakukan kunjungan nostalgia ke almamaternya Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada UGM dan bertemu dosen dan teman-teman semasa kuliah. Tetapi dalam kesempatan itu presiden justru menyampaikan rasa kecewa terhadap pengelolaan hutan di Indonesia.

Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan nostalgia di almamaternya Fakultas Kehutanan UGM Selasa siang (19/12/17) usai memberikan kuliah umum pada peringatan Dies Natalis ke-68 UGM.

Mengidentifikasi dirinya 37 tahun lalu sebagai mahasiswa berambut gondrong dan mengenakan celana panjang model cut-bray yang populer waktu itu, presiden mengatakan ia pernah bercita-cita menjadi pegawai Perhutani dan mengajukan lamaran tetapi gagal.

Dalam kunjungan nostalgia itu, Jokowi bertemu dengan dosen pembimbing skripsinya Kasmujo (68 tahun) serta teman-teman kuliah satu angkatan tahun 1980, lalu melihat pameran foto-foto lama ketika ia mahasiswa dan aktif pada komunitas pendaki gunung, dan menanam pohon Cendana (Santalun Album).

Presiden Jokowi menanam pohon Cendana (Santalun Album) di Fakultas Kehutanan UGM, disaksikan dari kiri Menteri Ristek DIkti Prof. Mohamad Nasir, Mensesneg Prof Pratikno, Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X, Ibu Negara dan paling kanan Rektor UGM Prof.Pan
Presiden Jokowi menanam pohon Cendana (Santalun Album) di Fakultas Kehutanan UGM, disaksikan dari kiri Menteri Ristek DIkti Prof. Mohamad Nasir, Mensesneg Prof Pratikno, Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X, Ibu Negara dan paling kanan Rektor UGM Prof.Pan

Tetapi, ketika berbicara di forum nostalgia itu, Jokowi justru menyatakan kecewa terhadap pengelolaan hutan di Indonesia. Biaya besar untuk menanam pohon yang digelontorkan ke kementerian Kehutanan belum kunjung menghasilkan hutan.

“Di Kementerian Kehutanan sudah puluhan triliun biaya dikeluarkan, tunjukkan kepada saya hutan yang sudah jadi, tidak ada. Kalau tidak kita bangun hutan-hutan, nanti hutan konservasi digerogoti terus, lama-lama hilang hutannya. Kita ini bisa tetapi tidak mau melakukan. Kita memiliki lahan yang sangat subur tetapi terlalu banyak lahan yang kita terlantarkan dan tidak kita urus. Urusan ini akan saya kejar terus. Mulai saat ini, uang tu harus jadi pohon hidup, hutan dan harus bisa memakmurkan rakyat,” tegas Jokowi.

Presiden Jokowi juga membandingkan peran sektor kehutanan di Indonesia dengan Norwegia, yang ia sebut telah berkontribusi besar bagi pendapatan per-kapita negara tersebut. Indonesia menurutnya harus bisa memperoleh pemasukan negara yang lebih besar dari sektor kehutanan.

Presiden Jokowi (tengah) berfoto bersama teman-teman kuliah satu angkatan tahun 1980 dalam pertemuan nostalgia di Fakultas Kehutanan UGM, Selasa (19/12). (Foto VOA/Munarsih)
Presiden Jokowi (tengah) berfoto bersama teman-teman kuliah satu angkatan tahun 1980 dalam pertemuan nostalgia di Fakultas Kehutanan UGM, Selasa (19/12). (Foto VOA/Munarsih)

Kasmujo, mantan dosen pembimbinng skripsi Jokowi yang kini mengajar tentang kehutanan di Sekolah Vokasi UGM menilai wajar jika presiden kecewa dengan pengelolaan hutan di Indonesia.

“Ini masa transisi (pengelolaan hutan), perlu waktu untuk pas dengan visi dan misi kehutanan yang sebenarnya. Kalau pak Jokowi komentar seperti itu wajar karena masa transisi setelah semuanya masuk BUMN tentu ada gap, tetapi di beberapa tempat menunjukkan perubahan yang bagus,” ujar Kasmujo.

Sementara itu, ketika memberikan kuliah umum pada peringatan Dies Natalis ke-68 UGM, presiden Jokowi minta agar perguruan tinggi lebih responsif terhadap kemajuan teknologi yang cepat dewasa ini.

“Saya berharap agar pendidikan tinggi mampu meningkatkan perannya sebagai bagian penting dari ekosistem untuk mengembangkan keriwausahaan, mencetak sociopreneur, cara kerja perguruan tinggi harus inovatif, pendidikan harus dilaksanakan dengan cara-cara baru, dengan inovasi dan kreatifitas. Kurikulum dan agenda riset harus kita benahi bersama untuk disesuaikan dengan teknologi baru dan budaya milenial,” kata Jokowi.

Merespon imbauan presiden Jokowi. I Made Andi Arsana PhD yang juga Kepala Urusan Internasional UGM mengatakan, fokusnya terletak pada komitmen dosen.

“Dosennya menggunakan teknologi dalam pengajaran, kedua bidang riset teknologi dalam konteks kita menciptakan atau mengembangkan teknologi untuk aplikasi-aplikasi. Itu erat kaitannya dengan riset, dan riset sekarang juga tidak lagi linear,” tukas Arsana.

Sedangkan Rektor UGM Prof. Panut Mulyono dalam pidatonya menegaskan komitmen UGM sebagai pemandu peradaban baru Indonesia di era sekarang ini. [ms/al]

Jokowi Lakukan Kunjungan Nostalgia ke Almamaternya Fakultas Kehutanan UGM
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:58 0:00

XS
SM
MD
LG