Tautan-tautan Akses

Jokowi Imbau Masyarakat agar Tak Khawatir dengan Virus Corona Inggris B117


Seorang perempuan sedang makan diapit poster Kanselir Jerman Angela Merkel dan mantan presiden AS Donald Trump, untuk menjaga jarak aman sebagai pencegahan COVID-19 di sebuah restoran di Jakarta, Kamis, 4 Maret 2021. (Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/Reuters)

Presiden Joko Widodo meminta masyarakat untuk tidak khawatir munculnya mutasi COVID-19 B117 dari Inggris, yang sudah masuk ke Tanah Air.

Presiden Joko Widodo mengimbau kepada seluruh masyarakat agar jangan khawatir dan panik terkait masuknya varian baru virus corona, B117, yang berasal dari Inggris.

“Dua orang yang terpapar varian baru tersebut, saat ini sudah negatif. Dan belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa varian baru ini lebih mematikan,” kata Jokowi, di Jakarta, Kamis (4/3).

Presiden Joko Widodo meminta masyarakat untuk tidak khawatir munculnya mutasi COVID-19 B117 dari Inggris, yang sudah masuk ke Tanah Air. (Foto: Biro Setpres)
Presiden Joko Widodo meminta masyarakat untuk tidak khawatir munculnya mutasi COVID-19 B117 dari Inggris, yang sudah masuk ke Tanah Air. (Foto: Biro Setpres)

Jokowi mengajak semua lapisan masyarakat untuk melakukan pencegahan agar tidak terinfeksi virus varian baru itu dengan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat, seiring dengan percepatan pelaksanaan vaksinasi COVID-19.

Sementara, juru bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Prof Wiku Adisasmito, mengatakan vaksin COVID-19 yang digunakan di Indonesia masih efektif untuk melawan mutasi virus COVID-19 asal Inggris B117.

“Oleh karena itu kami meminta masyarakat tidak perlu khawatir dengan dampak muncul varian COVID-19 B117 terhadap efikasi vaksin. Namun demikian kami meminta kepada masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan sebagai langkah pencegahan penularan COVID-19,” kata Wiku.

Ditambahkannya, banyak pemberitaan simpang siur terkait mutasi virus COVID-19 B117 yang menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat. Ia menekankan bahwa munculnya varian baru dari sebuah virus adalah hal lazim yang ditemui, terutama pada masa pandemi.

“Seiring dengan potensi virus ini bermutasi, maka peneliti pun terus melakukan penelitian lebih lanjut apa saja mutasi dan varian baru yang muncul. Hal ini dimaksudkan agar nantinya, kita mengerti apa saja implikasi dari varian baru tersebut. Dan tentunya solusi untuk menghadapinya,” jelasnya.

Dalam telekonferensi pers di Graha BNPB , Jakarta, Selasa (2/3) Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito tidak mengungkapkan lokasi ditemukannya pasien COVID-19 dengan Varian Baru asal Inggris (Foto:VOA)
Dalam telekonferensi pers di Graha BNPB , Jakarta, Selasa (2/3) Jubir Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito tidak mengungkapkan lokasi ditemukannya pasien COVID-19 dengan Varian Baru asal Inggris (Foto:VOA)

Mutasi adalah proses terjadinya kesalahan saat virus memperbanyak diri, sehingga bentuk virus anakan tidak sama dengan virus aslinya atau parental strain. Varian adalah virus yang dihasilkan dari mutasi ini. Jika varian menunjukkan sifat fisik yang baik, jelas maupun samar, dan berbeda dengan virus aslinya, varian disebut sebagai strain.

Tujuan virus bermutasi, kata Wiku, adalah untuk beradaptasi dengan lingkungan. Terkadang virus dapat muncul dan bertahan. Namun, juga dapat muncul lalu menghilang karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Menurut Wiku, sejak kemunculan di Wuhan, China pada akhir 2019, virus penyebab COVID-19 sudah bermutasi menjadi beberapa varian. Selain B117, ada B1351 di Afrika Selatan, yang merupakan mutasi dari virus B117 dan P1 di wilayah Brazil.

Jokowi Imbau Masyarakat Tak Khawatir dengan Virus Corona Inggris B117
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:08 0:00

Ia menjelaskan, studi analisa genetik virus yang dilakukan saat ini, dapat membantu pemerintah untuk memahami bagaimana perubahan bentuk tersebut dapat mempengaruhi luas penyebaran virus, efek gejala pada kasus positif, kemunculan alat testing, respons terhadap prosedur pengobatan, dan pengaruh terhadap efektivitas vaksin.

Menurutnya, semakin sedikit keberadaan mutasi virus, maka akan semakin efektif pula vaksin yang sedang dikembangkan saat ini. Untuk mencegah dampak negatif dari mutasi virus ini, Wiku mengingatkan selain menerapkan protokol kesehatan yang ketat, masyarakat diimbau tidak melakukan mobilitas yang tidak perlu.

Hasil Penelitian B117

Ahli Epidemiologi dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan pernyataan Presiden yang menyebutkan belum ada penelitian yang membuktikan bahwa varian baru ini lebih mematikan tidak benar. Faktanya, ujar Dicky, varian baru virus ini lebih cepat menular dan lebih mematikan.

Berdasarkan penelitian tim riset pemerintah Inggris pada 22 Januari, papar Dicky, varian baru itu 30-40 persen lebih mematikan.

“Jadi saya kira setelah satu tahun pandemi, yang mensuplai informasi ke Presiden ini harus betul-betul selektif, harus yang benar-benar paham epidemiologi yang sebenarnya supaya beliau terinformasi kondisi dan potensi ancaman sesungguhnya bukan laporan asal bapak senang,” ujar Dicky kepada VOA.

Seorang perempuan mengenakan masker untuk mencegah penularan COVID-19 sedang berbelanja di sebuah pasar tradisional di Jakarta, 1 Maret 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Reuters)
Seorang perempuan mengenakan masker untuk mencegah penularan COVID-19 sedang berbelanja di sebuah pasar tradisional di Jakarta, 1 Maret 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Reuters)

Maka dari itu, ujarnya, pemerintah harus meningkatkan kualitas dan kuantitas penanganan pandemi. Makin cepat menular artinya akan semakin banyak orang yang terjangkit virus tersebut. Hal ini, katanya akan diikuti dengan peningkatan rasio kapasitas tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) di ruang isolasi dan ICU bagi pasien COVID-19 dan lebih banyak pasien yang meninggal.

Dicky mencontohkan, Australia merespons penemuan satu kasus B117, yang ditemukan di sebuah hotel karantina, dengan cepat. Pemerintah Australia pada saat itu langsung melakukan lockdown atau karantina wilayah selama tiga hari.

Pemerintah Australia kemudian melacak dan menguji kurang lebih 19.000 orang, yang berakhir dengan mengkarantina 120 orang selama kurang lebih dua minggu. Dari hasil pelacakan ini, terdapat tujuh orang yang terjangkit varian baru virus tersebut.

“Ini yang dicontohkan oleh negara yang berhasil, sehingga saat ini tidak ada kasus. Jadi kalau kita mau klaim ini aman, harus begitu dulu, kalau tidak ini namanya klaim yang tidak berdasar,” pungkasnya. [gi/ft]

Recommended

XS
SM
MD
LG