Tautan-tautan Akses

Israel Diperkirakan Alami Lagi Kebuntuan Politik Menyusul Pemilu ke-3


PM Israel Benjamin Netanyahu didampingi istrinya, Sara melambaikan tangan ke arah para pendukungnya di markas besar partai Likud di Tel Aviv, Israel, 3 Maret 2020. REUTERS/Amir Cohen

Israel tampaknya akan kembali mengalami kebuntuan politik, Rabu (4/2), menyusul perhitungan suara terakhir pada pemilu ketiga di negara itu dalam waktu kurang dari satu tahun. Partai Likud, partainya PM Benjamin Netanyahu, unggul namun gagal meraih mayoritas yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan.

Dengan hampir semua surat suara telah dihitung, Likud memimpin dengan 36 kursi, diikuti Partai Biru dan Putih -- partainya Benny Gantz -- dengan 33 kursi. Sementara itu koalisi partai-partai pimpinan Arab berada di posisi ketiga denagn 15 kursi -- yang tertinggi yang pernah mereka raih dalam pemilu.

Dengan dukungan kelompok-kelompok nasionalis dan keagamaan, Likud kini mendapat dukungan 58 dari dari 120 anggota parlemen – kurang tiga kursi untuk meraih mayoritas yang diharapkan.

Hasil akhir perhitungan suara diperkirakan akan dimumkan hari ini. Pengumuman mengalami penundaan karena adanya prosedur verfikasi baru dan persoalan perhitungan sekitar 4.000 surat suara dari para pemilih yang menjalani karantina rumah setelah diketahui kemungkinan terpapar virus korona.

Netanyahu, yang akan diadili dua pekan lagi atas dakwaan korupsi, menyatakan kemenanangannya setelah jajak-jajak pendapat di luar TPS memproyeksikan Partai Likud menjadi faksi terbesar di perlemen dalam pemilu Senin lalu.

Partai-partai yang menentang Netanyahu sebetulnya diproyeksikan meraih mayoritas 62 kursi. Namun mereka sangat terpecah dan tidak mungkin menjalin kerjasama. Mereka mencakup koalisi partai-partai Arab dan sebuah faksi nasionalis sekuler pimpinan Avigdor Lieberman,yang menyatakan terang-terangan menolak beraliansi dengan politisi-politisi Arab. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG