Tautan-tautan Akses

Irigasi Masih Rusak, Petani di Sigi Beralih Tanam Cabai dan Jagung


Kegiatan penanaman benih jagung di sebuah lahan bekas sawah dalam kegiatan masa tanam kedua program pemulihan mata pencaharian pascabencana di Desa Lolu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, 12 November 2019. (Foto: Yoanes Litha/VOA)

Wahana Visi Indonesia membantu petani di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah menanam cabai dan jagung untuk memulihkan mata pencaharian pasca bencana. Cabai dan Jagung dipilih karena wilayah itu masih mengalami kekeringan karena irigasi gumbasa yang rusak akibat gempa pada 2018 masih belum diperbaiki.

Radika Pinto, General Manager Sulawesi dan Maluku Utara di Wahana Visi Indonesia, menjelaskan kepada VOA sejak program itu dimulai pada Januari 2019, pihaknya membantu setidaknya 200 keluarga petani untuk menanam cabai, jagung manis dan jagung kuning untuk pakan ternak.

Ketiga tanaman itu ditanam pada lahan-lahan bekas sawah yang dalam setahun terakhir tidak bisa ditanami padi karena saluran irigasi gumbasa rusak.

Menurut Radika, para petani punya keinginan kuat untuk memulihkan perekonomian mereka asalkan ada bantuan awal, antara lain berupa modal, bibit unggul dan teknologi untuk membuat sumur dangkal.

Komitmen para petani terlihat saat mereka menyisihkan hasil panen masa tanam pertama untuk menambah jumlah sumur dangkal dan untuk membuat sumur dalam. Sumur dalam untuk mendapatkan air bawah pada kedalaman lebih dari 23 meter nantinya bisa untuk mengairi banyak bekas sawah kering agar bisa ditanami kembali.

“Bagi saya itu sudah bukti sederhana bahwa masyarakat ingin kembali pulih dan dengan kemampuan mereka sendiri. Bukan bantuan (dari) siapa, dari hasil panen ini mereka kelola dengan baik,” kata Radika.

Pada 12 November kemarin, sekitar 200 petani di Desa Lolu melakukan penanaman jagung untuk musim tanam kedua.

Saluran irigasi gumbasa yang rusak parah akibat bencana gempa bumi di Desa Lolu, Kabupaten Sigi. Karena belum diperbaiki, areal persawahan di desa itu tidak dapat diolah petani, 12 November 2019. (Foto: Yoanes Litha/VOA)
Saluran irigasi gumbasa yang rusak parah akibat bencana gempa bumi di Desa Lolu, Kabupaten Sigi. Karena belum diperbaiki, areal persawahan di desa itu tidak dapat diolah petani, 12 November 2019. (Foto: Yoanes Litha/VOA)

Safriandi, petani berusia 34 tahun di desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, menyambut baik program itu karena dia dan para petani lain di desanya dapat kembali mengolah lahan.

Dari beberapa kali panen, lahan milik Safriandi seluas 0,3 hektare yang ditanami 1.400 pohon cabai, mampu menghasilkan 500 kilogram cabai. Dengan harga jual Rp 50 ribu per kilogram, dia mengantongi keuntungan 25 juta rupiah dalam satu kali masa tanam.

“Hasil panen ini sudah cukup memuaskan bagi saya. Sudah cukup menutupi kekurangan dari keluarga saya, bisa untuk sekolah saya punya anak,” kata Safriandi.

Pemulihan mata pencaharian bagi para keluarga petani di kabupaten Sigi juga juga akan berdampak pada kesejahteraan anak-anak karena mereka bisa mendapatkan kehidupan yang layak, tutur Radika.

Irigasi Masih Rusak, Petani di Sigi Beralih Tanam Cabai dan Jagung
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:02 0:00

“Kami percaya dengan testimoni yang disampaikan para petani tadi bahwa pendapatan yang mereka dapatkan dari hasil panen ini adalah di peruntukkan untuk anak-anak mereka. Kesehatan, sekolah mereka artinya visi mimpi kami, harapan kami tercapai”.

Menanti Perbaikan Irigasi Gumbasa

Sama seperti petani lain di desanya, Safriandi tidak hanya menggunakan hasil panen cabai untuk kebutuhan rumah tangganya. Tapi dia sisihkan juga untuk membuatkan sumur dangkal untuk para petani lain. Harapannya, mereka juga dapat ikut mengolah lahan pertanian yang terkendala pada kurangnya ketersediaan air. Pembuatan satu sumur dangkal membutuhkan biaya Rp 2 juta rupiah.

Berdasarkan data Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah, Badan Litbang Pertanian pada Juli 2019, dari 29.687 hektare luas lahan sawah di Palu, Sigi dan Donggala, sebanyak 7.356 hektare atau hampir 25 persen di antaranya terdampak bencana. Dari angka itu, sawah yang rusak ringan tercatat 5.831 hektar, rusak sedang 99 hektare dan rusak berat 583 hektare.

Arkan (43), petani di desa Lolu menunjukkan areal persawahan yang kini mengalami kekeringan sejak saluran irigasi gumbasa rusak akibat gempa bumi 28 september 2018 silam, 12 November 2019. (Foto: Yoanes LItha/VOA)
Arkan (43), petani di desa Lolu menunjukkan areal persawahan yang kini mengalami kekeringan sejak saluran irigasi gumbasa rusak akibat gempa bumi 28 september 2018 silam, 12 November 2019. (Foto: Yoanes LItha/VOA)

Meskipun berstatus rusak ringan, namun areal persawahan khususnya di Kabupaten Sigi, tidak dapat diolah karena saluran irigasi gumbasa rusak.

Akibat kerusakan lahan pertanian setidaknya 7.000 petani di Palu, Sigi dan Donggala kehilangan mata pencaharian. Pendapatan rata-rata bulanan para petani terpangkas sebanyak 65 persen hingga 82 persen. Banyak di antara mereka terpaksa bekerja serabutan, misalnya menjadi tukang bangunan, tukang batu atau jasa lainnya, dengan pendapatan berkisar Rp 500 ribu – Rp 900 ribu per bulan.

Arkan, misalnya, petani di kabupaten Sigi itu terpaksa menjadi tukang bangunan sejak sawahnya tak bisa lagi digarap. Padahal, sebelum bencana alam, pria berusia 43 tahun itu bisa meraup Rp 20 juta dari hasil menanam padi di sawah seluas 1,5 hektare miliknya.

“Semua rusak, pokoknya 100 persen saluran irigasi rusak. Kita terpaksa pindah haluan untuk jadi pertukangan,” keluh Arkan.

Ia berharap upaya pemulihan saluran irigasi gumbasa oleh pemerintah bisa segera selesai, agar para petani dapat kembali mengolah lahan sawah.

Presiden Jokowi dalam kunjungan kerja ke Palu pada 29 Oktober 2019 mengatakan pemerintah menargetkan pemulihan daerah irigasi gumbasa seluas 1.700 hektare pada 2019-2020, sedangkan 5.300 hektar sisanya akan dikerjakan pada tahun 2021. [yl/ft]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG