Tautan-tautan Akses

IPU: Jumlah Anggota Parlemen Perempuan Tahun 2017 Hanya Naik 1 Persen


Beberapa Senator perempuan AS saat melakukan konferensi pers di gedung Capitol (foto: ilustrasi).

Menjelang Pekan Perempuan Internasional, Perhimpunan Antar-Parlemen atau Inter-Parliamentary Unions (IPU) mengeluarkan laporan yang menunjukkan sedikit kemajuan dalam meningkatkan jumlah perempuan yang menjadi anggota di badan legislatif di seluruh dunia.

Sebelum tahun 2016, Perhimpunan Antar-Parlemen IPU melaporkan jumlah perempuan yang dipilih menjadi anggota parlemen – atau badan legislatif – di seluruh dunia setiap tahun meningkat sekitar enam persen. Tetapi trend kenaikan yang menggembirakan ini sepertinya sudah berakhir, tambah laporan itu.

Selama dua tahun terakhir, IPU memperoleh temuan, jumlah perempuan yang duduk di parlemen di seluruh dunia meningkat hanya sekitar satu persen. Dikatakan bahwa perempuan mewakili kurang dari seperempat anggota parlemen di seluruh dunia.

Sekjen IPU Martin Chungong mengatakan jumlah itu lebih baik di negara-negara yang memiliki sistem kuota dalam pemilu, dibanding yang tidak memiliki sistem tersebut.

“Jadi ini sebenarnya seruan bagi lebih banyak negara untuk mengadopsi sistem kuota untuk menyeimbangkan arena persaingan buat perempuan. Kita membutuhkan lebih banyak perempuan duduk di parlemen untuk menciptakan masa yang kritis, sehingga keputusan dan hasil yang dikeluarkan diimbangi dengan informasi yang memadai baik dari perspektif laki-laki maupun perempuan. Dan ini merupakan faktor yang sangat utama bagi legitimasi dan efektivitas dalam proses pengambilan keputusan,” kata Chungong.

61 Persen Anggota Parlemen Rwanda, Perempuan

Kajian di tabel Liga IPU yang menampilkan 193 negara, menunjukkan sejumlah titik terang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Rwanda keluar di peringkat teratas dengan lebih dari 61% anggota parlemen perempuan. Senegal berada di posisi kesembilan dengan hampir 42% perwakilan perempuan, mengungguli Norwegia yang berada di posisi kesepuluh. Ini berbanding terbalik dengan Amerika yang berada di peringkat 100 yang hanya memiliki sekitar 19% perempuan di lembaga legislatif.

Laporan itu juga memperoleh temuan, negara-negara Nordic atau yang terdapat di kawasan Eropa Utara memimpin tren ini. Eropa, yang memiliki peningkatan terbesar jumlah perempuan yang duduk di parlemen, juga mencatat penurunan terbesar. Laporan itu menunjukkan perbaikan yang dicapai di Amerika Latin, dimana Argentina, Chili dan Ekuador menjadi pelopornya.

IPU mengatakan negara-negara sub-Sahara Afrika telah mencapai kestabilan, dimana hampir 24% perempuan duduk di parlemen; sementara Aljazair adalah satu-satunya negara di wilayah Arab yang melangsungkan pemilu legislatif tahun lalu.

Partisipasi Perempuan di Badan Legislatif Asia Tenggara Tetap Rendah

Meskipun demikian partisipasi perempuan dalam proses pemilihan di Asia tetap rendah. Laporan itu mengatakan di kawasan Pasifik, jumlah perempuan yang duduk di parlemen baru mencapai 15,5% atau berarti di posisi paling bawah dalam pemeringkatan itu. [em/jm]

XS
SM
MD
LG