Tautan-tautan Akses

Pengadilan Tinggi India Tawarkan Pekerjaan pada 5 Perempuan Korban Serangan Air Keras


Warga transgender India merayakan keputusan MA India untuk mengakui kategori "gender ketiga" (foto: ilustrasi).

Pengadilan Tinggi India telah mengambil langkah yang tidak biasa dengan menawarkan pekerjaan pada lima perempuan korban serangan air keras dan juga warga transgender. Lewat kebijakan yang baru pertama kali diambil ini, pengadilan di New Delhi ini berupaya mempercepat roda keadilan di India, yang terkenal sangat lamban geraknya.

Setelah lelah memperjuangkan keadilan, keenam orang ini kini bisa tersenyum karena mereka menjadi pegawai baru di pengadilan tinggi New Delhi.

Mamta disiram air keras oleh suaminya, dan ia mengira tidak akan pernah bisa melihat dunia lagi.

“Kasus saya sudah sampai di pengadilan Patiala. Entah bagaimana kasus itu didengar Ibu Geeta Mittal dan ia menyadari bahwa kami dalam keadaan menderita, dan korban ketidakadilan. Dengan menawarkan pekerjaan ini, ia menyembuhkan luka kami,” ujarnya.

Nasreen, yang baru bercerai dari suaminya, sedang berupaya membuka lembaran hidup yang baru bagi dirinya dan dua putrinya ketika mantan suaminya menyiramkan air keras ke wajahnya, dan hal itu membuyarkan cita-citanya untuk mulai hidup baru. Meskipun telah menjalani delapan operasi pembedahan namun ia masih belum berani kembali menggeluti kehidupan. Tetapi tawaran pekerjaan dari pengadilan tinggi New Delhi terbukti merupakan obat manjur.

“Saya tidak ingin hidup seperti orang yang tidak berdaya. Saya mengatasi hal itu dengan apa yang saya punya. Kedua putri saya telah memberi kekuatan yang sangat besar pada diri saya dan saya bangga bisa berkarya di pengadilan tinggi,” kata Nasreen.

Sapna bertekad memulai hidup baru dan melupakan serangan air keras terhadapnya. “Serangan air keras itu tidak saja membuat korbannya menderita, tetapi juga seluruh keluarga,” akunya.

Sementara itu, Babli yang transgender, mengalami pengucilan sejak kecil. Tetapi kini ia merasa diterima dan siap membantu orang lain di pengadilan.

‘’Sekarang orang-orang mengundang saya untuk duduk dan makan bersama mereka. Sebelumnya tidak ada yang peduli untuk berbagi tempat duduk dengan saya di dalam bis,” tutur Babli.

Pengadilan tinggi New Delhi berharap agar departemen lain dalam pemerintahan mengikuti teladan ini dan mengambil langkah serupa untuk meringankan penderitaan rakyat, dan memberi orang-orang terpinggirkan kesempatan.

“Semua korban ini telah diberi ganti rugi dalam bentuk uang, tetapi itu tidak cukup. Gagasan utamanya adalah memulihkan keseluruhan jati diri mereka, meningkatkan rasa harga diri mereka dan memberi mereka kesempatan untuk mencapai kesuksesan,” ujar Sanjeev Jain. [em/jm]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG