Tautan-tautan Akses

AS

Iklim Politik Terbukti Picu Stress


Warga AS melakukan protes atas kebijakan "larangan perjalanan" (travel ban) Presiden Donald Trump dalam aksi di Brooklyn, New York 2 Februari lalu (foto: ilustrasi).

Iklim politik di Amerika menimbulkan stress bagi warga Amerika, demikian hasil penelitian terbaru.

Tim peneliti American Psychological Association mendapati bahwa 57% warga Amerika mengatakan, “Iklim politik saat ini sangat atau cukup menjadi sumber stress yang signifikan”, demikian menurut penelitian yang dilakukan bulan Januari lalu.

Hampir separuh warga Amerika atau sekitar 49% mengatakan hasil pemilu presiden Amerika bulan November lalu juga merupakan sumber stress, tetapi perbedaan tingkat stress itu tergantung pada partai responden yang diteliti.

Bagi mereka yang mendukung Partai Demokrat, 72% mengatakan hasil pemilu itu menimbulkan stress. Jawaban serupa disampaikan 26% pendukung Partai Republik.

Ketika ditanya tentang masa depan Amerika, 59% pendukung Partai Republik mengatakan mereka stress. Jawaban yang sama disampaikan 76% pendukung Partai Demokrat.

“Stress akibat isu-isu politik ini sangat memprihatinkan karena warga Amerika sulit melupakannya”, ujar Katherine Nordal, Direktur Eksekutif Praktek Profesional American Psychological Association APA. “Kita dikelilingi oleh pembicaraan, berita dan media sosial yang secara terus menerus mengingatkan kita tentang isu-isu yang paling membuat kita stress”, tambahnya.

Penelitian baru itu dilakukan setelah APA tahun lalu mendapati bahwa pemilu menyebabkan 52% warga Amerika stress.

Penelitian bulan Januari lalu mendapati bahwa prosentase jumlah warga Amerika yang melaporkan bahwa aksi teroris merupakan sumber stress mereka, naik dari 51% pada beberapa bulan sebelumnya menjadi 59%. Penelitian itu juga mendapati peningkatan prosentase jumlah warga Amerika yang stress akibat kekerasan oleh polisi dan keamanan pribadi.

APA mengatakan pendidikan juga memainkan peran dalam stress yang dihadapi warga Amerika. Misalnya 53% orang yang mengenyam pendidikan di atas SMA melaporkan stress akibat hasil pemilu. Dibanding 38% yang berasal dari pendidikan setara SMA atau dibawahnya.

Faktor geografi juga memainkan peran. Enam puluh dua persen warga yang tinggal di perkotaan melaporkan stress, dibanding 45% warga yang tinggal di pinggir kota dan 33% warga yang tinggal di pedalaman.

Peningkatan stress itu mungkin menimbulkan masalah kesehatan ujar APA, yang mengutip warga yang melaporkan peningkatan masalah kesehatan terkait stress dari 71% menjadi 80%. Masalah kesehatan itu mencakup sakit kepala, kecemasan dan depresi.

“Meskipun ini merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi dan tampaknya kecil, hal ini bisa memicu dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari dan kesehatan fisik secara keseluruhan ketika masalah ini berlanjut dalam jangka waktu lama”, ujar Nordal.

APA menyarankan agar orang yang mengalami stress karena pemilu dan iklim politik untuk tidak menyimak berita dan melakukan hal lain. “Cukup membaca saja supaya tetap mendapat informasi, lepaskan diri dari isu-isu itu dan stress yang diakibatkannya. [em/ii]

XS
SM
MD
LG