Tautan-tautan Akses

AS

Ibukota AS Dibuka Kembali, Warga Washington DC Tetap Berhati-hati


Warga Washington DC melakukan aksi unjuk rasa mendukung "Black Lives Matter" di Monumen Martin Luther King, Jr., di Washington DC (19/6).

Ibukota AS perlahan-lahan melonggarkan karantina wilayah COVID-19 ketika sejumlah bisnis yang tidak esensial mulai dibuka kembali bagi penduduk setempat dan para wisatawan.

Wharf, wilayah dermaga yang populer di sekitar Sungai Potomac, biasanya penuh dengan para wisatawan dan penduduk lokal Washington DC sebelum pandemi melanda AS. Pada minggu terakhir Juni ini, ibukota negara Amerika itu perlahan mulai melonggarkan karantina wilayah dimana orang-orang kembali beraktivitas - meskipun tidak ada kerumunan dan pengunjung tetap berhati-hati.

Eva, salah seorang warga DC yang berprofesi di bidang kesehatan mental mengemukakan, “Kemungkinan sejumlah orang masih dalam keadaan sakit dan infeksi gelombang kedua dapat terjadi. Saya juga benar-benar ingin memastikan adanya peluang ekonomi bagi mereka yang layak untuk mendapatkan dan membutuhkannya. Jadi, ini merupakan campuran dari sejumlah kepentingan."

Pada tanggal 17 Juni lalu, Walikota DC Muriel Bowser mengemukakan setelah 13 hari tingkat penyebaran virus pada komunitas mengalami penurunan, ia berharap ibukota Amerika itu dapat beralih ke fase kedua pembukaan kembali pada hari Senin (22/6). Itu akan memungkinkan sekitar 50 orang pelanggan sekaligus masuk ke toko- toko ritel yang tidak esensial, restoran dan tempat ibadah, karena tempat-tempat itu diperbolehkan kembali beroperasi dengan 50% kapasitas.

“Tahapan yang kita capai sudah berada pada angka yang positif dan juga kapasitas layanan kesehatan yang memadai. Selain itu, kita sedang mengarah pada usaha contact tracing yang baik,” ujarnya.

Michael Obindu, seorang warga asal Nigeria yang baru saja lulus dari Howard University dengan gelar Master di bidang keuangan merasa bersyukur. Ia mengungkapkan hal tersebut setelah tiga bulan menjalani karantina wilayah yang diberlakukan secara ketat ketika banyak bisnis ditutup dan meroketnya tingkat pengangguran.

“Saya menyadari kita belum berada di situasi yang aman tapi kenyataannya kita akan menuju ke sana. Saya sangat berharap bagi orang-orang seperti saya, lulusan baru, untuk dapat pekerjaan dan hal-hal terkait lainnya,” kata Obindu.

Khalid Benghallem dari Florida berangkat ke Washington D.C bersama keluarganya dan menyatakan tidak biasanya melihat kota itu sepi, terutama di musim panas. “Saya terbiasa dengan DC yang sibuk dengan keramaian orang-orang. Ketika memasuki kota itu, tidak banyak orang terlihat. Sebenarnya, kami merasa aman, terutama dengan hal yang terjadi di Florida, lonjakan infeksi yang tinggi. Di sini, semua orang mengenakan masker pelindung dan menjaga jarak satu sama lain. Hal yang sangat bagus.”

Hannah, putri Benghallem baru saja menyelesaikan tahun pertamanya dan seperti kebanyakan siswa lainnya, juga beralih melakukan aktivitas belajar secara online dalam beberapa bulan terakhir. Hannah merasa kesepian belajar dari rumah yang tidak sama dengan belajar secara tatap muka di ruang kelas.

Sementara itu, sejumlah orang tampak lebih berani keluar rumah untuk menikmati cuaca hangat, namun sebagian besar masih memilih tetap tenang dan berhati-hati, tidak yakin dengan apa yang akan terjadi dalam pandemi tersebut. [mg/ii]

Lihat komentar

XS
SM
MD
LG