Tautan-tautan Akses

Hasil Survei di Jawa Tengah: Rizieq Shihab Tokoh Idola?

  • Nurhadi Sucahyo

Sosialisasi Mewaspadai Gerakan Radikal di UIN Walisongo Semarang oleh FKPT Jawa Tengah

Sebuah survei yang dilakukan terhadap siswa SMA di Jawa Tengah dan DIY mengungkap fakta menarik. Habib Rizieq ternyata lebih dikenal dan diidolakan daripada M. Quraish Shihab, dan bahkan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Mengapa bisa terjadi?

Anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Mahfud MD mengungkapkan keprihatinan soal radikalisme anak muda. Dalam Diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Jakarta Senin, 21 Agustus 2017 lalu dia menyebut tokoh radikal kini banyak diidolakan.

"Seperti banyak survei, anak muda idolanya adalah kaum radikalis. Ada penelitian di sekolah-sekolah di daerah tertentu. Ditanyakan, siapa idola Anda? Ada Soekarno, Gusdur, tetapi yang paling atas tokoh-tokoh seperti Abu Bakar Baasyir dan Habib Rizieq," kata Mahfud.

Karena itulah, lanjut Mahfud, pemerintah ingin mengembalikan pendidikan Pancasila ke sekolah untuk melawan serangan paham radikal.

Mahfud tentu tidak salah kutip. Sejumlah penelitian memang menunjukkan naiknya tren radikalisme di kalangan anak muda. Salah satu penelitian itu, dilakukan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Semarang yang berada di bawah Kementerian Agama RI. Penelitian bertema Transmisi Nilai-nilai Keagamaan Melalui Organisasi Rohis ini dilakukan pada 17 SMA Negeri di 9 kabupaten/kota di Jawa Tengah dan DIY. Sebanyak 27 peneliti dan sejumlah perguruan tinggi terlibat, dengan menjadikan kegiatan Rohis atau Kerohanian Islam sebagai salah satu fokus penelitian.

Dr Aji Sofanudin, MSi, salah satu anggota tim peneliti menyatakan, sejumlah siswa SMA Negeri setuju mengubah dasar negara Pancasila, memilih pemimpin berdasarkan kesamaan agama, serta pemisahan antara siswa laki-laki dan perempuan dalam kegiatan keagamaan. Penelitian yang dilakukan selama Februari hingga Maret 2017 ini juga berisi pertanyaan mengenai tokoh idola para siswa. Tokoh yang namanya paling banyak disebut, masuk dalam kategori tinggi, diantaranya adalah Habib Rizieq dan Bachtiar Nasir. Lebih jarang disebut atau kategori sedang adalah Aa Gym dan Arifin Ilham. Sedangkan yang paling jarang diidolakan atau dalam tingkat rendah adalah nama-nama seperti M. Quraish Shihab, Hasyim Muzadi, Lukman Hakim Saifuddin, hingga Habib Luthfi bin Yahya yang semuanya adalah tokoh-tokoh muslim moderat.

Aji menyatakan, sejumlah narasumber sekolah menyatakan kecolongan dalam pembinaan keagamaan siswa lewat organisasi kerohanian. Sekolah-sekolah yang siswanya cenderung radikal, ternyata diasuh oleh pihak luar dalam kegiatan keagamaan di luar jam sekolah. Misalnya oleh kelompok mahasiswa maupun organisasi kemasyarakatan tertentu.

“Jadi, jaringan mentoring Rohis yang kami temukan itu ada beberapa pola. Yang pertama adalah pola guru, dimana Rohis itu mentornya para guru siswa sendiri. Kemudian yang kedua pola mahasiswa, dan ketiga adalah pola umum yaitu dari organisasi semacam LSM. Kalau dari guru internal, tidak ditemukan masalah terkait radikalisme. Tetapi kalau yang dari jaringan alumni atau LSM itu ada potensi untuk mengajarkan paham-paham yang tidak mainstream,” kata Aji Sofanudin.

Penelitian ini, tambah Aji, tidak menanyakan lebih lanjut alasan para siswa mengapa menyebut nama seseorang sebagai idolanya. Namun dari nama-nama yang paling sering disebut, dapat disimpulkan mengenai posisi tokoh-tokoh itu dan di mata para siswa. Aji menyebut, masuknya paham radikal melalui organisasi di luar sekolah ini memang melalui proses yang relatif halus.

“Organisasi ini membuat proposal untuk berbagai kegiatan, misalnya kajian, pelatihan, ada juga outbound. Kemudian ada juga yang saya temukan, dimana justru Rohis yang membuat kegiatan baru, kemudian organisasi ini masuk mengisi kegiatan itu. Lalu, karena dianggap baik-baik saja, sekolah membiarkan itu berlangsung,” ujar Aji.

Dihubungi terpisah, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, Najahan Musyafak kepada VOA menilai, munculnya nama-nama yang disebut siswa dalam penelitian itu tidak terlepas dari pemberitaan media. Akhir tahun lalu, nama-nama seperti Habib Rizieq maupun Bachtiar Nasir sangat sering muncul dalam pemberitaan. Tingkat popularitas yang tinggi itulah, yang mempengaruhi persepsi siswa.

Najahan Musyafak, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. (VOA/Nurhadi Sucahyo)
Najahan Musyafak, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. (VOA/Nurhadi Sucahyo)

Selama ini, FKPT Jawa Tengah memang menjadikan anak muda sebagai salah satu fokus sasaran kegiatan. Penyuluhan dan diskusi digelar di berbagai sekolah dan perguruan tinggi sepanjang tahun. Melihat data para pelaku teror selama ini di Indonesia, Najahan yakin proses rekrutmen itu dilakukan ketika mereka masih duduk di bangku sekolah.

“Pelaku bom bunuh diri dan mereka yang termasuk dalam kelompok radikal itu, umurnya rata-rata antara 18-25 tahun. Kalau tindakan jihadnya itu dilakukan di umur itu, maka perekrutannya pada umur antara 16-17, sehingga anak muda ini menjadi prioritas dalam pencegahan dan pencegahan paham radikal di Indonesia. Fakta lain juga menunjukkan, bahwa di perguruan tinggi bersemai organisasi radikal semacam ini,” kata Najahan.

Najahan menilai, perlu ada perubahan paradigma melawan gerakan radikal karena perubahan yang terjadi dalam gerakan itu sendiri. Meski kuat Jawa Tengah dikenal sebagai masyarakat muslim tradisional yang toleran, kini ada pergeseran pola pembelajaran paham agama pada anak muda melalui teknologi. Organisasi gerakan radikal juga telah mau tampil secara terbuka.

“Dulu, organisasi berpaham radikal itu sembunyi-sembunyi. Sekarang mereka justru mendirikan organisasi terbuka yang legal. Mereka membuat yayasan, menyelenggarakan majelis taklim. Ini yang menurut saya harus diwaspadai. Masyarakat juga harus dijelaskan, karena sebagian besar tidak memahami pergeseran pola semacam ini,” tambah Najahan.

Balai Litbang Agama Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2016 pernah melakukan penelitian serupa yang menunjukkan bahwa 10 persen dari 1.100 siswa SMA/SMK yang menjadi responden memiliki potensi radikal. Penelitian Wahid Foundation dan LSI pada 2016 juga memuat data, dari 1.520 siswa SMA di 34 propinsi, 7,7 persen mengaku bersedia melakukan tindakan radikal.

Bulan Agustus ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah memulai kampanye melawan radikalisme di masjid. Lembaga ini menyusun naskah khutbah sholat Jumat, yang dibacakan serentak di 35 ribu masjid di seluruh Jawa Tengah. Upaya ini menjadi bagian dari kampanye ke sekolah, perguruan tinggi, pondok pesantren dan kelompok pengajian yang terus dilakukan.

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG