Tautan-tautan Akses

Hari Toleransi, Anak-Anak SD Telusuri ‘Jalur Bhinneka’


Pegiat lintas iman, Asifa Khoirunnisa, mendampingi para pelajar BPK Penabur dalam 'Jelajah Jalur Bhinneka' di Bandung, Jumat, 15 November 2019. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)

Dua puluhan siswa SD menelusuri tempat ibadah 5 agama berbeda di ‘Jalur Bhinneka’ kota Bandung. Apa makna penting kunjungan ini pada Hari Toleransi Internasional?

Sedari pagi, antusiasme para murid itu sudah terasa. Dengan semangat mereka menyebutkan berbagai agama yang ada di Indonesia.

“Islam, Kristen, Katolik..” jawab salah satu murid laki-laki.

“Islam, Kristen…” timpal murid lain.

Para siswa ini berebutan menjawab sampai seorang murid perempuan menambahkan. “Hindu, Buddha,” ucapnya bangga.

Disusul satu murid lagi. “Hindu, Konghucu.”

Dalam tur bertajuk ‘Jelajah Jalur Bhinneka’ ini, para siswa diajak mengunjungi gereja Katolik, gereja Protestan, masjid, wihara, dan tempat ibadah Konghucu ‘kong miao’. Di setiap rumah ibadah, anak-anak mendapat penjelasan singkat mengenai rumah ibadah dan ajaran agamanya.

Erlin Apriandini, Guru SD BPK Penabur yang ikut mendampingi siswanya, mengatakan murid-muridnya sangat menikmati perjalanan selama 4 jam ini.

“Karena melihat antusiasme anak-anak. Juga dengan pertanyaan anak-anak yang beragam, yang polos, tapi bisa terpikir oleh mereka. Itu ok buat saya,” ujar dia kepada VOA.

Para murid SD BPK Penabur memberikan tanaman sebagai tanda mata kepada Sonny Hermawan, perwakilan gereja Katolik St. Mikael, Bandung, Jumata, 15 November 2019. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)
Para murid SD BPK Penabur memberikan tanaman sebagai tanda mata kepada Sonny Hermawan, perwakilan gereja Katolik St. Mikael, Bandung, Jumata, 15 November 2019. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)

Kebanyakan siswa-siswi ini belum pernah mengunjungi rumah ibadah agama lain sebelumnya. Karena itu, tur ini jadi pengalaman berharga. Erlin berharap jiwa toleransi akan tumbuh dalam diri anak-anak.

“Mereka kenal, mereka tahu tempat ibadah yang berbeda dengan agama mereka. Dan kalau ketemu dengan orang di tempat ibadah yang berbeda, bisa toleransi juga," kata Erlin.

Silaturahmi Perkuat Toleransi

Kunjungan rumah ibadah berlangsung di tengah catatan intoleransi di Kota Bandung dan Jawa Barat. Pada 2019 saja, acara kelompok Ahmadiyah di Bandung terpaksa dipersingkat karena desakan massa. Sementara di Bekasi, sekelompok warga menolak rencana pembangunan pura.

Tur rumah ibadah pun rutin digelar saat Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada 16 November dan Malam Imlek. Para pengurus rumah ibadah selalu menerima tamu dengan tangan terbuka.

Seperti Yoga Wibowo, pemuda Konghucu, yang mengatakan tur ini membantu komunitasnya lebih dikenal masyarakat.

“Setelah agama Konghucu dapat pelayanan dari pemerintah, kan masih banyak yang belum mengetahui. Saya pikir dengan kunjungan ke rumah ibadah dari sekolah dan lintas-iman itu akan sangat membantu kami,”

Dia menceritakan, ada banyak pertanyaan terkait agama Konghucu yang diajukan peserta tur. Seperti tata cara ibadah, waktu ibadah, konsep dosa, serta konsep surga dan neraka.

Ketua Majelis Agama Konghucu (Makin) Bandung Fam Kiun Fat, mengenalkan agama Konghucu dan menyambut peserta dalam tur malam Imlek di Bandung, Februari 2019. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)
Ketua Majelis Agama Konghucu (Makin) Bandung Fam Kiun Fat, mengenalkan agama Konghucu dan menyambut peserta dalam tur malam Imlek di Bandung, Februari 2019. (Foto: Rio Tuasikal/VOA)

Yoga berharap masyarakat yang berkunjung bisa lebih memahami keberagaman Indonesia. Selain itu, tambah Yoga, silaturahmi tatap muka penting untuk membangun rasa percaya.

“Kalian juga bisa mengenal (ajaran agama) dari kita langsung. Dari pada dari media atau bukan orangnya langsung. Kalau kita ketemu langsung kan mengurangi prasangka-prasangka yang tidak baik,” harap Yoga lagi.

Kota Bandung Punya Jalur Bhinneka

Kunjungan ke rumah-rumah ibadah ini dilangsungkan di ‘Jalur Bhinneka’, area mungil dengan belasan rumah ibadah dari berbagai agama. Berjarak 1 kilometer saja, setiap orang bisa melihat belasan rumah ibadah berdekatan dalam waktu setengah jam.

Penting bagi masyarakat mengetahui jalur bhinneka, ujar Asifa Khoirunnisa dari Jaringan Kerja Antar-umat Beragama (Jakatarub), organisasi yang mencetuskan kawasan ini.

“Kita kan negara yang plural, negara yang multikultural, banyak banget budayanya dan agamanya. Ini untuk mencegah simpang-siurnya informasi mengenai agama. Karena agama kan sensitif ya,” terang dia.

Kawasan ini sudah sering dikunjungi kelompok lintas-iman sebelum Kota Bandung mencetuskan kampung toleransi di beberapa titik. Asifa berharap jalur bhinneka bisa melengkapi kehadiran kampung toleransi.

“Kita juga nggak bisa mengandalkan kerja cuma dari pemerintah saja. Tapi dari masyarakat sendiri. Karena kita juga sebagai masyarakat menyadari kalau program pemerintah itu banyak. Dan kampung toleransi itu ada yang tahu, ada yang enggak,” harap perempuan berjilbab ini. [rt/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG