Tautan-tautan Akses

AS

Hari Martin Luther King Diperingati Di Tengah Pandemi, Kekerasan Politik


Brandon Stanard, 24, seorang mahasiswa di Lincoln University, membacakan pidato "Saya punya mimpi" Martin Luther King, Jr. kepada kerumunan yang berkumpul di dasar patung pemimpin hak-hak sipil di Martin Luther King. (Foto: Reuters/Allison Shelley)

Rakyat Amerika, Senin (18/1), merayakan Hari Martin Luther King Jr. di tengah-tengah pandemi yang memaksa banyak kegiatan dilakukan secara virtual dan pada waktu Amerika menghadapi ancaman kekerasan politik terkait pelantikan presiden terpilih Joe Biden.

Setiap tahun, pada Senin ketiga bulan Januari, rakyat Amerika menghormati pemimpin hak-hak sipil tewas dibunuh itu, yang pada tahun 1950-an dan 1960-an mengorganisasikan protes-protes tanpa kekerasan mengenai segrerasi di bagian selatan, perjuangan mendapatkan kesetaraan hak bagi warga kulit hitam, dan hak pilih.

Pada liburan ini, biasanya orang-orang memperingati King dengan berpartisipasi dalam berbagai proyek pengabdian pada masyarakat. Namun, pandemi dan peringatan mengenai kekerasan di kota-kota di berbagai penjuru Amerika Serikat mempengaruhi peringatan tahun ini.

Liburan ini jatuh dua hari sebelum pelantikan Biden di Washington, di mana hingga 25 ribu anggota Garda Nasional diperkirakan akan memberikan pengamanan setelah kekerasan awal bulan ini di Capitol AS, di mana massa pro-Trump menyerbu gedung Kongres itu, sehingga menewaskan lima orang.

Para pejabat federal telah menyatakan sebagian dari mereka yang terlibat dalam kerusuhan itu adalah pendukung supremasi kulit putih. Mereka juga memperingatkan mengenai potensi kekerasan politik lebih jauh di Washington dan di gedung-gedung Capitol negara bagian.

Alun-alun Nasional di Washington ditutup bagi umum hingga sepanjang pelantikan. Dan sistem transportasi umum dibatasi secara drastis karena ancaman menjelang Hari Pelantikan.

Berbagai proyek pengabdian pada masyarakat masih berlangsung di kawasan Washington. Namun penyelenggara menghindari tempat-tempat terlarang dan memperhatikan pedoman menjaga jarak sosial untuk membatasi penyebaran virus corona. Komunitas di Reston, Virginia, misalnya, menyelenggarakan perayaan ke-36 ini dengan sejumlah proyek seperti membersihkan sampah dan menyiapkan paket makan siang untuk mereka yang tinggal di tempat-tempat tinggal darurat atau tunawisma.

Beberapa kelompok lain di Washington merayakannya secara daring. Folger Theater Washington menyelenggarakan peringatan tahunan untuk King secara virtual kali ini, dengan membacakan kutipan dari beberapa pidato King. Sementara itu Museum Nasional Sejarah dan Budaya warga Amerika keturunan Afrika telah menyiapkan konser musik virtual.

Di Atlanta, Georgia, Taman Sejarah Nasional Martin Luther King Jr., yang mencakup rumah tempat King dilahirkan, juga merayakannya secara virtual. Taman ini ditutup sejak pertengahan Maret karena pandemi.

Di Montgomery, Alabama, di mana King pernah menjadi pengkhotbah, Pusat Peringatan Hak-hak Sipil menggelar acara virtual Jumat lalu untuk mengenang warisan King. Menjelang acara itu, direktur pusat tersebut, Tafeni English, mengemukakan, “Mengingat kejadian pekan lalu, jelas bahwa kita memiliki banyak tugas untuk mengatasi supremasi kulit putih di negara ini dan memastikan bahwa janji Dr. King mengenai gerakan hak-hak sipil dapat diwujudkan sepenuhnya.” [uh/ab]

XS
SM
MD
LG