Tautan-tautan Akses

Hari Kebebasan Pers Sedunia, Media Harus Hadirkan Informasi Terpercaya

  • Petrus Riski

Sejumlah jurnalis mengikuti diskusi mengenai media dan kebebasan pers di MyAmerica di Kantor Konsulat Jenderal AS di Surabaya.

Tanggal 3 Mei diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia. MyAmerica di Surabaya bersama @America di Jakarta menggelar Digital Video Conference mengenai Media Literasi dan Kebebasan Pers.

Diskusi mengenai Media Literasi dan Kebebasan Pers dilakukan di Kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, bekerjasama dengan @America di Jakarta dalam bentuk Digital Video Conference, menghadirkan pembicara Profesor Steven Reiner dari Stony Brook University.

Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Heather Variava mengatakan diskusi ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi siapa saja termasuk jurnalis, agar dapat membedakan berita yang benar atau salah, di antara ribuan informasi yang beredar di masyarakat.

“Baik jurnalis maupun orang biasa harus lihat sosial media, harus membaca surat kabar secara pintar, cerdas dalam membaca dan untuk mencari tahu media yang benar atau tidak, untuk mengerti dengan benar mengenai perspektif dalam berita yang dibuat jurnalis, untuk tahu kalau kabar itu benar atau tidak," jelasnya.

Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, menurut pengamat media dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, Donny Maulana Arif, harus menjadi momentum bagi media dan jurnalis untuk terus memperbaiki diri. Informasi yang dibuat berdasarkan fakta dan dapat dipercaya, merupakan modal dasar sebuah media untuk disebut sebagai media yang dapat dipercaya.

"Ketika bicara soal media mainstream, media mainstream juga harus menyampaikan informasi yang sesuai dengan fakta. Karena media itu yang dijual adalah integritas, bagaimana dia menyampaikan informasi sesuai dengan fakta, integritasnya dipercaya. Ketika media ini kemudian punya integritas dalam menyampaikan informasi dan sesuai dengan fakta, tidak bias, imparsial, begitu misalnya, masyarakat akan percaya dengan media-media semacam itu. Dan masyarakat ketika mengkritisi kemudian menyeleksi informasi dari manapun. Pada satu titik masyarakat akan menemukan mana media yang bisa dipercaya. Nah pertarungan media itu di situ, menjual integritas," papar Donny.

Donny Maulana menambahkan, sikap kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial maupun media resmi, perlu dimiliki oleh masyarakat selaku konsumen media, agar dapat memperoleh informasi yang benar dan terpercaya. Masyarakat yang kritis akan mendorong pers untuk menghadirkan informasi yang benar dan berdasarkan fakta.

"Hal yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengkritisi, mengevaluasi, siapa kemudian yang menyampaikan pesan ini, ada motif apa kemudian informasi ini disampaikan begitu saja, kemudian seberapa kredibel siapa yang menyampaikan informasi. Itu penting kemudian agar kita bersama-sama mampu untuk mengkritisi dan menyaring informasi yang sangat baik ini, informasi yang memang berkualitas, bukan hanya sekedar fake story yang kemudian kita terima, atau informasi-informasi hoax," tambahnya.

Heather Variava mengungkapkan, Indonesia dan Amerika Serikat merupakan dua negara besar dengan kehidupan demokrasi yang baik, di mana di dalamnya terdapat kebebasan pers. Untuk itu Heather berharap kebebasan pers dapat terus dijaga, dan kehidupan demokrasi dapat semakin berjalan dengan baik.

"Saya pikir ada tradisi yang sangat sehat di Amerika Serikat dan di Indonesia, untuk ada pers bebas yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di Indonesia dan Amerika Serikat. Dan saya berharap, tradisi itu akan berlanjut," ujarnya. [ps/uh]

XS
SM
MD
LG