Tautan-tautan Akses

Gunungkidul dan Bunuh Diri: Antara Mitos dan Depresi

  • Nurhadi Sucahyo

Warga terlihat di daerah Gunungkidul, Yogyakarta.

Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta sudah lama dikenal karena angka bunuh diri yang tinggi di kalangan warganya. Sebagian menyebut depresi menjadi penyebab, sementara sebagian percaya pada mitos.

Zuhri baru berumur sekitar 8 tahun ketika dia melihat pulung gantung, sekitar awal tahun 80-an. Warga Karangmojo, Gunungkidul itu sedang berada di sungai tak jauh dari rumahnya, pada malam hari bersama sang ibu. Berwujud bola api besar yang terbang di ketinggian sekitar 30 meter, pulung gantung adalah penanda buruk bagi masyarakat kawasan itu. "Ibu saya teriak-teriak waktu melihat itu. Kata orang, kalau ada pulung gantung, maka lalu ada orang yang akan bunuh diri di daerah situ. Tapi waktu saya habis lihat itu, ya nggak ada yang bunuh diri, he..he..he…," kata Zuhri.

Itu adalah pertama kali sekaligus yang terakhir bagi Zuhri melihat apa yang disebut orang sebagai pulung gantung. Namun, mitos mengenai benda asing itu hingga kini masih terpelihara. Padahal tidak pernah ada yang bisa menerangkan lebih rinci tentang pulung gantung itu.

Kabupaten Gunungkidul menjadi fenomena tersendiri dalam kasus bunuh diri di Indonesia. Setiap tahun, rata-rata 30 warganya mengakhiri hidup dengan cara ini. Data menunjukkan, sejak 2015 sampai November 2017 ini, sudah 90 warga bunuh diri, 88 orang dengan cara menggantung dan dua orang menceburkan diri ke sumur.

Dulu, mitos soal kehadiran benda asing berwarna merah yang terbang di langit selalu dikaitkan dengan kasus bunuh diri. Benda merah itu disebut sebagai pulung gantung. Pulung berarti nasib, jadi penamaan itu bermakna bahwa di daerah yang dilewati pulung gantung akan ada orang yang bernasib sial, mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.

Hingga hari ini, mitos itu masih ada. Memang terkikis oleh pemahaman yang lebih baik, tetapi tidak sepenuhnya hilang. Wage Dhaksinarga, aktivis LSM Inti Mata Jiwa (Imaji) di Gunungkidul menyebut mitos pulung gantung ada di benak setiap warga Gunungkidul saat ini. Pada sisi yang lain, mitos ini secara tidak sadar menjauhkan masyarakat dari fakta bahwa kesehatan jiwa sebenarnya cukup dominan dalam kasus bunuh diri.

"Di Setiap peristiwa bunuh diri, orang mengatakan pulung gantung setelah kejadian, tidak pernah ada yang bilang sebelum peristiwa itu. Karena ada mitos ini, semua orang tidak mau melihat faktor kesehatan jiwa. Seolah-olah semua ini karena pulung gantung," ujar Wage yang bersama Imaji beberapa tahun terakhir berkampanye soal pencegahan bunuh diri di Gunungkidul.

Kepolisian Resor Gunungkidul mencatat, hingga bulan ini, ada 31 upaya bunuh diri dengan dua kasus percobaan yang tidak berhasil. Mayoritas bunuh diri dengan menggantung di pohon atau kandang sapi. Kepolisian menyebut, setidaknya ada 3 faktor utama yang menjadi penyebab, yaitu gangguan kejiwaan, sakit lama yang tidak sembuh dan menjani hidup sendiri.

Wage menambahkan, pemerintah dan masyarakat harus mulai menyadari, bahwa faktor kesehatan jiwa selalu dominan sebagai penyebab. Karena itu, langkah penanggulangannya harus dimulai dari sektor itu.

"Saya hitung dari 29 kasus, ada 16 kasus terkait depresi. Walau ada keterangan sakit menahun, tetapi itu kan faktor penyebab depresi. Kenapa angkanya relatif stabil, karena menurut saya penanganan bunuh diri ini pendekatannya kurang tepat. Depresi itu lebih dari 50 persen, tetapi sampai hari ini pendekatan terkait kesehatan jiwa belum begitu maksimal," katanya.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi ketika dihubungi VOA mengaku pemerintah daerah tidak tinggal diam. Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah kebijakan diterapkan. Namun hasilnya tidak dapat dilihat secara cepat, karena bunuh diri di daerah ini erat kaitannya dengan faktor sosial.

Immawan mengatakan, banyak pihak menduga kemiskinan menjadi faktor utama. Namun penelitian menunjukkan, kasus bunuh diri justru lebih banyak terjadi di kawasan perkotaan, dan bukan di desa-desa terpencil. Salah satu penyebab dominan, adalah warga berusia lanjut yang hidup kesepian dan memiliki keterbatasan untuk aktivitas sosial.

"Orang Gunungkidul itu rasa sosialnya tinggi. Ketika dia merasa sudah tidak bisa berperan di lingkup sosial, dia merasa tidak berguna. Ketika merasa sepi, tidak bermakna secara sosial, tertekan, kemudian depresi, dan jika semakin kuat biasanya diakhiri dengan bunuh diri. Karena itu, di Puskesmas yang daerahnya subur kasus bunuh diri, kita akan sediakan psikolog," jelasnya.

Selain menempatkan psikolog di tiap Puskesmas, pemerintah setempat juga membuat Satuan Tugas Berani Hidup. Immawan Wahyudi adalah ketua satgas yang bertugas merumuskan upaya penurunan kasus bunuh diri itu.

Pemerintah Gunungkidul juga baru saja menyusun sebuah modul panduan penanggulangan bunuh diri. Modul ini mengumpulkan peran lintas instansi dan masukan pakar perguruan tinggi. Modul ini akan menjadi kerangka kerja bagi setiap pihak agar memiliki langkah lebih sistematis dengan target yang jelas.

Bagi Immawan, langkah pencegahan ini harus tetap memperhatikan budaya lokal yang mempercayai konsep pulung gantung. Penyadaran akan mitos itu dilakukan dengan memberi argumen yang sesuai dengan kondisi dan kepercayaan masyarakat. Pemerintah harus menghargai faktor yang tidak rasional, bukan untuk mempercayainya, tetapi memahaminya agar bisa menerapkan strategi yang tepat.

"Saya sering bercanda begini, kita ini tidak mungkin melawan orang yang percaya pulung gantung dengan Surat Keputusan (SK) dari pemerintah. Kerja ini harus rasional, tetapi harus memberi ruang kepada mereka yang percaya hal-hal iirasional itu," ujar Immawan. [ns/lt]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG