Tautan-tautan Akses

Bukan rahasia lagi kalau Silicon Valley dan industri teknologi umumnya masih didominasi oleh laki-laki.

Girls in Tech lahir pada tahun 2007 untuk menjawab kebutuhan agar lebih banyak perempuan berkarir di bidang teknologi. Pendirinya Adriana Gascoigne, saat itu bekerja di sebuah perusahaan teknologi dan mendapati dirinya satu-satunya perempuan di perusahaan tersebut.

Ia kemudian mendirikan organisasi nirlaba ini sebagai wadah untuk ngobrol seputar karir, dan bisnis seputar teknologi dan juga wirausaha. Lewat berbagai program yang fokus pada pendidikan, pemberdayaan dan jaringan perempuan melalui teknologi, Girls in Tech menciptakan kerangka kerja untuk membantu perempuan memajukan karir mereka.

SOT Lauren/Managing Director of Girls in Tech chapter San Francisco
“Girls in Tech is a global non-profit focus on accelerating new careers of woman and girls. We provide programs focusing on entrepreneurship, confidence building, development boot camps, recruiting, enverything that all female need to be successful in business and entrepreneurship.”

Girls in Tech tidak hanya ditujukan untuk wanita karir, tapi juga untuk semua perempuan yang tertarik pada teknologi dan startups.

Lauren Feldman, Managing Director of Girls in Tech chapter San Francisco mengatakan, "Kami punya program untuk siswa sekolah menengah, sekolah tinggi, dan kami juga fokus pada perempuan yang baru memulai karir mereka dan membantu mengembangkan identitas pribadi mereka."

Ia menambahkan sejak didirikan Girls in Tech tumbuh dengan pesat.

"Selama sekitar sepuluh tahun terakhir, Girls in Tech tumbuh pesat. San Francisco, kota pendirinya punya sekitar 15.000 anggota dan kita punya 60.000 anggota di seluruh dunia," jelasnya.

Kini Girls in Tech telah memiliki 60 chapters atau cabang di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Girls in Tech Indonesia didirikan oleh Aulia Halimatussadiah, bersama rekannya Anantya pada tahun 2011.

"Waktu itu tahun 2011 saya dihubungi Anantya partner saya di Girls in Tech, kita berdua sudah bekerja di bidang teknologi selama beberapa tahun, dia ajak saya untuk bikin Girls in Tech Indonesia. Karena kita pikir di Indonesia belum terlalu banyak cewek-cewek yang berkiprah di bidang teknologi, padahal menurut kita penting banget banyak lebih banyak perempuan di bidang teknologi, makanya kita buat Girls in Tech di Indonesia," papar Aulia yang juga akrab disapa Ollie itu.

Sejak didirikan pada tahun 2011 Girls in Tech Indonesia aktif mengadakan meetup yang biasanya dihadiri oleh sekitar 50-70 orang dan kini telah memiliki 1000an anggota di Jakarta. Selain itu GIT Indonesia juga aktif menjalankan kampanye seperti kampanye #WhyNot, hasil kerjasama dengan Facebook.

Ollie, salah satu Managing Director Girls in Tech Indonesia mengatakan lewat kampanye #WhyNot, GIT Indonesia ingin mengajak perempuan di Indonesia untuk berkiprah di bidang teknologi.

"Jadi basically semua temen-temen cewek di Indonesia, di Jakarta terutama, kalau mereka ingin berkiprah di bidang teknologi, kita bilang #whynot, start in tech why not," jelasnya.

Ollie mengatakan sedikitnya perempuan yang terjun ke teknologi karena mereka melihat teknologi sebagai suatu hal yang kompleks, padahal sebenarnya mudah kalau dipelajari.

"Jadi menurutku mindset-nya perlu diganti that’s why kita punya campaign why not untuk mengubah mindset-nya jadi if you want to learn technology why not," tambahnya.

Ollie berharap GIT bisa mengajak lebih banyak perempuan berkarir di bidang teknologi dan ia yakin perekonomian Indonesia bisa lebih bagus lagi dengan kehadiran mereka di bidang teknologi.

"Saya percaya women hold half the sky, jadi kalau ga ada perempuan bisa runtuh setengah langit kita. Jadi secara perekonomian akan bagus sekali jika perempuan-perempuan banyak melihat masalah-masalah di sekitar mereka dan mencoba memecahkannya dengan menggunakan teknologi. Jadi harapan saya semakin banyak perempuan-perempuan yang turun ke teknologi," pungkasnya. [dw]

XS
SM
MD
LG