Tautan-tautan Akses

AS

Gedung Putih Minta MA Batalkan Obamacare di Tengah Pandemi Corona


sementara kasus virus corona di AS merangkak mendekati rekor tertinggi, Gedung Putih mengajukan laporan singkat ke Mahkamah Agung untuk meminta pembatalan UU Layanan Kesehatan Terjangkau (ACA), Kamis malam, 25 Juni 2020. (Foto: ilustrasi).

Gugus tugas virus corona AS mengadakan pengarahan, Jumat (26/6), dipimpin oleh Wakil Presiden Mike Pence. Pengarahan publik ini merupakan yang pertama kalinya diadakan dalam kurun hampir dua bulan ini.

Kamis malam (25/6), sementara kasus virus corona di AS merangkak mendekati rekor tertinggi, Gedung Putih mengajukan laporan singkat ke Mahkamah Agung untuk meminta pembatalan UU Layanan Kesehatan Terjangkau (ACA), suatu jaminan layanan kesehatan yang juga dikenal sebagai Obamacare.

Tidak seperti di sebagian besar negara-negara Barat, layanan kesehatan AS terkait dengan pekerjaan. Sejak lockdown dimulai di AS, puluhan juta orang telah kehilangan pekerjaan dan asuransi kesehatan mereka.

Selain itu, tidak semua perusahaan di AS menyediakan asuransi kesehatan, membuat orang terpaksa membeli asuransi kesehatan sendiri. Tujuan ACA adalah membantu masyarakat membeli asuransi kesehatan dengan harga terjangkau.

Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengemukakan dalam suatu pernyataan, “Kampanye Presiden Trump dan partai Republik untuk merampas perlindungan dan manfaat ACA di tengah-tengah krisis virus corona merupakan tindakan kekejaman yang tak dapat dipahami.”

Para hakim Mahkamah Agung akan mendengar penjelasan lisan mengenai itu pada bulan Oktober.

AS memimpin di dunia dalam hal penularan virus corona. AS mencatat 2,4 juta kasus, disusul oleh Brazil dengan 1,2 juta kasus dan Rusia dengan lebih dari 613 ribu kasus, sebut Johns Hopkins University.

Jumlah penularan baru virus corona dalam satu hari di AS mendekati rekor tertinggi sewaktu pemerintah mengungkapkan lebih dari 20 juta orang di AS kemungkinan telah tertular virus itu.

AS mencatat 39.327 kasus baru hari Kamis, sebut the Washington Post. Ini adalah total kasus baru tertinggi dalam satu hari sejak wabah dimulai pada Desember lalu.

Johns Hopkins University mencatat 34.300 kasus pada hari Rabu, sedikit lebih rendah daripada rekor tertinggi 36.400 yang tercatat pada 24 April.

Direktur Harvard Global Health Institute Ashish Jha mengatakan dalam wawancara hari Kamis di acara televisi NBC Today bahwa kenaikan jumlah penularan di AS belakangan ini adalah karena terlalu dini membuka kembali ekonomi negara ini tanpa disertai prosedur keselamatan yang tepat.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) Kamis (25/6) menyatakan jumlah kasus virus corona mungkin 10 kali lebih besar daripada yang dilaporkan.

Perhitungan yang dilakukan Johns Hopkins University menyebutkan jumlah kasus virus corona 2,5 juta di AS. Tetapi angka sebenarnya dari perkiraan kasus itu mungkin sekitar 20 juta, sebut CDC.

Para pejabat telah lama meyakini bahwa jumlah kasus yang sesungguhnya tidak seperti yang dilaporkan.

CDC menyatakan mendasarkan perkiraan barunya setelah mempelajari sampel darah dari berbagai penjuru AS. Disebutkan bahwa banyak kasus yang tidak ketahuan karena tes awal terbatas atau hanya dilakukan pada orang-orang yang menunjukkan gejala tertular.

CDC memperkirakan bahwa 6 persen populasi AS terjangkit Covid-19. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG