Tautan-tautan Akses

Gadis Remaja Lukiskan Cara Penyembuhan Otaknya Sendiri


Karyawan BrainScope, Doug Oberly, menggunakan headset pemindaian otak pada pertemuan pemilik NFL di Boca Raton, Florida, Selasa, 22 Maret 2016. (Foto: AP/Luis M. Alvarez)

Seorang remaja perempuan menelusuri perjalanan medisnya melalui beberapa kali bedah saraf otak, dengan membuat karya seni dari hasil pemindaian otaknya.

Tessa Carlisle berusia 16 tahun mencari potensi penyembuhan melalui seni ketika ia sedang menjalani penyembuhan dirinya.

Ia menunjukkan karya seninya itu kepada pendeta di sekolahnya.

Karya seni itu didasarkan pada gambar-gambar pemindaian otak dari bedah saraf untuk menghilangkan tonjolan atau penggembungan di pembuluh darah yang disebut aneurisma di otaknya. Proses operasi itu dimulai bulan April tahun lalu.

"Saya hampir berteriak, dan merasakan sakit yang sangat di kepala, dan saya ingat berpikir dalam hati, “ada sesuatu yang tidak beres," kata Tessa Carlisle.

Operasi otak dilakukan lagi pada Januari tahun ini, dan kedua operasi itu yang memerlukan masa penyembuhan berbulan-bulan. Dia ingin menggunakan pengalamannya itu dalam proyek seni di sekolahnya.

“Saya ingin menceritakan kisah saya dengan cara yang saya inginkan, dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa saya bukan hanya seorang gadis yang menderita aneurisma, tetapi juga gadis yang telah pulih dari satu penyakit," kata Tessa Carlisle.

Bulan April lalu ia berbagi pengalaman dengan sesama siswa di sekolah Episcopal Los Angeles.

“Dia berkata, 'Saya punya kisah untuk anda, dan saya siap untuk menceritakannya. Jadi, kami menjadwalkannya untuk bercerita, dan dia memulainya dengan mengatakan, “Satu tahun lalu inilah yang terjadi pada diri saya," kata Megan Holloway.

Gambar otak manusia yang diambil oleh pemindai positron emisi tomografi, juga disebut pemindaian PET, terlihat pada layar pada 9 Januari 2019, di Pusat Rumah Sakit Regional dan Universitas Brest. (Foto: AFP)
Gambar otak manusia yang diambil oleh pemindai positron emisi tomografi, juga disebut pemindaian PET, terlihat pada layar pada 9 Januari 2019, di Pusat Rumah Sakit Regional dan Universitas Brest. (Foto: AFP)

Dia juga ikut dalam program relawan sekolah untuk membantu pasien-pasien muda di RS Anak Los Angeles, di mana dia pernah dirawat. Dia mendapat dukungan dari keluarganya.

"Ini hal yang sangat sulit bagi orang tua, tetapi bukan hal yang sulit untuk dibicarakan, karena lega Tessa telah kembali bersama kami. Dan menyaksikannya melalui seluruh prosedur yang sangat sulit ini, tetapi bermanfaat dan pada akhirnya merupakan hal mengagumkan," ujar ayah Tessa, Matthew Carlisle.

Aneurisma jarang terjadi pada remaja, dan bisa berbahaya kecuali dirawat dengan cepat.

“Keluarga itu sendiri menanggung beban yang sangat besar merawat anak dan mengurus diri mereka sendiri secara psikologis. Benar-benar hal yang sulit. Fakta bahwa Tessa dan keluarganya berhasil melewati semua ini merupakan keajaiban bagi mereka," kata Dr. Jonathan Russin dari USC Keck Hospital.

Keluarganya memanfaatkan pengalaman itu untuk membantu orang lain. Tessa dengan seni lukisnya, dan ibunya, Clarissa membantu mengumpulkan uang untuk pusat medis dengan menyelenggarakan maraton.

"Mereka benar-benar menyalurkan semua energi mereka, semua emosi dan hal-hal yang benar-benar bisa memnuat mereka bangkrut. Saya kira mereka telah memberikan dampak positif pada kehidupan orang lain," kata Jonathan.

Tessa berharap menemukan karir di bidang terapi seni untuk membantu orang lain memperoleh kekuatan penyembuhan seperti yang dia miliki. [ps/ii]

XS
SM
MD
LG