Tautan-tautan Akses

Eropa Longgarkan Pembatasan Covid-19 Secara Perlahan


Beberapa bisnis mulai buka kembali di Paris, Perancis hari Senin (11/5).

Sejumlah negara di Eropa melonggarkan sebagian pembatasan terkait COVID-19 Senin (11/5), dalam upaya untuk menggairahkan kembali ekonomi.

Setelah lockdown atau karantina wilayah delapan minggu, Perancis hari Senin (11/5) memperbolehkan warga keluar tanpa surat ijin dan mengizinkan sebagian toko buka. Seperti di banyak tempat, pendekatannya sangat berhati-hati. Bar, restoran dan bioskop masih tutup.

Turki membuka kembali mal-mal Senin, tapi siapapun yang datang diperiksa suhunya dan wajib mengenakan masker. Kapasitas toko-tokonya juga dibatasi.

Spanyol, Belgia dan Yunani juga melonggarkan pembatasan Senin.

Orang-orang diperbolehkan makan di luar ruangan di Spanyol mulai Senin (11/5), sementara sebagian anak-anak di Belanda dan Swiss kembali ke sekolah. Sebagian negara bagian di Jerman membuka kembali sasana kebugaran.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan Senin bahwa mulai Selasa (12/5) negara itu akan membuka kembali ekonominya, mulai bekerja lagi di pabrik-pabrik industri dan tempat konstruksi. Kebanyakan bisnis dalam industri jasa, termasuk salon dan toko yang tidak jual makanan, akan tetap tutup.

Selandia Baru, yang memberlakukan lockdown ketat selama hampir lima minggu untuk mencegah penyebaran virus, akan melonggarkan pembatasan Kamis (14/5). Warga akan diperbolehkan pergi ke restoran, bioskop dan mal.

Korea Selatan, yang selama berminggu-minggu memiliki angka infeksi baru yang rendah, melaporkan lebih dari 30 kasus baru untuk hari kedua berturut-turut Senin (11/5). Kebanyakan kasusnya terkait dengan wabah di kelab malam dan bar di Seoul, tapi para pejabat khawatir virus korona akan merajalela lagi setelah berhasil dikendalikan.

Sejumlah upaya pelonggaran akan dimulai Selasa (12/5) di India, dengan mengoperasikan beberapa jalur kereta untuk pertama kalinya sejak akhir Maret. Tapi India juga melaporkan kenaikan kasus tertinggi terbanyak dalam sehari pada Senin (11/5). Dengan demikian total kasus menjadi lebih dari 67.000, menurut statistik Universitas Johns Hopkins.

AS masih memiliki jumlah kasus serta kematian terbanyak di dunia.

Di seluruh dunia, jumlah kasus virus korona telah melebihi 4.1 juta. Jumlah kematian global lebih dari 282.000, menurut statistik Universitas Johns Hopkins. [vm/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG