Tautan-tautan Akses

Desas-Desus Hambat Peralihan ke Listrik Tenaga Surya di Pakistan


Teknisi-teknisi bekerja untuk memasang panel surya di gardu listrik di Hub sekitar 25 km dari Karachi (foto: REUTERS/Akhtar Soomro)

Lewat pemasangan sistem pembangkit listrik tenaga surya berdaya 300-watt di atap rumahnya, Mohammad Aslam, akhirnya menemukan cara yang membuat keluarganya dapat bernafas lega akibat pemadaman listrik yang berkepanjangan.

Mohammad Aslam memasang sistem pembangkit listrik tenaga surya berdaya 300-watt di atap rumahnya pada bulan Februari lalu.

Di Pakistan, pemadaman listrik yang dijadwalkan oleh utilitas distribusi listrik umum negara itu acapkali mendera rumah tangga, yang berlangsung selama 10 jam dalam sehari di kota-kota dan hingga 16 jam di kawasan pedesaan.

Massa mengamuk di perusahaan listrik di Lahore, Pakistan akibat langkanya listrik.
Massa mengamuk di perusahaan listrik di Lahore, Pakistan akibat langkanya listrik.

Situasi terburuk terjadi saat bulan-bulan dimana musim panas melanda dengan ganasnya, dimana penyejuk udara acapkali membuat sistem distribusi listrik kelebihan beban.

Seorang tukang cukur bekerja sambil mengigit lampu darurat saat mati lampu di kawasan miskin di Karachi, Pakistan
Seorang tukang cukur bekerja sambil mengigit lampu darurat saat mati lampu di kawasan miskin di Karachi, Pakistan

Membeli panel tenaga surya untuk mendapatkan tenaga listrik di rumah tampaknya adalah cara pasti untuk menjembatani kesenjangan. Namun meskipun panel tenaga surya sudah tersedia di pasaran sejak tahun 2014 di kota Larkana, di provinsi Sindh yang terletak di sebelah selatan, di mana Aslam tinggal, wirausahawan ini menunggu hingga dua tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk memasangnya.

Biaya tidak menjadi masalah. Sebaliknya, ia menghadapi keraguan akibat adanya desas-desus yang mengatakan panel tenaga surya membuat segalanya lebih buruk.

Silhouette seorang teknisi yang bekerja di jaringan listrik yang memasok listrik di pinggiran kota Lahore, Pakistan
Silhouette seorang teknisi yang bekerja di jaringan listrik yang memasok listrik di pinggiran kota Lahore, Pakistan

Oknum pegawai perusahaan listrik setempat, ujarnya, mengatakan kepada dia panel surya yang berwarna gelap, dibuat untuk menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi tenaga listrik, akan meningkatkan panas di dalam bangunan yang dipasangi panel tersebut, membuat temperatur di dalam ruang bahkan lebih tinggi lagi.

Menurut Aslam, para pegawai tersebut bahkan mengatakan penggunaan panel surya yang semakin meningkat adalah sumber terjadinya gelombang panas yang semakin sering dan semakin kuat yang pernah dialami Pakistan – sesuatu yang menurut kalangan ilmuwan sama sekali tidak benar.

Perubahan iklim dan suhu panas ekstrim yang makin memburuk sebaliknya disebabkan sebagian besar oleh penggunaan bahan bakar fossil yang semakin besar seperti batubara, minyak, dan gas sejak awal revolusi industri, menurut kalangan ilmuwan.

“Saya baru tahu kalau itu adalah isu yang menyesatkan setelah saya memasang sistem panel surya atas desakan salah satu teman saya, seorang lulusan teknik elektro,” ujar Aslam kepada Thomson Reuters Foundation dalam sebuah wawancara.

Temannya meyakinkan kalau itu hanyalah desas-desus yang merupakan tipu daya oknum pegawai perusahaan listrik yang cenderung mencegah adopsi listrik tenaga surya guna mengamankan pekerjaannya.

Tariq Mehmood, seorang general manager di Islamabad Electric Supply Company (IESCO), sebuah perusahaan listrik, mengatakan ia tidak taahu adanya karyawan IESCO yang menyebarkan desas-desus tersebut.

“Perusahaan listrik kami tidak ada hubungannya dengan penyebaran [desas-desus apapun] dan mencela hal tersebut. Sebaiknya orang-orang jangan mempercayai desas-desus tersebut,” ujar Mehmood dalam sebuah wawancara lewat telepon.

‘Sesuatu yang sangat melegakan’

Sistem panel tenaga surya milik Aslam yang baru terdiri dari – dua panel surya, empat kipas angin di langit-langit, empat lampu hemat energi, dan sebuah baterai yang dapat isi ulang, berharga $500.

Pada siang hari sistem tersebut menggerakkan kipas angin di langit-langit dan menyimpan cukup tenaga listrik di baterai untuk menggerakkan kipas angin dan menyalakan lampu selama enam hingga tujuh jam di malam hari apabila terjadi pemadaman listrik dari pusat. Baterai itu dapat diisi ulang di bawah sinar matahari dalam waktu tiga jam.

“Kami memiliki kipas angin dan lampu yang terus menyala kapanpun terjadi mati lampu. Apa yang membuat saya lebih bahagia adalah keluarga saya sangat lega dan saya bersyukur atas adanya sistem tersebut,” ujar Aslam.

Abdul Karim, seorang pengecer panel tenaga surya di pasar elektronik Aabpara di Islamabad, ibukota Pakistan, mengatakan calon pelanggannya sering mengatakan mereka mendengar desas-desus yang mengatakan panel surya membuat problem suhu panas semakin buruk.

“Untuk membuktikan semua desas-desus ini tidak benar, sering kali saya mengajak mereka ke atap toko untuk menunjukkan sistem panel tenaga surya yang memasok listrik ke toko saya,” ujar Karim. “Dari situ banyak yang membeli sistem panel tenaga surya dari saya.”

Dengan semakin terjangkaunya harga sistem pembangkit listrik tenaga surya untuk rumah tangga, banyak rumah tangga yang memandang hal tersebut menjadi alternatif dari pemasangan sambungan listrik baru lewat perusahaan listrik.

Menurut Mir Ahmad Shah, sekretaris eksekutif untuk Asosiasi Energi Terbarukan dan Alternatif Pakistan, perusahaan utilitas yang mengendalikan distribusi dan pasokan listrik khawatir gerakan adopsi energi surya di masyarakat membuat masyarakat tidak lagi ketergantungan pada jaringan distribusi listrik nasional.

“Karyawan-karyawan perusahaan listrik menghambat meningkatnya gerakan peralihan ke energi surya lewat desas-desus, karena mereka khawatir semakin tingginya tingkat adopsi ke sistem energi surya akan menyebabkan berkurangnya pemasukan lewat pemasangan sambungan listrik baru,” ujar Shah.

Uang suap?

Seorang pensiunan karyawan Perusahaan Kereta Api Pakistan, Raja Jameel, mengatakan ia tidak berhasil mendapatkan sambungan listrik dua tahun lalu untuk rumahnya yang baru di Ghouri, sebuah lokasi pedesaan di pinggir kota Islamabad.

“Apa [yang akhirnya] dapat dilakukan dalam hitungan jam untuk mendapatkan apa yang ditolak hampir empat bulan lalu adalah suap $50 kepada pengawas di IESCO,” ujar Jameel dalam sebuah wawancara.

Ia percaya di beberapa perusahaan listrik, karyawan yang bertanggungjawab untuk menyetujui permohonan sambungan baru berusaha untuk mencegah calon pengguna sistem pembangkit listrik tenaga surya dengan menyebarkan desas-desus palsu tentang panel surya tersebut, sebagian karena mereka tidak ingin kehilangan potensi uang suap dari persetujuan permintaan sambungan listrik yang baru.

Jameel berencana untuk membangun rumahnya menjadi dua lantai dan menyewakannya, namun ia akan memasang sistem pembangkit tenaga surya dengan daya 2 kilowatt untuk memasok sumber listrik, ketimbang mengajukan permohonan sambungan baru ke perusahaan listrik.

Mehmood yang mewakili IESCO mengatakan meskipun perusahaannya secara periodik telah menerima keluhan dari pelanggan terkait uang sogokan, perusahaan telah mengambil langkah-langkah untuk menekan permasalahan ini.

“Manajemen IESCO telah berusaha untuk menekan praktek-praktek uang sogokan lewat sistem yang yang telah dibentuk sejak beberapa tahun belakangan ini yang memungkinkan publik untuk mengajukan keluhan terkait. Selain itu, kami telah membuat proses persetujuan pemasangan sambungan listrik lebih transparan dan tidak merepotkan,” ujar Mehmood.

Dalam sebuah wawancaera di luar gedung Parlemen di Islamabad, Menteri Negara urusan Air dan Kelistrikan, Abid Sher Ali, tidak menampik bahwa perusahaan distribusi listrik, termasuk IESCO, memiliki masalah dengan korupsi, namun pemerintah menampung semua keluhan tersebut dan menangani masalah tersebut dengan serius.

“Kebijakan kami tidak mentolerir semua tindak penyogokan di perusahaan distribusi kelistrikan di seluruh negeri ini,” ujar Ali.

Menteri tersebut menambahkan ada mekanisme untuk mengajukan keluhan yang kuat, dan setiap karyawan yang ketahuan terlibat korupsi akan diturunkan jabatannya atau dipecat. [ww]

XS
SM
MD
LG