Tautan-tautan Akses

Vietnam Gunakan Teknologi untuk Pecahkan Dilema Energi


Sebuah pemanas air bertenaga surya (kiri) dan panel surya (kanan) dipamerkan dalam Pameran Entech Hanoi, di Giang Vo Exhibition Center, Hanoi, Vietnam, 18-21Juni 2009. (AP Photo/Chitose Suzuki)

Vietnam menghadapi dilema tenaga listrik, dengan para pejabat di Hanoi berusaha mengatasi kebutuhan energi yang melonjak tanpa merusak lingkungan.

Asia Tenggara pada umumnya akan melihat penggunaan energi melonjak 80 persen dalam dua dekade ke depan, menurut Trilliant, perusahaan perangkat lunak untuk jaringan listrik. Tapi untuk Vietnam, angka itu mendekati 200 persen.

Beberapa pihak yang berkepentingan percaya bahwa solusinya adalah kombinasi teknologi, sumber energi terbarukan, dan efisiensi energi yang lebih besar. Tapi jawabannya tidak begitu sederhana bagi para pengambil keputusan di Hanoi.

Banyak dari mereka melihat batu bara sebagai bahan bakar yang terjangkau bagi perekonomian, dengan puluhan pembangkit listrik tenaga uap dijadwalkan beroperasi pada tahun 2030, terlepas dari polusi karbon yang dihasilkannya. Dan meskipun Vietnam baru saja menaikkan harga yang akan dibayar kepada investor untuk listrik tenaga surya, pasar energi terbarukan itu masih belum berkembang setelah bertahun-tahun.

Vietnam menghadapi masalah yang umumnya dihadapi negara-negara berkembang, di mana pertumbuhan ekonomi mengorbankan lingkungan hidup, misalnya dengan polusi, penggundulan hutan dan kerusakan lain yang terkait dengan perubahan iklim.

Untungnya Vietnam sudah mulai menggunakan teknologi-teknologi terbaru dalam upayanya menjadi negara industri menjelang tahun 2020. [as]

XS
SM
MD
LG