Tautan-tautan Akses

Demonstrasi Perempuan Tumbuh Jadi Gerakan Sosial


Aksi demonstrasi "Women's March" di Las Vegas, Nevada, Minggu (21/1).

Demonstrasi perempuan atau Women's March yang memprotes ketidaksetaraan dan berbagai masalah sosial lainnya hari Minggu (22/1) berlanjut untuk hari kedua di Amerika dan kota-kota besar di Eropa.

Demonstrasi besar-besaran dengan perempuan mengenakan topi pink pertama kali terjadi setahun yang lalu, sebagian besar untuk mengungkapkan kemarahan perempuan pada Presiden Amerika Donald Trump dan sikapnya terhadap perempuan dan kaum minoritas.

Tahun ini demonstrasi perempuan berusaha berkembang menjadi gerakan melawan berbagai ketidakadilan sosial.

Ribuan orang menyambut seruan ikut dalam demonstrasi perempuan Las Vegas pada hari Minggu. Tapi tidak seperti demonstrasi-demonstrasi di kota lain akhir pekan ini, acara Las Vegas yang diberi nama "Power to the Polls" ditujukan untuk memastikan pemilih, terutama perempuan siap dan mampu memberikan suaranya dalam pemilihan penting untuk Kongres akhir tahun ini.

Emilly Zamora mengatakan, "Kita juga punya banyak warga yang sudah terdaftar tapi mungkin tidak menyadari bahwa mereka sudah pindah atau alamatnya berubah atau mengubah partai politik mereka. Nevada adalah negara bagian utama dengan pemilu tertutup oleh karena itu untuk berpartisipasi dalam pemilihan pendahuluan kita bulan Juni orang harus memastikan mereka terdaftar dengan partai politik tertentu."

Demonstran mengatakan selain hak-hak perempuan banyak isu lainnya dipertaruhkan dalam pemilihan yang akan datang, seperti asuransi kesehatan yang terjangkau, hak minoritas dan undang-undang imigrasi.

Diane Polling melakukan perjalanan dari Dayton, Ohio, untuk ikut dalam demonstrasi di Las Vegas.

"Banyak kawan-kawan saya dipulangkan ke Meksiko. Saya menyesali pemulangan itu. Teman-teman saya berkulit hitam dan tidak diperlakukan dengan baik dan presiden ke 45 (Presiden Donald Trump) tidak bisa melakukan ini pada kita. Kita tidak akan mengizinkannya," tandas Polling.

Tahun lalu, demonstrasi besar-besaran berlangsung di Washington, sehari setelah pelantikan Donald Trump sebagai presiden ke-45 Amerika. Banyak perempuan mendapati sikap Trump terhadap perempuan ofensif dan bertekad untuk menunjukkan mereka tidak akan membiarkan pemerintahan Trump mengekang kebebasan mereka. Demonstrasi-demonstrasi itu menyebar ke luar Amerika dan demonstran di kota-kota besar di Eropa, termasuk London, tahun ini kembali turun ke jalan-jalan.

"Mendapat gaji yang setara, adalah hal besar yang masih kita perjuangkan. Masih banyak perempuan yang mengatakan saya meninggalkan pekerjaan saya karena ini seharusnya tidak terjadi. Kita harus memberi perempuan upah yang lebih besar," tuntutan para demonstran di London.

Alex Gonzales di Washington mengatakan kepada VOA bahwa demonstrasi tersebut membawa perubahan.

"Kami melihat setelah demonstrasi tahun lalu banyak perempuan memutuskan untuk mencalonkan diri, banyak perempuan yang menang. Kita merebut Alabama yang dikenal sebagai negara bagian merah (pro- Partai Republik) dan mengubahnya menjadi negara bagian biru (pro-Demokrat). Saya kira banyak kaitannya dengan gerakan ini yang sudah berlangsung selama 12 bulan terakhir," katanya.

Senat Amerika telah menambah satu anggota dari Partai Demokrat ketika kandidat Partai Republik di Alabama kalah dalam persaingan bulan lalu untuk memperebutkan kursi tersebut. Kelompok yang menenggelamkan kandidat Partai Republik dalam pemilihan itu adalah perempuan, kaum muda dan pemilih kulit hitam. [my/ii]

XS
SM
MD
LG