Tautan-tautan Akses

Demonstrasi Anti Duterte Berlangsung di Ibukota Filipina


Ribuan demonstran Filipina mengingatkan sesama warga mengenai kemungkinan kembalinya kediktaktoran seperti pada masa rezim Marcos, dalam aksi di Manila, Kamis (21/9),

Ribuan demonstran turun ke jalan-jalan di ibukota Filipina, Kamis (21/9), untuk mengingatkan sesama warga mengenai kemungkinan kembalinya masa kediktaktoran di bawah pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte.

Para demonstran berpawai, mengadakan rapat umum dan menghadiri misa di berbagai tempat di Manila pada hari yang bertepatan dengan hari sewaktu mendiang Presiden Ferdinand Marcos mendeklarasikan negara dalam keadaan darurat pada 1972 dan memulai periode pemerintahan opresif yang berakhir tahun 1981, ketika pergolakan rakyat memaksanya turun jabatan.

Para demonstran mengatakan, Duterte memiliki kecenderungan memimpin secara otoriter seperti Marcos, yang dikaguminya. Duterte memprakarsai penumpasan besar-besaran oleh polisi terhadap peredaran narkoba tidak lama setelah ia menjabat presiden sehingga mengakibatkan ribuan tersangka pengedar narkoba tewas.

Kelompok-kelompok HAM dan sejumlah pemerintah asing mengecam aksi Duterte terkait pemberantasan narkoba itu, namun ia bersikeras mengatakan bahwa ia mendapat dukungan luas di Filipina. Duterte juga mengancam akan memperluas pemberlakuan keadaan darurat yang diterapkan di Filipina Selatan untuk memerangi para pemberontak Islamis. Duterte, Rabu bahkan mengatakan, ia memerintahkan polisi untuk membunuh anak-anaknya jika mereka terlibat narkoba.

Sekelompok besar pendukungnya melangsungkan demonstrasi tandingan di Manila, Kamis. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG