Tautan-tautan Akses

Penjualan Senjata AS ke Saudi dan Dampaknya pada Perdamaian di Timur Tengah


Presiden AS Donald Trump dan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz dalam acara di Riyadh (20/5). Amerika setuju melakukan penjualan besar-besaran senjata bernilai 110 milyar dollar kepada Arab Saudi.
Presiden AS Donald Trump dan Raja Saudi Salman bin Abdulaziz dalam acara di Riyadh (20/5). Amerika setuju melakukan penjualan besar-besaran senjata bernilai 110 milyar dollar kepada Arab Saudi.

Presiden Amerika Donald Trump minggu lalu mengumumkan penjualan besar-besaran senjata bernilai 110 milyar dollar kepada Arab Saudi dalam kunjungannya yang pertama ke luar negeri sejak menjadi presiden bulan Januari lalu.

Para pejabat di Amerika dan Timur Tengah menyambut gembira perjanjian baru ini, konon untuk meningkatkan perlawanan terhadap aksi-aksi ekstremis dan apa yang dianggap sebagai usaha Iran untuk memperluas pengaruhnya di Timur Tengah.

Senator Amerika Chris Murphy mengatakan penjualan senjata itu dirundingkan oleh Jared Kushner, menantu Presiden Trump, yang tidak punya pengalaman apapun dalam hubungan luar negeri ataupun dalam penjualan senjata kepada Arab Saudi.

“Tampaknya pemerintahan Presiden Trump berharap Arab Saudi, yang punya catatan pelanggaran HAM paling buruk di kawasan itu, bisa menjamin perdamaian dan keamanan di Timur Tengah,” kata Senator Murphy dalam sebuah tulisan yang dimuat harian Huffington Post.

Tapi penjualan senjata itu adalah suatu hal yang sangat buruk, kata Murphy lagi. Coba lihat apa yang akan terjadi dengan senjata-senjata yang akan dipasok Amerika itu. Paling atas dalam daftar pembelian Saudi adalah bom-bom pintar atau peluru kendali yang tidak bisa dibeli Arab Saudi ketika Presiden Barack Obama berkuasa.

Kata Senator Murphy, ini bukan karena Presiden Obama tidak mau menjualnya kepada Arab Saudi. Pemerintahan Obama menjual lebih banyak senjata kepada Arab Saudi dalam masa delapan tahun, dibanding dalam pemerintahan Amerika sebelumnya.

Tapi Obama tidak mau menjual bom-bom pintar dan peluru kendali itu karena pemerintah Saudi selama ini menggunakan senjata buatan Amerika untuk menarget sasaran sipil dan kamp-kamp penampungan di Yaman dan menewaskan ribuan penduduk dalam perang saudara di bagian selatan Jazirah Arab itu.

Kini, Yaman sedang berada diambang kelaparan dan penyakit kolera, karena pemerintah Saudi menghancurkan banyak jalan dan jembatan dan menghalangi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Yaman.

Kata Senator Chris Murphy lagi, banyak warga Yaman menjadi radikal dan menyalahkan Amerika karena jatuhnya banyak korban sipil. “Penjualan senjata canggih kepada Arab Saudi itu akan mengakibatkan lebih banyak korban sipil.”

Kata Senator Chris Murphy, banjirnya senjata buatan Amerika itu tidak akan berdampak banyak untuk melawan ISIS dan al-Qaeda, karena Arab Saudi sangat terobsesi untuk melawan Iran, yang dianggapnya sebagai saingan besar di Timur Tengah. Saudi bahkan menuduh Iran berada dibelakang pemberontak Houthi yang berusaha menguasai Yaman.

Kata Senator Murphy, kita harus mempertanyakan apakah terus menyulut proxy war, atau perang tidak langsung antara Arab Saudi dan Iran itu adalah cara terbaik untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah.

Tidak bisa dibantah, tambahnya, bahwa penjualan senjata canggih kepada Arab Saudi akan mendorong Iran untuk memperkuat diri. “Pemerintah Iran tidak akan berdiam diri kalau kita terus menjual senjata kepada musuhnya.”

Kalau Amerika ingin supaya Iran menghentikan program senjata balistiknya, penjualan senjata kepada Arab Saudi hanya akan mendorong perlombaan senjata di kawasan itu. “Kenapa kita harus menjadi peserta aktif dalam konflik regional ini? Dan apa keuntungan kita terus menghidupkan konflik antara kelompok Sunni dan Syiah di Timur Tengah?," tanya Senator Murphy. [ii]

XS
SM
MD
LG