Tautan-tautan Akses

China Perkuat Aliansi Informal dengan Rusia


Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan Presiden China Xi Jinping memasak serabi (pancake) bersama dalam pertemuan bilateral di Vladivostok, Rusia (foto: ilustrasi).

China dan Rusia telah memperkuat hubungan politik, ekonomi dan militer mereka tahun ini, meskipun ada sejarah yang kurang menyenangkan di masa lalu. Kedua negara itu mengatakan mereka membenci apa yang mereka sebut sebagai peningkatan tekanan dari Barat.

Sepanjang tahun ini China dan Rusia telah melangsungkan serangkaian latihan militer dan mengeluarkan pernyataan diplomatik bersama yang ditujukan kepada negara-negara Barat.

Pada 27 November lalu misalnya, duta besar kedua negara di Washington DC menulis esai yang mengkritisi KTT Demokrasi pada 9-10 Desember mendatang karena menciptakan perpecahan di dunia.

China dan Rusia tidak termasuk dalam 110 negara yang diundang dalam forum itu.

Pasukan kehormatan China mengibarkan bendera Rusia dalam upacara penyambutan bagi Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing (foto: dok).
Pasukan kehormatan China mengibarkan bendera Rusia dalam upacara penyambutan bagi Presiden Rusia Vladimir Putin di Beijing (foto: dok).

Vassily Kashin, pakar di Institute of Far Eastern Studies di Russia Academy of Sciences mengatakan Rusia bergantung pada ekonomi industri China yang sangat masif untuk dapat mengekspor gas dan minyak-nya karena aturan lingkungan hidup di Uni Eropa telah memperumit impor energi di sana.

Ditambahkannya, hubungan dua arah kedua negara itu berada di titik terkuat sejak tahun 1950an.

“Yang terpenting adalah kami (China dan Rusia.red) memiliki sikap yang sama mengenai tatanan global, yaitu bahwa kami tidak menyukai tatanan global Amerika. Jadi kemitraan erat ini didasarkan pada oposisi bersama terhadap tatanan global yang dipimpin Amerika,” ujar Kashin.

Negara-negara demokrasi di Barat, dari Amerika hingga Australia, dan di seluruh Eropa telah memperkuat hubungan diantara mereka sendiri tahun ini, di tengah kekhawatiran tentang kebijakan China. Dari bahasa agresif yang digunakan China terhadap Taiwan, tindakan keras terhadap para pembangkang di Hong Kong, atau kebijakan yang menarget kelompok minoritas Muslim di Xinjiang – negara-negara Barat telah mengisyaratkan tentangan mereka terhadap kebijakan garis keras China.

Negara-negara, termasuk di Barat dan sebagian di Asia Tenggara, semakin tidak menyukai pendekatan “diplomasi prajurit srigala” China yang telah membuat Partai Komunis China menjadi semakin vokal dalam mempromosikan pandangan-pandangannya kepada khalayak di luar negeri.

Para pakar mengatakan dalam hubungan luar negeri, China telah menjalankan “taktik yang semakin tegas” untuk “membela secara agresif negara asal mereka,” terutama di dunia maya.

China dan Rusia pada gilirannya berharap akan menghentikan kembalinya kekuatan lunak yang digerakan Amerika dari era kepresidenan George Walker Bush dan Barack Obama ketika negara-negara kecil melihat Amerika sebagai “pemimpin yang lebih dapat diterima” di antara kekuatan besar, ujar Alon Chong, profesor di S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura.

Kekuatan lunak China, tambah Chong, “telah terpukul” karena pernyataan Presiden Xi Jinping yang membuatnya terlihat kuat di dalam negeri, dengan mengorbankan solidaritas dan persahabatan di luar negeri. Ditambahkannya, China melihat Presiden Amerika Joe Biden sebagai “lawan yang sangat tangguh.”

Tahun ini negara-negara Barat telah mengecam China, terutama atas agresi yang dinilai telah dilakukan terhadap Taiwan sebuah pulau yang memiliki pemerintahan sendiri dan diklaim oleh China sebagai bagian dari wilayahnya. Seorang pejabat Amerika juga telah memperingatkan Rusia bulan lalu atas penumpukan pasukannya di dekat Ukraina. [em/pp]

Lihat komentar (4)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG