Tautan-tautan Akses

Cerita di Balik Prestasi Andrea Turk, Musisi Muda Indonesia Juara Lomba Cipta Lagu di Inggris


Andrea Turk, musisi remaja Indonesia pemenang lomba cipta lagu di Inggris (dok: Andrea Turk)

Musisi muda Indonesia, Andrea Putri Turk, berhasil mengharumkan nama bangsa lewat kemenangannya di kompetisi Song Academy - Young Songwriter 2019 di Inggris. Lagu "Who We Are" yang mengangkat lika-liku kehidupan remaja sukses menarik perhatian para juri. Selamat untuk Andrea!

Indonesia kembali berjaya di kancah internasional, kali ini dengan kemenangan penyanyi sekaligus pencipta lagu remaja, Andrea Putri Turk, di kompetisi “Young Songwriter 2019” kategori internasional, yang diadakan oleh organisasi Song Academy di Inggris beberapa waktu lalu.

Semua ini berawal dari keinginan Andrea untuk mengikuti lomba mencipta lagu. Andrea dan sang ayah yang adalah manajernya pun mulai mencari-cari, hingga akhirnya mengetahui tentang kompetisi yang diadakan oleh Song Academy ini.

Andrea Turk, musisi remaja Indonesia pemenang lomba cipta lagu di Inggris (dok: Andrea Turk)
Andrea Turk, musisi remaja Indonesia pemenang lomba cipta lagu di Inggris (dok: Andrea Turk)

Andrea yang memang sudah hobi bermusik sejak berumur sepuluh tahun, lalu mendaftarkan lima lagu karyanya ke kompetisi ini.

“Siapa tahu kalau kepilih kan Alhamdulillah,” cerita Andrea saat dihubungi oleh VOA Indonesia.

Siapa yang menyangka jika empat dari lima lagu Andrea tersebut berhasil masuk ke dalam 30 besar untuk bersaing dengan para pencipta lagu dari seluruh dunia. Ia menjadi satu-satunya peserta yang empat lagunya berhasil tembus.

“My first single, judulnya “Who we are” ternyata masuk ke top 10, and then diumumin top 3 juga masuk lagi,” kata Andrea yang lulus dari SMA Australian Independent School di Pejaten, Jakarta, Desember 2018 lalu.

Andrea lalu memutuskan untuk pergi ke Inggris untuk tampil di acara tersebut dengan tekad untuk memperkenalkan Indonesia ke mata dunia. Penampilan perempuan yang memiliki ayah kelahiran Kroasia dan Ibu berdarah Jawa-Batak ini berhasil membuat orang terkejut, terutama ketika mendengar dirinya harus menempuh perjalanan jauh dari Indonesia untuk mengikuti ajang ini.

“Mereka sangat terkesan melihat kegigihan saya untuk datang, tampil, dan memberikan yang terbaik. Aku rasa itu menunjukkan pandangan yang positif terhadap orang Indonesia. Semoga!” katanya musisi yang mahir bermain piano, gitar dan ukulele ini.

Bakat dan kegigihannya dalam menekuni dunia musik pun berbuah kemenangan dan tentunya pengalaman yang mengesankan.

“Saya sangat menikmatinya. Orang-orangnya juga sangat baik, penontonnya sangat mendukung. Andrea bersyukur banget bisa membanggakan Indonesia,” ujar Andrea yang baru saja lulus SMA Desember 2018 lalu.

Lagu “Who We are” yang telah membawa kemenangan tak lepas dari lika-liku kehidupan remaja yang ia alami.

“’Who We Are’ mengingatkan kita sebagai remaja, bahwa kita perlu bersenang hati dan mengikuti arus (kehidupan), jangan terlalu dipikirin dan harus bisa menerima diri kita sendiri. Tidak apa-apa kalau belum mengerti apa yang tengah terjadi dalam hidup saat ini, asalkan kita bisa menerima diri kita,” jelasnya.

Atas kemenangannnya ini, Andrea mendapatkan seperangkat alat musik studio, termasuk keyboard, album musik dari penyanyi Inggris, Tom Odell yang sudah ditandatangani, juga buku memoir Carole King bertajuk "A Natural Woman" yang juga sudah ditandatangani.

Bakat Andrea dalam bermusik mendarah daging dalam keluarga. Ia adalah keturunan dari kakak kandung mendiang Wage Rudolf Soepratman, pencipta lagu “Indonesia Raya.”

“Aku itu keturunan dari kakak kandungnya ya mbah Ngadini Supratini,” jelas Andrea saat ditanya mengenai silsilahnya.

Talenta Andrea dalam dunia tarik suara mulai terungkap saat mengikuti ajang lomba menyanyi di sekolah ketika berumur sepuluh tahun dan masih duduk di kelas empat sekolah dasar. Andrea yang pada waktu itu membawakan lagu bertajuk “Maybe This Time” dari serial televise “Glee” berhasil menjadi pemenang dan mengalahkan seluruh peserta di sekolahnya.

“Orang-orang menyoraki saya, luar biasa. Habis itu papaku udah deh, ‘yuk, kita les vocal besok,’ jadi Andrea semenjak itu udah les intensif piano sama vokal,” ujar musisi yang juga berprofesi sebagai produser ini.

Selain dukungan dari keluarga dalam bermusik, perempuan yang gemar nonton film dan bahkan membuat film ini juga banyak mengikuti lokakarya di luar negeri yang fokus kepada pembinaan vokal dan penciptaan lagu.

Di usianya yang ke-15 tahun, ia mengikuti program musim panas selama lima minggu di Berklee College of Music. Setahun kemudian ia mengikuti NYU (New York University) Steinhardt songwriting program dan lokakarya vokal kontemporer di New York, dimana ia beruntung bisa bertemu dengan penyanyi Vanessa Williams.

“Dia kasih pendapat mengenai aku dan aku juga tampil di depan dia,” kenang Andrea yang hingga kini sudah mencipta lebih dari 20 lagu ini.

Saat berusia 17 tahun ia kembali mengikuti NYU Steinhardt songwriting program dan program di departemen NYU Tisch Clive Davis Institute of Recorded Music yang diusung oleh Chief Creative Officer SONY Music, Clive Davis.

“Ini merupakan pengalaman yang luar biasa dan aku belajar banyak,” ujar Andrea yang pernah berkolaborasi dengan musisi hip-hop Indonesia, Jayko dalam lagu, “One Love, One Heart,” yang diciptakan untuk presiden Jokowi.

Setelah belum lama ini selesai mengikuti pendidikan mixing dan mastering di ArtSonica di Indonesia, Andrea memutuskan untuk mendalami dunia musik yang sama sekali baru baginya. Ia pergi ke Yogyakarta untuk mendalami alat musik gamelan dan menjadi sinden.

Menurut Andrea, alunan gamelan sungguh mengena di hatinya dan membuatnya selau ingat dengan Indonesia. Ia pun mengaku kagum ketika tahu bahwa musik-musik karya komposer dan pianis asal Polandia, Frederic Chopin, banyak terinspirasi dari gamelan.

“Aku hanya ingin mempelajarinya, karena ini adalah kebudayaan Indonesia yang sangat kental yang kurang diangkat,” kata Andrea yang pernah menjadi penyanyi pembuka untuk kelompok the Chainsmokers saat konser di Jakarta.

Andrea berencana untuk membawa dan menyebarkan warisan budaya Indonesia ini ke Amerika Serikat, dimana ia akan segera memulai kuliah di California Institute of the Arts: CalArts di California tahun 2019 ini.

Hingga kini Andrea sudah merilis satu buah album, bertajuk “Andrea Turk,” dimana ia bekerja sama dengan teman sekaligus mentornya, penyanyi Petra Sihombing, yang memproduksi tiga lagunya. Kini ia tengah menggarap album ke-2nya, dimana ia berkolaborasi dengan musisi-musisi kenamaan, antara lain Dewa Budjana, Eka Gustiwana, dan Iga Massardi.

“Yang belum kesampaian mas Addie MS. Kayaknya tuh keren banget kalau bisa, orchestra bareng dia dan aransemennya dia, pasti keren,” ujar penggemar penyanyi Maggie Rogers ini.

Andrea Turk, musisi remaja Indonesia pemenang lomba cipta lagu di Inggris (dok: Andrea Turk)
Andrea Turk, musisi remaja Indonesia pemenang lomba cipta lagu di Inggris (dok: Andrea Turk)

Rencananya, album ke-2nya ini akan dirilis bulan Agustus, di mana ia juga akan mengadakan konser kecil di bulan yang sama sebelum berangkat ke Amerika. Di Amerika pun Andrea berencana untuk berkarir di Los Angeles dan membuka production house untuk membuka jalan khususnya untuk para musisi bertalenta yang belum terdengar namanya.

“Karena, aku mengalaminya sendiri ketika mengikuti program musim panas. Andrea ke (Amerika) terus nggak kenal siapa-siapa. Kepingin kolaborasi tapi juga nggak tahu mau ngapain. Jadi aku rasa ini akan sangat membantu, khususnya orang-orang berbakat yang belum terdengar. Kita punya banyak sekali artis Indonesia berbakat yang belum terdengar aja suaranya,” tegasnya.

Kuncinya seperti pesan Andrea adalah jangan putus asa dan terus tekun belajar.

“Pastinya harus sabar juga dan pasti hasil akan datang, walaupun itu perjalannya lama dan panjang, hasil itu pasti akan berbuah,” pungkasnya. (di)

Recommended

XS
SM
MD
LG