Tautan-tautan Akses

Cegah Perebakan Virus Corona, Gereja di Sulut dan Sulteng Tiadakan Misa


Deretan bangku kosong dalam Misa pada Minggu sore di Gereja Katolik Santa Maria, Palu, Sulteng. (22/3) (Foto: VOA/Yoanes Litha).

Keuskupan Manado, Sulawesi Utara mengeluarkan imbauan untuk meniadakan kegiatan misa di 72 paroki gereja Katolik yang berada di Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Kebijakan itu diambil untuk mencegah penyebaran virus corona di antara kerumunan orang banyak. 

Sekretaris Keuskupan Manado Pastor Johanis Josep Montolalu kepada VOA hari Minggu (22/3) imbauan yang dikeluarkan tanggal 21 Maret itu menegaskan seluruh kegiatan yang mengumpulkan umat di 72 Paroki gereja Katolik yang tersebar di Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo ditiadakan hingga 4 April mendatang. Kegiatan itu meliputi Perayaan Ekaristi, Jalan Salib, Ibadat sabda, Pengakuan Dosa dan latihan-latihan lainnya. Kebijakan itu diambil untuk mencegah penyebaran virus corona.

“Nah sadar akan peluang penyebaran dari virus corona ini di tempat-tempat keramaian, maka pihak gereja mengambil kebijakan mulai hari ini 22 Maret sampai dengan 4 April semua kegiatan kebersamaan seperti itu langsung ditiadakan,” kata Pastor Johanis dihubungi dari Palu.

Misa Perayaan Ekaristi oleh Keuskupan Manado pada minggu pagi disiarkan secara live streaming dan radio lokal di Manado.

Silvester Tangkau (56) umat gereja Katolik Bunda Maria Penolong Abadi di Beteleme Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah menilai kebijakan itu tepat diantara kekhawatiran penyebaran wabah virus corona, meskipun hingga kini belum ada satupun kasus positif corona terhadap manusia di Sulawesi Tengah.

“Sebagai umat saya setuju dan saya menerima itu dengan positif dengan kata lain gereja mau bersama-sama dengan pemerintah untuk mengantisipasi virus ini tidak menyebar ke umat begitu,” kata Silvester warga Beteleme.

Umat yang melakukan cuci tangan sebelum mengikuti misa di Gereja Katolik Santa Maria Palu (22/3/) (Foto: VOA/Yoanes Litha).
Umat yang melakukan cuci tangan sebelum mengikuti misa di Gereja Katolik Santa Maria Palu (22/3/) (Foto: VOA/Yoanes Litha).

Sementara di Gereja Katolik Santa Maria Palu kegiatan misa pada Minggu sore masih dilaksanakan, meskipun umat yang hadir tidak mencapai 60 orang dari daya tampung gereja yang mencapai 1.200 orang. Pastor Joy Derry mengatakan belum seluruh umat mengetahui adanya imbauan itu.

Meskipun tetap memberikan pelayanan misa pada hari itu, gereja memberlakukan sejumlah aturan yaitu umat diwajibkan untuk mencuci tangan serta pemberian hand sanitizer sebelum memasuki gedung gereja. Umat juga diimbau untuk menjaga jarak satu sama lain dengan duduk berjauhan. Homili atau khotbah diisi dengan informasi dan edukasi untuk pencegahan penyebaran virus corona.

“Kita sudah sosialiasikan ke tengah umat bersama dengan pastor paroki tetapi masih ada umat yang belum terjangkau dengan medsos (media sosial) dan masih ada sebagian kecil yang datang ke gereja,” jelas Joy Derry.

Gereja Katolik Santa Maria di Palu, Sulawesi Tengah (Foto: VOA/Yoanes Litha).
Gereja Katolik Santa Maria di Palu, Sulawesi Tengah (Foto: VOA/Yoanes Litha).

Langkah serupa juga diambil oleh Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang berpusat di Tentena Kabupaten Poso yang meniadakan kegiatan kebaktian minggu di 420 gereja dengan jumlah 528 ribu jemaat. Dalam surat seruan penggembalaan menyikapi penyebaran virus corona yang dikeluarkan pada 21 Maret, Majelis Sinode GKST menegaskan kegiatan ibadah yang menghimpun warga jemaat baik ibadah minggu dan jenis kegiatan ibadah lainnya untuk sementara tidak dilaksanakan secara terpusat tetapi di rumah masing-masing.

Pendeta Ronald Monsiangi dari Gereja GKST Jemaat Baithani Madale di Poso Kota Utara Kabupaten Poso mengakui pihaknya baru mendapat informasi pada Minggu pagi sehingga ibadah tetap dilaksanakan, namun pada minggu mendatang kegiatan ibadah sudah akan dilakukan di rumah-rumah jemaat.

Cegah Perebakan Virus Corona, Gereja di Sulut dan Sulteng Tiadakan Misa
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:39 0:00


“Tidak lagi dilaksanakan di gedung gereja tetapi jemaat akan diarahkan untuk ibadah di rumah-rumah. Jadi peserta ibadah diupayakan maksimal 15 orang artinya diperhitungkan kira-kira 3 kepala keluarga yang berkumpul kemudian mereka ibadah jam 9 pagi,” ujarnya.

Ronald menyatakan pihaknya terus mengimbau jemaat untuk mengikuti perkembangan informasi terkait virus corona serta mematuhi anjuran dari pemerintah untuk mencegah penyebaran penyakit yang sudah dinyatakan sebagai pandemi global itu. [yl/em]

Lihat komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG