Tautan-tautan Akses

Terapi 'CBT' Lebih Efektif bagi Perempuan Penderita Depresi pasca Kekerasan Seksual


Para mahasiswa fisioterapi India melakukan unjuk rasa menuntut dihentikannya kekerasan seksual terhadap perempuan dalam aksi di New Delhi (foto: ilustrasi).

Terapi singkat dan murah berdasarkan perilaku kognitif, atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT) lebih efektif daripada terapi tradisional, dalam membantu perempuan yang mengalami depresi atau kecemasan, setelah mengalami kekerasan seksual. Diperkirakan, lebih dari sepertiga perempuan di seluruh dunia terkena kekerasan semacam itu.

Terapi itu dikembangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu orang yang menghadapi kesulitan, dan terbukti efektif dalam membantu orang-orang Pakistan yang menderita secara emosional karena terkena aksi teroris .

Dalam studi terbaru ini, psikolog Richard Bryant dari Universitas New South Wales di Sydney, Australia, menangani 421 perempuan di Nairobi, Kenya, dengan lima sesi program baru yang dikelola oleh pekerja kesehatan awam, atau "perawatan biasa yang disempurnakan" ditangani oleh perawat.

Mendapat perawatan bisa mahal, berbahaya, dan memakan waktu lama . Jadi perawatan singkat tidak hanya berarti program akan lebih murah, tapi juga memudahkan pasien untuk menjalaninya.

Bryant berharap upaya ini bisa diperluas.

"Sebagian besar orang tidak mendapat perawatan masalah kesehatan mental berdasarkan bukti yang ada. Jadi, dari perspektif kesehatan mental global, ada kebutuhan mendesak untuk mengubah cara berpikir bagaimana kita memberikan perawatan, tanpa mengandalkan spesialis," tutur Bryant.

Salah satu kesulitan dalam membantu orang-orang yang terkena kekerasan seksual adalah menemukan mereka. Perkosaan dan pelecehan membawa stigma berat, dan bisa membahayakan bagi perempuan yang melaporkannya. Jadi, program tersebut tidak disebut sebagai kekerasan berdasar gender. Peneliti mencari perempuan dengan gejala kecemasan dan depresi. Namun selama perawatan, mereka mendapati bahwa empat dari lima peserta telah mengalami setidaknya beberapa bentuk kekerasanseksual, dari pasangan intim mereka, namun juga perkosaan dan kekerasan seksual lainnya.

"Saya pikir ketika kita pergi ke banyak tempat di mana kita tahu bahwa kekerasan seksual dan bentuk kekerasan lainnya sangat umum, kita dapat membantu orang-orang ini meringankan banyak masalah kesehatan mental mereka dengan cara yang efektif," imbuh Bryant.

Setelah penelitian terbaru ini, yang diterbitkan hari Selasa di PLOS Medicine, WHO akan mulai lebih luas menyebarkan perawatan ke daerah-daerah yang punya sedikit prasarana kesehatan mental. [ps/ii]

XS
SM
MD
LG