Tautan-tautan Akses

Cara Uber Raih Kembali London: Data, Denda dan Biaya


Foto ilustrasi menunjukkan aplikasi Uber di sebuah ponsel di London pusat, Inggris, 22 September 2017.(Foto:Dok)

Jika melihat sejarah, Chief Executive Uber Technologies yang baru Dara Khosrowshahi kemungkinan akan menjanjikan berbagi data dan membayar denda serta biaya saat ia duduk bersama pejabat London untuk menegosiasikan masa depan layanan taksi daring di salah satu pasar terpentingnya.

Dari Filipina ke Portland, Oregon, strategi tersebut terbukti berhasil untuk perusahaan San Francisco.

Para pejabat transportasi London bulan lalu menganggap Uber tak layak untuk beroperasi karena lemahnya tanggung jawab korporat. Langkah tersebut mengancam pasar utama Uber di saat Khosrowshahi berusaha menyelamatkan reputasi perusahaan setelah serangkaian skandal.

Khosrowshahi telah memberikan tanggapan publik yang kontroversial yaitu dengan membuat permintaan maaf terbuka kepada masyarakat London "atas kesalahan yang telah kami buat." Ini adalah langkah yang tidak biasa bagi Uber. Ia juga memiliki dukungan dari konsumen lokal sebagai amunisi: lebih dari 840.000 warga London telah menandatangani sebuah petisi yang mendesak kota untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

Khosrowshahi dijadwalkan bertemu dengan Komisioner Transportasi untuk London Mike Brown pada Selasa hari ini.

Apabila tercapai kesepakatan, ini akan menjadi kemenangan besar bagi pemimpin Uber yang baru. Mendapatkan biaya tambahan atau data baru mengenai pengemudi bisa menjadi kemenangan bagi Walikota Khan, kritikus Uber dan kepala regulator.

Uber telah bersedia membayar denda dan mulai mengenakan biaya dalam berbagai sengketa setempat di seluruh dunia. Tapi saat ditekan, pihaknya juga telah menutup layanannya di beberapa pasar untuk memprotes tindakan yang menurutnya memperlambat layanan bagi pelanggan atau menghalangi perekrutan pengemudi. Baru-baru ini seperti minggu lalu, Uber mengatakan akan menarik diri dari Quebec dari pada menyetujui 35 jam pelatihan untuk driver.

Karyawan Uber saat acara peluncuran taksi Uber, 11 Mei 2017 di Yangon, Myanmar.(Foto:Dok)
Karyawan Uber saat acara peluncuran taksi Uber, 11 Mei 2017 di Yangon, Myanmar.(Foto:Dok)

Kesepakatan Data

Uber sering kali digambarkan sebagai perusahaan 'data yang besar' yang tumbuh karena bisa mencocokan kebutuhan konsumen dengan ketersediaan pengemudi, memperkirakan dimana kendaraan-kendaran akan dibutuhan dan secara dinamis menyesuaikan biaya sesuai dengan permintaan.

Walaupun perusaan ini tidak suka berbagi informasi karena alasan privasi dan bisnis, memberikan akses data terbatas mampu menyelesaikan sengketa di beberapa kota.

Misalnya, ketika Walikota New York mencoba membatasi jumlah kendaraan Uber untuk mengurai kemacetan, perusahaan tersebut merilis data yang membantu menunjukkan bahwa kepadatan lalu lintas akan terus terjadi dan setuju untuk terus memberikan data seperti lokasi serta waktu penjemputan.

Uber menolak berkomentar mengenai taktik tawar-menawar dalam pembicaraan di London. Dikatakan bahwa ia ingin bekerja sama dengan Kota London "untuk memperbaiki keadaan."

Tidak ada kepastian kesepakatan, dan kedua belah pihak tidak menggambarkan Selasa sebagai sebuah negosiasi. Tapi dengan taruhan sedemikian tinggi -- 3,5 juta pelanggan yang diraup dengan harga yang terjangkau dan kenyamanan telah membuat London menjadi pasar terbesar di Eropa untuk Uber – rasanya masuk akal bila ada kesepakatan untuk kedua belah pihak.

"Walikota hanya ingin menunjukkan beberapa tindakan yang diambil kepada konstituennya yang kecewa dengan uber," kata Bruce Shaller, seorang mantan pegawai transportasi New York City yang telah menulis sebuah buku tentang layanan transportasi berbasis aplikasi daring. " Transportasi untuk London akan terlihat tidak masuk akal membiarkan Uber pergi." [aa/fw]

XS
SM
MD
LG