Tautan-tautan Akses

Biayai Stimulus Covid-19, Jerman Lampaui Batas Anggaran Berimbang Tahun Depan


Kanselir Jerman Angela Merkel memimpin rapat kabinet di Berlin (foto: dok).

Jerman sekali lagi terpaksa mengabaikan kebijakan anggaran berimbangnya pada tahun 2021 untuk membiayai bantuan stimulus besar-besaran dalam menghadapi keterpurukan ekonomi akibat pandemi COVID-19, kata menteri keuangan Jerman, Rabu (23/9).

Perekonomian terbesar Eropa itu berencana meminjam 96,2 miliar euro ($112 miliar), melampaui batasan utang yang diatur secara konstitusional, di tengah "situasi luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah," kata Olaf Scholz setelah kabinet menyetujui anggarannya.

"Kami bertindak tegas, bahkan jika menghabiskan banyak biaya - tidak melakukan apa-apa akan jauh lebih mahal bagi negara kita," Olaf menambahkan. Scholz, yang juga mencalonkan diri untuk menggantikan Kanselir Angela Merkel dalam pemilu tahun depan, berharap akan dapat memulihkan kebijakan anggaran berimbang pada tahun 2022. Di tengah pandemi ini, Jerman memiliki dana cukup besar, menyusul surplus yang diperoleh dalam beberapa tahun dan tingkat pengangguran yang rendah.

Akan tetapi peluang pemerintah untuk melakukan manuver keuangan seperti itu semakin kecil, karena penerimaan pajak akan berada jauh dari perkiraan akibat pukulan keras yang diderita ekonomi. "Kami tidak akan dapat menabung selama krisis," kata Scholz. Anggaran yang disepakati oleh kabinet Rabu (23/9) minggu ini jika dibandingkan dengan rencana sebelumnya, maka pengeluaran tahun depan bertambah sekitar 47 miliar euro, dan total 91 miliar euro pada tahun 2024.

Pembiayaan Ekonomi Melalui Kredit

Dampak pandemi yang menghancurkan memaksa pemerintahan Merkel meninggalkan sasarannya untuk mencapai anggaran berimbang tanpa disertai pinjaman baru, sebuah kebijakan yang dijalankan pada puncak krisis keuangan tahun 2009.

Tertuang di dalam konstitusi, batas utang yang tidak terlalu ketat membatasi defisit anggaran pemerintah federal sebesar 0,35 persen dari PDB.

Keengganan Jerman untuk membelanjakan lebih banyak uang menciptakan kekhawatiran bagi sekutu-sekutunya, termasuk Perancis, yang berulang kali mendesak ekonomi utama Eropa itu untuk melakukan investasi lebih banyak dan merangsang pertumbuhan ekonomi di blok tersebut. Dihadapkan dengan pandemi, pemerintahan Merkel akhirnya mengalah.

Berlin akan meminjam 218 miliar euro tahun 2020, karena koalisi yang dipimpin Merkel telah menjanjikan bantuan lebih dari satu triliun euro untuk melindungi perusahaan dan pekerja Jerman dari dampak COVID-19, baik dalam bentuk pinjaman, hibah, maupun program dengan jam kerja pendek yang bersubsidi. Prioritas anggaran itu mencakup perlindungan kesehatan, bantuan ekonomi dan ketersediaan lapangan pekerjaan, Scholz menjelaskan lebih jauh. Tahun ini utang akan naik menjadi 75 persen dari produk domestic bruto (PDB), jauh di atas batas Uni Eropa sebesar 60 persen. Belanja ekstra ini telah mengkhawatirkan pihak-pihak tertentu, dan partai oposisi FDP yang pro-bisnis Jumat lalu mengkritik rencana belanja Scholz dan menuduhnya melakukan itu untuk meraih dukungan menjelang pemilihan umum tahun depan.

"Kami tidak dapat membiayai ekonomi terus-menerus dengan kredit," Christian Duerr dari FDP menegaskan. Perekonomian Jerman relatif berkembang dengan baik selama pandemi dibandingkan tetangga-tetangganya di Eropa, meskipun diperkirakan akan menyusut sebesar 5,8 persen pada tahun 2020, penurunan paling tajam dalam sejarah pasca

perang. Kementerian keuangan Jerman memperkirakan ekonomi akan pulih 4,4 persen pada tahun 2021. [mg/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG