Tautan-tautan Akses

Bekas Pengungsi Afghanistan Gunakan ‘Telemedicine’ untuk Selamatkan Nyawa


Dr Waheed Arian menggunakan "telemedicine" yang dilakukannya dari Inggris untuk membantu pengobatan di Afghanistan (foto: ilustrasi).

Seorang bekas pengungsi Afghanistan yang kemudian berprofesi sebagai dokter di Inggris menggunakan teknologi dan internet untuk menyelamatkan jiwa di di negara-negara miskin dan dikoyak perang. Ketika Waheed Arian datang ke Inggris dari Afghanistan dua puluh tahun lalu, pada usia 15 tahun, orang-orang mengatakan kepadanya bahwa dia mungkin akan menjadi supir taksi atau pekerja restoran.

Tapi bekas pengungsi ini punya ambisi lain.

“Setelah mengalami penderitaan karena perang selama 15 tahun di Afghanistan, bersembunyi dari roket, bom dan penembakan mematikan, dan juga tinggal tiga tahun di kamp pengungsi, menderita malaria dan tuberkulosis… keinginan saya untuk menjadi dokter tumbuh sejak kecil,” tuturnya.

Arian mengikuti panggilan jiwanya dan kini menjadi dokter praktik di RS Universitas Aintree di Liverpool. Dr. Arian kemudian mendirikan sebuah organisasi amal bernama Arian Teleheal Charity.

Organisasinya memanfaatkan kecanggihan teknologi video dan internet untuk membantu para dokter dan pasien di negara asalnya. Seperti John Curtis, seorang konsultan radiologi RS Universitas Aintree, yang memberikan konsultasi jarak jauh kepada Najib Suhraby, seorang dokter di RS Wazir Akbar Khan di Kabul.

Dengan Skype atau Facetime, para dokter relawan seperti Curtis bisa mendiagnosa pasien dan menasihati para dokter di tempat-tempat yang sulit terjangkau seperti zona perang atau negara-negara miskin yang tidak memiliki perangkat medis yang memadai.

“Di negara dengan insfrastruktur, bantuan atau pakar yang kurang memadai, kita bisa membuat perbedaan besar dengan jangka waktu yang pendek.”

Di RS Wazir Akbar Khan di Kabul tengah, Dokter Najib Suhraby mengatakan pengobatan jarak jauh bermanfaat bagi penyedia layanan kesehatan dan pasien.

“Sangat mudah menghubungi mereka dan melakukan konsultasi dengan pasien lewat pengobatan jarak jauh,” kata Najib.

Bagi Mazharuddin, ayah dari seorang pasien di RS itu, pengobatan jarak jauh sangat bermanfaat. “Memudahkan kami sehingga tidak perlu ke luar negeri dan menghemat waktu,” ujarnya.

Arian mengatakan layanan itu kini digunakan di hampir ke-14 unit perawatan intensif di Afghanistan. Dan juga digunakan di kota Aleppo, Suriah yang dikoyak perang, dan diperluas ke beberapa bagian Afrika untuk menjembatani kesenjangan antara para dokter dan pasien – bahkan di tempat-tempat yang paling terisolasi dan sulit dicapai. (vm)

XS
SM
MD
LG