Tautan-tautan Akses

Batik dan Scarf di Jumpa Pers Covid-19 Curi Perhatian Warganet


Koordinator Gugus Tugas Penanganan Virus Corona AS Dr. Deborah Birx dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr. Achmad Yurianto dalam kolase. (Foto: Courtesy/BNPB dan Instagram@deborahbirxscarves)

Sudah hampir dua bulan warga di berbagai belahan dunia terbiasa menyimak informasi tentang perkembangan terbaru penanganan pandemi virus corona lewat beragam media elektronik dan media sosial. Di Indonesia, antara pukul 3 hingga 4 WIB, juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr. Achmad Yurianto tampil di televisi yang disiarkan langsung secara nasional,

Ia tidak saja menyampaikan informasi tentang jumlah warga yang terjangkit, sembuh dan meninggal, atau soal kapasitas uji medis dan bantuan yang masuk; tetapi juga isu-isu terkait lainnya, seperti dampak ekonomi dan distribusi bantuan sosial.

Masyarakat Indonesia menjadi 'akrab' dengan sosok Pak Yuri -panggilan akrab dokter berusia 58 tahun ini-, sehingga banyak mengundang tanggapan dari warganet. Berbagai komentar bermunculan, tak hanya mengenai isu-isu yang disampaikan, namun kini mulai merambah ke kemeja batik yang dikenakan Pak Yuri.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr. Achmad Yurianto dalam kolase. (Foto: Courtesy/BNPB)
Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 dr. Achmad Yurianto dalam kolase. (Foto: Courtesy/BNPB)

“Wah hari ini motif corona,” ujar seorang netizen di YouTube ketika melihat kemeja batik berwarna oranye dengan motif bola-bola berduri. “Ah kenapa hari ini Pak Yuri pakai kemeja putih, bukan batik,” tulis lainnya dengan nada protes.

Di balik puluhan kemeja batik yang dikenakan tokoh kelahiran Malang ini, ada sosok sang istri yang bernama Dwiretno Yuliarto. Dwiretno secara telaten membeli kain batik dan menjahitkannya.

“Makanya tidak ada di pasaran,” ujar Yurianto dengan bergurau ketika dihubungi VOA melalui telpon Sabtu sore, sesaat setelah memberikan keterangan pers. “Istri saya bahkan yang kreatif membuatkan masker dari kain-kain batik sisa jahitannya,” tambahnya.

Batik Menteri di Malaysia Juga Jadi Sorotan Netizen

Kemeja batik juga menjadi perhatian di Malaysia seiring kegemaran Menteri Kanan (Kluster Keselamatan) Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob dalam mengenakannya.

Kantor berita Bernama melaporkan Menteri Yaakob kerap mengenakan kemeja batik bercorak ketika konferensi pers harian tentang Perintah Kawalan Pergerakan PKP, semacam Pembatasan Sosial Berskala Besar di Indonesia.

“Ia menjadi inspirasi kreativiti netizen yang memuat naik kompilasi kemeja batik beliau, yang disamakan dengan pelbagai juadah tempatan dan hidangan minuman yang menyelerakan,” tulis Bernama hari Jumat (1/5).

“Kreatif betul warganet. Baju saya dah jadi kueh-mueh (makanan pembuka.red). Saya ingat saya jadi model batik Malaysia je. Rupa-rupanya jadi model kueh dan ice cream pulak,” ujarnya bergurau di Facebook. Statusnya itu menarik lebih dari 600 komentar bernada positif.

Warga AS Jatuh Cinta pada Dr. Brix dan Scarf-nya

Jika di Indonesia dan Malaysia, kemeja batik yang ikut menjadi sorotan warga selain isu corona, di Amerika lain lagi. Warga jatuh cinta pada koordinator Gugus Tugas Penanganan Virus Corona Dr. Deborah Birx dan scarf yang dikenakannya.

Koordinator Gugus Tugas Penanganan Virus Corona AS, Dr. Deborah Birx dalam kolase. (Foto: Courtesy/Instagram@deborahbirxscarves)
Koordinator Gugus Tugas Penanganan Virus Corona AS, Dr. Deborah Birx dalam kolase. (Foto: Courtesy/Instagram@deborahbirxscarves)

Beragam motif dan warna scarf atau selendang yang dililitkan di leher atau disampirkan di bahunya ketika menyampaikan informasi pada publik, membawa fenomena pop kultur ke Gedung Putih.

Kantor berita Reuters melaporkan bagaimana seorang warga Texas, Victoria Strout, satu dari jutaan warga lainnya yang memperhatikan scarf Birx, membuat akun Instagram @deborahbirxscarves beberapa minggu setelah kehadirannya secara reguler untuk memberikan keterangan pers. Akun itu kini memiliki lebih dari 30 ribu pengikut atau followers.

Instagram@deborahbirxscarves. (Foto: Courtesy/Instagram)
Instagram@deborahbirxscarves. (Foto: Courtesy/Instagram)

Strout, yang bekerja di perusahaan lisensi musik berharap akun yang menghadirkan foto-foto Birx dan scarf-nya, memberi kesempatan “jeda sejenak” dari pemberitaan pandemi virus corona yang tak kunjung berkesudahan dan sekaligus 'perayaan' terhadap kehadiran sosok Dr. Birx.

Ia adalah sosok yang selama tiga puluh tahun telah memusatkan perhatian pada HIV/AIDS, penelitian vaksin dan kesehatan global.

“Ini adalah kombinasi dari orang-orang yang mengagumi Dr. Birx dan juga menyukai scarf,” ujar Strout. “Ini semacam menciptakan komunitas kecilnya sendiri, yang benar-benar menyenangkan dan benar-benar tidak saya perkirakan sebelumnya.” [em/ah]

XS
SM
MD
LG