Tautan-tautan Akses

AS Konfirmasi Laporan Sedikitnya 1.500 Demonstran Tewas di Iran


Sebuah jalan diblokir oleh para demonstran sebagai reaksi atas keputusan pemerintah Iran menaikkan harga BBM, di Tehran, Iran, Sabtu, 16 November 2019.

Amerika Serikat telah mengkonfirmasi laporan berita yang menyebut sekitar 1.500 orang tewas akibat tindak kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap serangkaian demonstrasi anti-pemerintah bulan lalu.

Laporan beritu itu mengutip keterangan sejumlah pejabat Iran yang tidak disebut namanya.

Dalam sebuah laporan yang dipublikasikan pada Senin (23/12), kantor berita Reuters mengatakan pihaknya memperoleh data jumlah korban tewas itu dari tiga pejabat Kementerian Dalam Negeri. Menurut para pejabat tersebut jumlah korban tewas ‘’sedikitnya 17 remaja dan sekitar 400 perempuan, serta sejumlah anggota pasukan keamanan dan polisi.’’

Departemen Luar Negeri Amerika dalam cuitannya di Twitter, Senin (23/12), mengutip Perwakilan Khusus Amerika Untuk Iran, Brian Hook, mengatakan laporan Reuters ‘’menggarisbawahi urgensi bagi masyarakat internasional untuk menghukum para pelaku dan mengisolasi rezim Iran atas pembunuhan1.500 warganya.’’

Jumlah korban tewas yang dilaporkan Reuters jauh lebih besar dibanding jumlah korban tewas yang dilaporkan kelompok HAM Amnesty International pada 16 Desember lalu. Dalam laporannya, Amnesty International mengatakan telah mendokumentasikan pembunuhan sedikitnya 304 demonstran oleh pasukan keamanan Iran dalam kerusuhan selama beberapa hari, yang mencapai puncaknya pada 15 November.

Rujukan Hook pada ‘’pembunuhan 1.500 warga Iran’’ itu juga menandai peningkatan substansial dalam penilaian yang dilakukan pemerintah Trump terhadap jumlah orang yang tewas dalam aksi kekerasan di Iran.

Dalam penjelasan singkat pada wartawan tanggal 5 Desember lalu, Hook mengatakan tampaknya pemerintah Iran ‘’telah membunuh lebih dari seribu warga Iran sejak demonstrasi terjadi.”

Kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, mengutip seorang pejabat di Dewan Keamanan Nasional Tertinggi SNSC sebagai mengatakan laporan Reuters merujuk pada kematian 1.500 orang itu merupakan “berita palsu.’’

“Klaim-klaim ini didasarkan pada perang psikologis yang sudah direncanakan sebelumnya dan kurang kredibilitasnya,” ujar Alireza Zarifian Yeganeh, menggemakan bantahan Iran sebelumnya atas laporan-laporan Barat tentang jumlah korban dalam sejumlah aksi demonstrasi bulan lalu. [em/pp]

XS
SM
MD
LG