Tautan-tautan Akses

Aktivis Desak Yunani Bebaskan Anak-anak Migran


Seorang migran Afghanistan bersama dua anaknya saat tiba di Pulau Lesbos, Yunani (foto: dok).

Para aktivis HAM mendesak pemerintah Yunani untuk membebaskan 276 anak-anak migran tanpa pendamping dari tahanan polisi. Human Rights Watch menyampaikan desakan itu dengan mengatakan berlanjutnya penahanan terhadap anak-anak itu merupakan pelanggaran hukum lokal dan internasional.

Pada bulan November lalu, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis meluncurkan kampanye ambisius, berjanji untuk tidak membiarkan anak migran tanpa perlindungan. Pada bulan-bulan berikutnya, ratusan anak migran yang terperangkap di Yunani hingga satu tahun, telah dimukimkan di jantung Eropa itu berkumpul kembali dengan keluarganya. Tetapi berita mengenai pengalaman mereka tidak menghentikan lebih banyak lagi migran menuju negara itu dari Turki.

Kini kelompok internasional Human Rights Watch memperingatkan lebih banyak anak di bawah umur yang ditahan di balik jeruji besi di Yunani daripada ketika Mitsotakis membuat janji "Tidak ada anak yang dibiarkan sendirian", sehingga jumlah anak migran yang ditahan menjadi hampir 300.

Eva Cosse, aktivis "Human Rights Watch" mengatakan semua anak di bawah umur itu ditahan di sel-sel polisi dan pusat-pusat penahanan tanpa alasan, karena kamp-kamp pengungsi di seluruh negeri itu masih penuh sesak. Aktivis itu mengatakan kepada VOA kondisi seperti itu membuat anak-anak migran jauh lebih rentan.

“Mereka ditahan di pusat penahanan polisi yang kotor, biasanya di ruang bawah tanah kantor polisi tanpa jendela, tanpa fasilitas bersih. Terkadang mereka ditahan bersama orang dewasa, sehingga mereka berisiko dieksploitasi dan mengalami pelecehan,” ujarnya.

Badan pengungsi PBB telah menyampaikan keprihatinan yang sama, terutama karena arus pengungsi tahun lalu melonjak hampir 300 persen mencapai 60.000 orang, dua kali dari jumlah yang berhasil menyelinap ke Yunani pada tahun 2018. Namun sejak itu, arus masuk telah menurun drastis sebagian besar karena peningkatan patroli di sepanjang perairan Agea yang memisahkan Yunani dari Turki.

Kedua negara juga telah menutup perbatasannya untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19, sehingga semakin sulit bagi penyelundup untuk menyelinap ke Yunani, negara anggota UE. Tetapi fakta-fakta suram tentang migran di bawah umur tetap mengejutkan. Statistik negara dan PBB menunjukkan jumlah mereka di Yunani, 5.000 orang, dua kali lipat jumlah dua tahun lalu. Hanya satu dari lima yang tinggal di fasilitas khusus yang aman.

Mayoritas sisanya tinggal di kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak di mana hanya satu dari lima tinggal di fasilitas khusus yang aman. Sebagian besar tinggal di kamp-kamp pengungsi yang penuh sesak di mana sejumlah anak mengatakan telah digigit oleh kalajengking, tikus dan ular, dan dimangsa oleh geng-geng penjahat terorganisir dan pedagang seks. Yang paling mengkhawatirkan, pekerja bantuan memperingatkan, seperlima dari anak di bawah umur yang tercatat sejak memasuki daerah tersebut telah hilang, tanpa meninggalkan jejak.

Pejabat Migrasi Yunani yang dihubungi oleh VOA di Athena tidak bersedia berkomentar. Tetapi dengan meredanya krisis virus, dan Yunani, seperti halnya negara-negara lain, melonggarkan pengawasan perbatasannya, para ahli khawatir arus migrasi akan kembali melonjak lagi, dan memperburuk kondisi, terutama bagi anak-anak. [ps/ii]

Lihat komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG